Pisah Ranjang

by | | 0 comments
Jam segini (saat ini jam di pojok kanan bawah netbook menunjukan pukul 22:24), memang jamnya rawan kangen. Saya juga lagi kangen sisuami, dan si cikalAisyah. kemanakah gerangan mereka?

Mereka masih berada di satu rumah sama saya, kok. Tapi mereka berdua tidur di kamar orang tua saya di lantai bawah. Dan saya tidur di kamar saya di lantai atas bersama si bungsu, Rafa. Lagi berantem? Masalah rumah tangga?

Ya kagaklah.

Jadi, alhamdulillah kedua orang tua saya diberikan kesempatan berangkat ke tanah suci tahun ini. Saya sih sebenarnya sekarang tinggal di rumah mertua, tapi berhubung adik saya satu-satunya sendirian di rumah selama orang tua saya berhaji, jadilah saya bertugas jadi satpam. Kasian dia kalau pulang kerja malam-malam ke rumah yang sepi dan gelap. Bisi cirambay.

Nah, kamar saya di rumah orangtua saya ini termasuk kamar yang mungil. Soalnya kamar ini memang saya gunakan sejak jaman sebelum menikah dulu. Ga muatlah kalau buat dipake tidur berempat. Dan mungkin karena kamarnya lebih kecil, maka anak-anak saya kalau tidur sekamar suka nggak nyenyak.
Si adik sering susah tidur karena terganggu suara kakaknya yang kaya Jeng Kelin, dan si kakak suka rewel kalau kebangun malam oleh tangisan adiknya yang mirip suara Shinchan.

Jadilah, demi kelegaan dan kenyamanan tidur kami berempat, saya dan suami sepakat 'pisah ranjang' sementara. Saya dengan si bungsu, karena dia masih ASI, dan sisuami dengan si cikal. Ada hari dimana kedua anak kami alhamdulillah bisa tidur dengan tenang, sehingga kami bisa tidur sekamar dan seranjang. Sempit, sih. Tapi mayanlah bisa curi-curi peluk *eh*.

Anyway, ya itulah. Akhirnya malam-malam begini saya sering kangen sama suami dan si sulung. Kadang kalau sudah begini, nunggu si bungsu kebangun, lalu memboyongnya pindah kamar. Atau sebaliknya, sisuami dan si cikal yang nyamperin saya dan si bungsu.

Tapi ada hikmahnya juga, sih, kayak begini. Misalnya lagi ga bisa tidur gini saya jadi bisa ngeblog. Dan semenjak 'pisah ranjang' ini, saya dan suami jadi punya kebiasaan baru. SMSan yang isinya kangen-kangenan. Hihihi.

Galau Lagi

by | | 0 comments
Ga baik miara galau. Katanya, orang yang galau melulu ga bakal maju-maju karena cuma mikirin masalah yang itu-itu juga. Contoh sederhananya, orang yang galau karena masih mikirin mantan, tentu bakal susah dapet pacar baru. Soalnya tiap ada yang ngedeketin pasti dibandingin sama mantannya.

Tapi kita disini bukan untuk membicarakan mantan, Ibu-ibu (dan Bapak-bapa, serta Adek-adek dan Kakak-kakak). Tapi untuk membicarakan kegalauan saya sebagai seorang emak-emak yang anaknya sulungnya sudah berusia tiga tahun lebih. Galau memilih pre-school. Dan galau ini datang dan pergi. Ini sudah galau yang ketiga kali. Jadi begini ceritanya.

Galau pertama adalah saat si sulung berusia dua tahun. Sekolahin jangan ya? Tapi kemudian saya memutuskan ga disekolahin dulu,karena masih terlalu kecil.

Galau kedua, saat saya hamil anak kedua. Waktu itu usia kandungan saya sekitar 5 bulan. Kayaknya ide bagus buat mulai menyekolahkan si sulung.Sudah pernah trial di dua tempat, tapi baik saya maupun si anak rupanya kurang sreg.

Galau ketiga, sekarang ini. Setelah si bungsu berusia tiga bulan. Dari hasil pegamatan mendalam *taelah* dan konsultasi sama tante yang emang praktisi PAUD, kayaknya memang sudah perlu, sih si sulung sekolah. Galaunya adalah memilih sekolah mana yang tepat.

Saya ingin pre-school yang Islami, karena saya percaya menanamkan - minimal memperkenalkan - agama pada anak itu penting. Dan ga kalah penting adalah sekolah itu bisa membantu memahami kekurangan dan kelebihan anak saya, dan menggali karakter serta potensi si anak. Jadi ada sesi konsultasi ortu-guru dan buku penghubung is a must. Selain itu kualitas guru dan pendamping tentu penting. Soal bahasa sih saya nggak masalah mau bilingual atau nggak, yang penting komunikasi guru dengan murid berjalan lancar.

Rewel? Kayanya wajar, ya. Saya pikir pre-school sebagai sekolah 'resmi' pertama anak bisa sangat mempengaruhi si anak kedepannya. Kalau ternyata si pre-school nggak enjoyable, saya khawatir di benak si anak akan tertanam bahwa sekolah itu nggak enjoyable. Terus juga pre-school kan bayarnya mahal (yang sedengan itu biaya masuk termasuk seragam&uang bulanan bulan pertama bisa sekitar 3-4 juta, belum iuran bulanan yang 500rb keatas). Sebagai emak-emak itungan, tentu wajib buat saya menakar dan mengukur plus minus satu sekolah dibanding yang lain. Jangan sampai dengan bayar segitu, gak ada hasil yang signifikan buat si anak. Bukan, bukannya si anak setelah masuk pre-school harus jadi bintang bebelac atau bisa bikin robot, tapi ya minimal dari segi psikologis bisa lebih matang.

Saya sih udah brosing sana-sini, plus trial di dua sekolah itu. Tapi belum bisa memutuskan mau daftar kemana. Ada sih inceran, tapi ternyata ga sanggup bayar iuran bulanannya keknya. Hahaha *asem*.

Mungkin di luar sana banyak juga emak-emak galau kaya saya. Atau mungkin emak-emak lain mah ga serewel saya. Lah cuma pre-school, bukan mau masukin anak kuliah. Tapi ya itu tadi, buat saya sih memilih pre-school sama pentingnya dengan memilih TK, SD, sampai kampus kelak.

Memang miara galau itu ga baik. Tapi izinkan saya buat galau beberapa minggu lagi.

Beyond Ayah ASI

by | | 0 comments
Suami saya bukan cuma mensupport saya untuk memberikan ASI sampai anak-anak berusia 2 tahun, suami saya bukan cuma menemani saya begadang saat saya menyusui di malam hari, suami saya bukan cuma membantu menggantikan popok, suami saya bukan cuma betah main berlama-lama dengan anak-anak. He's way beyond that.


Ah belum-belum sudah terharu :').

Semenjak hamil anak pertama, Aisyah, sisuami memang sudah sangat perhatian. Dulu itu pas hamil si Aisyah, saya maboknya cukup parah. Tiga bulan pertama cuma bisa tiduran dan bangkit duduk sesekali. Kalau jalan-jalan sedikit (bahkan cuma ke kamar mandi) bisa langsung muntah. Ditambah lagi, saat itu saya cuma tinggal berdua suami di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, karena sisuami lagi bertugas disana. Tapi dengan jam kerjanya yang kadang nggak kira-kira, dia masih sempat mengurus saya. Pagi sebelum berangkat kerja, saat saya belum bisa bangkit dari kasur, semangkuk sereal dan segelas susu sudah tersedia untuk saya. Karena saya nggak mungkin masak, setiap jam makan siang dia menyempatkan diri pulang dan mambawakan nasi dan lauk pauk untuk makan siang kami berdua. Dan saat waktunya kontrol ke obgyn, dia tidak pernah tidak mengantar saya. Dan kadang lebih cerewet bertanya ini itu pada sang dokter.

Saat saya sudah tidak muntah-muntah, dan kami pulang ke Bandung, perhatiannya tidak berkurang. Apa yang saya perlukan (dan inginkan), mulai dari yang penting dan nggak penting hampir semua dipenuhinya. Kunjungan ke obgyn tetap menjadi saat-saat favorit kami bersama. Dan diamasih lebih cerewet tanya ini itu sama dokternya.

Waktu melahirkan, suami saya santai sekali. Dia menggenggam tangan saya dari mulai saya masih bisa ketawa-ketawa sampai AIsyah lahir dengan selamat. Habis lahiran saya baru sadar kalau bekas kuku saya saat menggenggam tangannya waktu menahan mulas terlihat jelas ditangannya. Tapi dia tidak mengeluh. Dia malah menyemangati saya, mengingatkan saya untuk tidak menutup mata saat mengejan, dan wanti-wanti untuk IMD.

Saat si bayi sudah di rumah, dia tidak sungkan membantu mengganti popok. Hampir selalu menemani saya saat menyusui di malam hari, membetulkan letak bantal, atau sekedar mengusap-usap punggung saya. Yes, he's that sweet.

Seiring bertumbuhnya Aisyah, mendiskusikan apa yang baik dan tidak buat Aisyah menjadi obrolan favorit kami. Dari mulai makanan sampai cara mendidik Aisyah, tidak pernah tidak kami diskusikan. Si suami juga sering mengajak Aisyah shalat berjamaah. Meskipun Aisyah pada awalnya belum bisa mengikuti gerakan shalat, tapi diamemperhatikan. Buktinya, usia 2 tahun lebih alhamdulillah AIsyah sudah hapal Al Fatihah.

Saat hamil anak ke-2, Rafa, adalah masa-masa dimana saya sangat menyadari bahwa sisuami adalah orang yang luar biasa. Seperti saat hamil pertama, tiga bulan pertama saya muntah-muntah. Meskipun tidak separah saat AIsyah. Alhamdulillah masih bisa bekerja sedikit dan jalan-jalan. Tapi tetap energi saya tak cukup buat seharian mengurus Aisyah. Untunglah jadwal kerja suami saya tidak terikat, jadi tugas mengurus mandi pagi, mandi sore, dan sarapan pagi aisyah diambil alih olehnya. Bahkan pernah sekali waktu Aisyah sakit dan bangun semalaman. Suami saya membiarkan saya tidur dan dialah yang begadang menemani Aisyah.

Waktu melahirkan Rafa, sama seperti saat melahirkan Aisyah, suami saya ada di samping saya. Dan tetap cerewet minta ASI Exclusive serta IMD. Setelah Rafa di rumah, sisuami masih konsisten dengan tugas memandikan dan menyuapi Aisyah. Bahkan sesekali mengurus Aisyah saat ingin pipis atau pup. Nilai tambahan, sisuami ikut menggunduli Rafa (bukan cuma putong sedikit, tapi menggunduli) saat akikah. Malam-malam, kami berbagi tugas, kalau Rafa yang bangun saya yang menidurkannya lagi. Kalau Aisyah yang bangun, suami yang menidurkanya lagi.

Benar kata orang bahwa menikah membuat kita melihat semua sifat pasangan kita yang kita tidak tahu saat sebelum menikah. Semenjak kami dekat, sebelum menikah dulu, saya sudah merasa bahwa suami saya adalah orang yang sangat manis dengan perhatian yang luar biasa. Tapi setelah menikah, dan terlebih lagi setelah punya dua anak, tedrnyata perhatiannya dulu itu cuma semacam teaser. Aslinya, perhatian dan rasa sayangnya lebih melimpah buat kami bertiga.

You are indeed not a perfect husband, but you are beyond wonderful. And I always pray I can be your beyond wonderful wife, too. I love you, Papski. We love you :*.

Keeping The Mind Busy

by | | 0 comments
Persoalan menanti si Bibi setelah lebaran memang selalu jadi cerita setiap bulan Syawal. Cerita lama soal repotnya mengurus rumah tanpa si Bibi yang sebenarnya hanya diulang-ulang, tapi selalu jadi bahan obrolan yang tak bosan dibahas.

Tapi bulan Syawal tahun ini ada yang berbeda dari menunggu si Bibi. Tahun ini adalah tahun pertama saya punya Bibi sendiri karena tahun-tahun kemarin masih 'nebeng' si Bibi punya mertua atau Mamah (karena tinggal masih nebeng mertua juga :D). Nah berhubung tahun ini buntut sudah dua, maka dirasa perlu nambah satu bibi khusus untuk mengurusi keperluan keluarga kecil saya. Nggak banyak, sih, cuma cuci setrika dan sesekali ngepel kamar, serta terutama memback-up saya untuk menjaga Aisyah ketika saya sedang sibuk dengan Rafa.

Bulan Syawal ini, rencananya Bibi baru yang datang akan menggantikan Bibi lama yang nggak balik lagi. Sengaja Bibi lama nggak disuruh balik lagi karena kerjanya butut. Tiap hari bikinn spaneng karena, intinya, apa yang saya minta tolong kerjakan, ujung-ujungnya saya kerjain sendiri.

Anyways... Selama nunggu Bibi baru datang, otomatis pekerjaan rumah tangga harus saya kerjakan. Meskipun ada Nin Lilis, adiknya Papah mertua yang setiap hari datang untuk bantu-bantu, tapi keperluan keluarga kecil saya tetap saya kerjakan sendiri. Untuk mempersiapkan diri, jauh-jauh hari sebelum si Bibi lama pulang mudik saya sudah mendoktrin diri sendiri: "I'm gonna be perfectly okay without si Bibi".

Pagi-pagi sebelum Rafa bangun saya menyetrika baju, kemudian memandikan Rafa, dan setelah Rafa rapi dan perutnya kenyang, saya beres-beres kamar dan memasukan cucian ke mesin cuci. Alhamdulillah karena si Suami kerjanya tidak terikat waktu, urusan mandi pagi dan sarapan Aisyah bisa dihandle beliau *kiss*. namanya urusan rumah tangga, memang nggak pernah selesai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Ada aja kejutannya. Misalnya pas mau nyantai nonton TV, tiba-tiba Aisyah minta diambilkan minum, terus minumnya tumpah jadi harus ngepel. Atau lagi mau tiduran bentar, tiba-tiba kucing masuk dan ngejatuhin makanan, jadi harus nyapu dan beres-beres. Ya begitulah.

Tapi diluar dugaan, ternyata so far saya cukup menikmati kegiatan rumah tangga ini. Satu hal yang saya sadari, saya jadi jarang idle. Otomatis ga banyak mikir macem-macem. Jarang pegang handphone buat twitteran juga. Dan ternyata, jarang twitteran bisa bikin lancar nulis lebih dari 140 karakter, hehe. Buktinya sejak semalam saya sudah nulis 5 postingan di blog. Dua postingan di sini, dan tiga postingan di kelakuankelakuan.blogspot.com.

Ternyata betul ya, we have to cherish every moment, termasuk moment tanpa si Bibi. Kalau dulu, dari awal saya udah mikirin 'bakal repot nih, nggak ada si Bibi'. Akhirnya pas kejadian harus ngerjain apa-apa sendiri malahan nggak enjoy dan kerasa lebih cape. Kalau mendoktrin diri dengan doktrin positif, ternyata kerjaan yang nggak berenti-berenti itu malah mayan bisa dinikmati. Cape, sih, tapi minimal ngerjainnya nggak pake ngomel-ngomel, dan yang pasti, tersenyum puas saat semua kerjaan bisa selesai.

Well, saya tetap membutuhkan si Bibi untuk bantu-bantu, sih. Tapi saya berdoa ketika si Bibi sudah datang pun saya tetap bisa menikmati pekerjaan rumah tangga ini.

Alasan.

by | | 0 comments
Memang repot jadi ibu rumah tangga beranak dua. Sering kali ide untuk bahan tulisan di blog melintas di pikiran, tapi mesti tertunda - atau bahkan batal ditulis karena banyak kegiatan ibu rumah tangga yang harus saya selesaikan.

Pagi-pagi, habis si bungsu dimandikan dan disusui, biasanya dia tidur. Saat yang tepat untuk menulis sebenarnya, karena pikiran masih segar, otak masih cerah. Tapi kan ada si sulung yang harus disuapi dan tak jarang mengajak bermain. Kalaupun si sulung asyik dengan bapaknya, toh saya harus membereskan kamar dan setrikaan. Siang hari, sehabis makan siang, idealya anak-anak tidur siang. Tapi si sulung bukan tipe anak yang suka tidur siang, malah biasanya on fire dan mengajak main ini itu. Sementara si bungsu yang baru 2 bulan lebih itu masih belum bisa ditebak jadwal tidurnya. Sore hari sampai malam haripun begitu. Ada saja kegiatan domestik atau bermain bersama anak-anak yang menjauhkan saya dari laptop.

Biasanya malam hari, setelah anak-anak tidur, adalah saat yang tepat untuk menulis. Tapi itu kalau mereka tidur cepat. Itupun mesti menunggu sampai si sulung benar-benar terlelap. Sering kali acara menulis batal karena saya sudah mengantuk.

Baiklah, subuh kalau begitu. Sehabis shalat subuh. Lagi-lagi hanya wacana. Kantuk lebih sering memenangkan pertarungan karena semalaman si bungsu masih terbangun beberapa kali.

Dan seterusnya dan seterusnya.

Demikianlah alasan mengapa saya jarang menulis blog.

*Padahal sebenarnya sih masalah menulis, cuma soal niat ya. tulisan inipun bisa kelar karena niat. Meskipun diselesaikan dengan terburu-buru karena takut si bungsu keburu bangun dan si sulung keburu selesai menonton acara tv kesayangannya.

Seesh.

by | | 0 comments
Lets go girlfriends. Let's have some afternoon tea with a slice of chocolate cake.
by | | 0 comments

Vintagelicious

by | | 0 comments
Iye tauk. Segala sesuatu yang ditambah -licious itu udah so last year banget. Ya tapi gimana dong..


Anyway.. Akhirnya posting lagi. Alhamdulillah.. *numpeng plus bubur merah bubur putih* Ini gara-gara kemaren-kemaren lewat terminal Dago, nih.

Jadi, ternyata sejajaran sama tukang las yang letaknya daiats Terminal Dago menuju Dago Pakar itu ternyata ada yang jualan furnitur vintage. Macem yang kayak di Malabar gitu. Kemaren sih karena sudah agak malam, jadi ga sempet mampir. tapi dari luar sih kayaknya barang-barangnya cukup menjanjikan.Selewat kemaren sih liat ada kursi-kursi, meja, lemari, dan buffet yang kayanya lucu buat direstorasi gitu. Kapan-kapan kepengen deh mampir sana.

Kesukaan saya sama barang-barang vintage sebenernya dimulai sejak kecil. Ya soalnya di rumah nenek-kakek saya, terutama yang di Jalan Jawa, banyak barang-barang vintage gitu. Menurut saya barang vintage itu punya model yang everlast, simpel, dan nggak ngebosenin. Btw, barang vintage yang saya maksud bukan barang antik dengan sejuta ukiran ya. Tapi yang modelnya lebih peninggalan kolonial dan art deco gitu, deh *anu - sebenernya saya nggak ngerti art deco itu apa - asal nulis aja :p*. Nah makin gede, makin suka lah saya dengan furnitur vintage. Soalnya selain modelnya ciamik, furnitur vintage ini bahan dan konstruksinya kuat. Rata-rata dibuat dari kayu jati, terus nggak gampang goyang dan pasti kuat walaupun dikasih beban berat. Nggak kaya furnitur jaman sekarang yang diisi penuh dikit, kayunya mletot sana mletot sini.

Nah, pas aya buka kedai Spatula jl. Wiraangun-angun 28 yang menu jagoannya lasagna *mampir ya*, makin tergila-gila lah saya sama furnitur vintage. Soalnya kan ambience kedai nya memang sengaja dibuat homey dan vintage. Jadi kami pun hunting berbagai furniture vintage. Mulai dari perintilan kayak kaleng biskuit sampai sofa, hampir semuanya vintage. Ada kepuasan tersendiri saat menyaksikan proses dari menemukan sofa yang tampak bulukan, kemudian diganti busa dan di vernish lagi sampai menjadi furnitur yang tampak baru dan kece berat.

Anyhoo.. Sekarang saya lagi kepengen numpulin furniture vintage buat di rumah saya kelak. Ya kelak da rumahnya juga masih dalam status hunting. Tapi kebayang aja, nanti di ruang tamuu nggak bakalan ada sofa minimalis modern gitu, tapi sofa vintage yang udah di restore gitu. Terus ada buffet kecil buat naro koleksi buku-buku juga. Kalau untuk kamar tidur, saya malah kebayangnya nanti pake dipan Di rumah Mamah saya ada beberapa dipan jati nganggur yang bisa dikaryakan. Dan untuk pelengkap aksesori rumah saya udah nge 'cup' mesin jait Singer punya Nenek saya yang vintage abis dengan trangka besi dan jati *doakan berhasil saya kuasai kelak kalau nenek saya udah nggak pake*. Oiya sekarang sih saya sudah punya satu lemari baju kecil jati gitu yang saya beli dengan harga 200ribu saja. Hohoho.

Yah when it comes to vintage stuff saya selalu bergairah dan bergembira. Kegembiraannya memang agak berkurang pas bayar, sih, soalnya barang vintage gitu biasanya nggak murah. Tapi kalau kita tau tempat beli dan bertemu orang yang jual butuh sih, lumayan. Apalagi harga segitu worth it abis dibandingin furnitur jaman sekarang yang harganya bisa jadi lebih mahal, tapi kualitasnya belum tentu lebih baik. Anyway, kalau ada yang mau jual furnitur vintage harga miring, atau mau ngasih sekalian bole banget lohhhh..