'Standar Ganda' untuk Warga Negara Kelas Dua

by | |
Sudah lama sebenarnya menyimpan unek-unek ini, tapi baru kepikiran buat di posting di blog sekarang. Ini pengalaman pribadi yang mungkin bayak dirasakan orang lain. Penderitaannya memang gak seberapa, tapi kalau ditumpuk-tumpuk bikin ngebatin juga.

Sehari-hari saya berkegiatan, selain naik angkot (atau sesekali naik taksi kalau bawa barang banyak dan sama anak-anak), saya juga sering diantar sisuami naik motor. Selama tidak hujan bada(g)i dan matahari tidak terlalu menyengat, motor merupakan moda transportasi favorit saya. Selain bisa lebih cepat sampai tujuan, hemat bahan bakar, pun nggak susah cari parkir.

Eh, ga susah cari parkir? Belum tentu.

Di era dimana sepeda motor merajai jalanan Indonesia ini *tsah* tetep aja sih susah cari parkir, apalagi kalau ke mall di senja yang cerah pada akhir pekan, atau ke pasar baru. Padahal semua motor diparkir dengan standar ganda. Yaitu standar dua pada motor yang menyebabkan motor parkirnya bisa tegak dan tidak miring sehingga tidak memakan tempat banyak (kalau masih nggak mudeng, sila lihat foto di bawah ini).

Contoh Parkir Standar Ganda (bukan motor saya)


Cuma ya saya nggak mau ngomel soal susah cari parkir, itu sih udah resiko pergi ke tempat yang banyak pengunjungnya. Yang mau saya keluhkan adalah kondisi parkiran motor yang di sebagian besar pusat perbelanjaan yang 'kurang manusiawi'.

Tipe parkiran motor kurang manusiawi pertama adalah parkiran di pusat perbelanjaan besar dan letaknya outdoor. Yang menyebabkan kalau matahari panas terik, saat naik bokong serasa disetrika dan saat habis hujan jok menjadi basah kuyup. Belum kalau lupa ninggalin helm dalam keadaan bagian lubang kepala menghadap keatas. Wassalam. Belum cukup sampai disitu, letak dari parkiran motor ke pintu masuk pertokoan amat sangatlah jauhnya. Sehingga saat masuk dan keluar pertokoan, rasanya habis bolak-balik dari Safa ke Marwah.

Tipe parkiran motor kurang manusiawi yang kedua adalah parkiran di basement paling bawah. Itupun kadang lahannya cuma sedikit. Yang paling mengganggu dari parkiran motor di lantai basement paling bawah adalah panas dan pengap. Kondisi ini sangat menyiksa saat antri keluar parkiran. Saat 'peak time' keluar parkiran, antri keluar motor bisa 15 menit sampai setengah jam sendiri. Iya, selama itu. Karena kalau mau keluar parkir motor biasanya ada upacara periksa STNK. Mending kalau parkiran di basement tapi pemeriksaan tiketnya di lantai atas, atau aksesnya dekat jalan menuju ke lantai atas (apa itu jalan nanjak yang meliuk-liuk di parkiran namanya saya nggak tau). Tapi coba bayangkan kalau pemeriksaan tiketnya disitu-situ juga dan tempatnya nun jauh di pojok jauh dari akses jalan keluar. Dalam kondisi minim ventilasi ada dua puluh atau tiga puluh motor yang antri keluar dengan mesin menyala, berapa banyak racun yang terisap paru-paru kita? Dan bayangkan juga petugas tiket parkir yang seharian bekerja disitu, berapa banyak racun yang mereka isap setiap hari?

Kenapa tidak ditukar saja sebagian parkir mobil tidak dipindah outdoor dan parkir motor dipindah kedalam? Tidak terlalu masalah rasanya mobil diparkir di luar. Kenapa parkir motor tidak ditaruh di parkiran basement paling atas? Kalaupun mobil harus mengantri lama saat keluar parkiran, tidak akan terlalu banyak racun yang dihisap karena bisa tutup jendela dan nyalakan AC.

Permasalahan lain adalah tarif parkir motor yang nggak masuk akal. Tarif parkir motor di tempat parkir mall rata-rata Rp. 1.000/jam, sementara tarif parkir mobil Rp. 2.000,-/jam. Ada yang bisa jelaskan kenapa tarif parkir motor (yang satu motor ga makan tempat sampai setengah parkir satu mobil) bisa setengah tarif parkir mobil? Tarif segitu pun tidak menjamin helm kamu tidak hilang kalau tidak dititipkan di penitipan. Menitipkan helm pun harus bayar lagi Rp. 500,- sampai Rp. 1.000,- per helm. Rasanya seperti dipaksa menitipkan ya, karena tentu saja manajemen nggak mau tanggung jawab kalau helm nggak dititipin terus hilang. Kenapa nggak ada yang punya ide menerapkan tarif parkir yang sudah termasuk tarif penitipan? Semua yang naik motor pasti pake helm, dan pasti nggak ada yang mau helmnya hilang saat parkir. Selain itu manajemen juga bisa menghindari guntreng buang-buang energi saat ada yang kehilangan helm di parkiran karena tidak dititipkan. Tapi ya tentu, kalau bisa, tarifnya yang masuk diakal. Kalau bisa.

Hal lain yang suka bikin ngebatin di parkiran motor (terutama di mall)adalah, kalau kamu bukan Eneng-eneng geulis, belum tentu petugas parkir mau membantumu memundurkan motor padahal mereka jelas melihat kamu ugal-ugil mundurin motor dari parkiran yang sempit.
Untuk yang satu ini saya acungin jempol buat penjaga parkiran motor di depan pasar baru yang perkasa mengangkat motor bebek yang terparkir dan terkunci, untuk memberikan jalan keluar untuk motor yang mau keluar parkiran.

Postingan diatas mungkin cuma omelan emak-emak yang sulit dimengerti oleh kamu yang sudah kaya semenjak lahir sehingga belum pernah sekalipun nyobain parkir motor di pusat keramaian. Tapi percayalah, ini adalah - sekali lagi - hal-hal kecil yang kalau lama-lama dikumpulin jadi bikin spaneng dan membuat saya merasa pengguna motor diperlakukan seperti warga negara kelas dua.
Satu hal lagi, di tempat parkir motor sering ada tulisan "Parkir Sepeda Motor Gunakan Standar Ganda". Dan saat melihat motor gede yang terparkir manis di tempat 'istimewa' di dekat kantor security, terlintaslah di benak saya. Standar ganda, indeed.

0 comments:

Post a Comment