Pengajian bersama Abu Marlo, In My Humble Opinion

by | | 6 comments
Gara-gara sarapan di Lawang Wangi tadi pagi, jadi ngobrolin soal pengajian Abu Marlo (magician lulusan The Master nya Dedy Corbuzier) sama teman-teman baru (baca: emak-emak hobi ngunyah dari sekolahan Aisyah). Baru tau ternyata Abu Marlo sekarang punya acara dakwah sendiri di ANTV. Dan baru tau juga ternyata acara ini menuai banyak kecaman. Mulai dari yang mencap Abu Marlo menafsirkan Al Qur'an sembarangan sampai yang menuduh Abu Marlo mengajarkan aliran sesat.

Saya pernah sekali ikut pengajian Abu Marlo. Waktu itu masih berupa pengajian kecil bersama teman-teman sepergaulan Abu Marlo. Saya sendiri hadir bukan karena gaulnya bareng Abu *ah siapalah saya ini*, tapi karena diajak seorang sahabat baik saya yang memang sudah lumayan lama mengikuti pengajian tersebut. Dan bermodalkan sekali datang itulah saya ingin berbagi pendapat saya soal 'cara berdakwah' Abu Marlo. Mudah-mudahan bisa objektif dan tidak memancing debat kusir tak berkesudahan. Dan pandangan saya ini murni pandangan pribadi sebagai orang awam yang pengetahuan agamanya biasa aja, serta tentunya dengan tidak mengurangi rasa sayang dan rasa hormat pada sahabat saya yang sudah berbaik hati mengajak saya untuk hadir.

First of all, saya memuji Abu Marlo yang bisa hapal Al Qur'an dalam waktu singkat. Dan saya memuji juga niatan Abu untuk berbagi ilmu, dimulai dari teman-temannya sendiri. Sahabat saya bercerita, bahwa awalnya Abu Marlo mengikuti pengajian yang dipimpin oleh Kang siapa ya *maaf lupa* di sebuah rumah di kawasan Bandung Utara, dan dari situlah dia berniat untuk bisa menghapal Al Qur'an. Dan dalam waktu singkat ternyata Abu mampu menghapalnya. Sampai situ saya kagum pada kemampuannya.

Sayangnya (atau untungnya?), ketika menghadiri pengajiannya saya merasa kurang sreg. Bukan dengan cara penyampaiannya, tapi dengan metode 'penafsiran' Al Qur'annya. Kenapa penafsirannya saya kasih tanda petik? Karena dari awal, saya sudah bingung. Kok terjemah Al Qur'an ditafsirkan mentah-mentah. Diartikan sebagaimana kalimatnya. Padahal, kita semua tau kalau 'terjemah' dan 'tafsir' itu beda (kalau yang belum tau, sila googling saja ya). Dan, CMIIW, untuk bisa menafsirkan Al Qur'an gak bisa cuma bermodalkan hapal Al Qur'an saja. Tapi juga harus dibarengi ilmu tajwid, ilmu fiqh, ilmu tarikh, dll. Selama pengajian saya jadi banyak bingung karena kok ada ayat-ayat yang penafsirannya melenceng. Tapi waktu itu saya diem aja sih, soalnya takut saya yang salah (karena toh memang pengetahuan agama saya nggak seberapa). Tapi ternyata pas pulangnya, si suami yang ikut juga pengajian waktu itu, sama-sama merasa ada yang salah dari cara penafsiran Abu. Sejujurnya saya juga sempat bertanya-tanya, Abu Marlo ini hapal ayat-ayat Al Qur'an atau hapal terjemahannya saja ya? Kok selama pengajian dia hanya membacakan terjemah, tapi tidak pernah membacakan ayat dalam bahasa Arab. Tapi saya berpikir, oh mungkin karena ingin menyampaikan dalam bahasa yang dipahami kami-kami yang awam ini, maka dia lebih memilih langsung membacakan terjemahan Bahasa Indonesia nya.

Pendek kata pendek cerita, saya dan suami memutuskan untuk tidak lagi menghadiri pengajian tersebut. Bukan karena takut disesatkan (siapalah kami ini ngecap orang 'sesat' sembarangan), tapi semata-mata karena alasan bahwa cara pandang kami terhadap penafsiran Al Qur'an berbeda dan kami nggak mau hadir disitu tapi hati kami meragukan.

Nah, sekarang balik lagi ke urusan pengajian Abu Marlo ini: salahkah? Kalau dilihat dari niatan baiknya untuk berbagi ilmu, tentu tidak salah. Tapi metodenya mungkin harus diperbaiki. Ada baiknya untuk penafsiran ayat-ayat Al Qur'an disampaikan oleh ustadz yang memang latar belakang pendidikian agamanya baik, sementara Abu Marlo bisa berbagi ilmu menyampaikan teknik menghapal Al Qur'an nya. Atau lebih baik lagi bila dilengkapi belajar membaca Al Qur'an, khusus buat yang belum baik bacaan Al Qur'an nya (seperti saya). Supaya anggota pengajian tidak cuma mampu menghapal terjemah Al Qur'an aja, tapi menghapal juga ayat-ayatnya. Lalu pengajian ini sesatkah? Duh, saya nggak berani seenaknya menunjuk orang lalu bilang dia sesat. Tapi kalau bertahan dengan metode penafsiran mentah-mentah seperti ini, khawatir makin banyak penafsiran ayat yang melenceng dan bisa menyesatkan mereka yang kurang jeli.

Tapi ini cuma pendapat saya, ya. Saya yang - sekali lagi - pengetahuan agamanya nggak seberapa ini. Mudah-mudahan (lagi-lagi) sekali lagi, bisa membantu kita berfikir jernih dalam menyikapi isu ini.

Wallahu'alam bissawab :).

Brownie Pudding: Yummeh!

by | | 0 comments
Dua minggu ini Aisyah libur sekolah. Artinya, dua minggu pula saya nggak perlu anter jemput dia ke sekolah. Yang artinya lagi, saya punya waktu ekstra buat melakukan sesuatu selain bengong dan berkhayal. Maka selama liburan ini saya berniat masak tiap hari. Ya nggak masak-masak serius (kaya nasi tumpeng atau gule kambing), sih, tapi ya minimal sehari saya melakukan sesuatu yang menghasilkan sesuatu yang bisa dimakan. *ini lagi infatuated sama Syahrini apa yak, sesuatu melulu*

Anywayyyy.. Sejak day one Aisyah libur udah mulai masak-masak, sih. Tapi masakannya standar aja. Masakan sehari-hari gitu. Jadi males juga di share di blog. Nah hari ini masaknya, meskipun simpel banget, tapi diluar dugaan rasanya maknyius banget. Jadi bolehlah kita orang share dimari, yes.

Hari ini saya bikin Brownie Pudding. Resepnya saya dapat dari salah satu member Langsung Enak, yaitu sebuah grup di Facebook untuk para penyuka makan dan masak.
Bahan-bahan yang diperlukan buat bikin Brownie Pudding ini murah dan gampang, yaitu...

1 liter susu UHT plain
5 lembar roti tawar, sobek-sobek
2 bungkus agar-agar plain (saya pakai warna coklat)
100 gr dark cooking chocolate, lelehkan (karena ga ada timbangan saya pake 2 blok dcc Colatta dipotong dari kemasan 250 gr)
25 gr coklat bubuk (kan ga ada timbangan, yah, jadi saya pake 2 sdm muncung)
200 gr gula pasir (tadi saya kira-kira aja 5-6 sdm)
1 kuning telur

Cara buatnya juga gampang banget, blender semua bahan sampai tercampur rata, lalu didihkan. Jangan lupa selama dididihkan di api kecil diaduk terus biar ga menggumpal dan nggak mengendap di dasar.


Kalau sudah mendidih, tuangkan ke cetakan puding, terus kalau sudah agak dingin masukan kulkas. Kalau sudah padat, potong-potong dan sajikan. Dikasih vla vanilla lebih enak. Yum!


Untuk vla nya saya pake vla instan. Praktis lah tinggal diseduh air termos (atau air dispenser), aduk-aduk, dan masukin ke kulkas. Oiya, si Brownie puding ini kalau baru sebentar di kulkas teksturnya kaya puding Hoka-Hoka Bento gitu. Tapi kalau agak lamaan, jadi lebih padet dan mirip cake. Cuma kalau soal rasa, enak! Coklat banget dan lembut dilidah... Bakalan jadi menu andalan buat cemilan nih. Bahannya gampang, bikinnya cepet, rasanya enak, dan ga pake ribet. Nyiussss!

by | | 0 comments


I once believe that it is real. Now diary is merely a myth.

Yang hilang dari OSPEK

by | | 0 comments
DISCLAIMER: postingan ini ditulis jam 1 pagi. Mohon maaf kalau ada kalimat atau kata-kata yang agak aneh penempatannya :D.


OSPEK, apa masih perlu? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu tergantung tujuan dari diadakannya OSPEK itu sendiri. Bukan tujuan yang tertulis saja, tapi juga yang tertanam di hati para kakak-kakak senior panitia OSPEK.

Kalau tujuannya untuk gagah-gagahan, ngerjain anak baru, menunjukan senioritas dengan siksaan fisik dan psikis, apalagi untuk melecehkan (juga secara fisik dan psikis) mahasiswa baru, tentu ga perlu lagilah ada OSPEK di muka bumi ini.

Tapi kalau tujuannya untuk menyiapkan mahasiswa baru untuk menghadapi dunia kampus dan dunia kerja kelak, masih bolehlah OSPEK diadakan. Tentunya dengan mengeliminasi siksaan fisik dan psikis berlebihan* di acara OSPEK. (*notice that 'siksaan' dan 'berlebihan' sifatnya relatif)

Saya setuju bahwa OSPEK yang baik dan benar bisa menghasilkan kampus (minimal angkatan) yang solid dan mahasiswa yang tangguh. Meskipun, tentu OSPEK hanya salah satu faktor yang bisa menghasilkan kekompakan dan ketangguhan, dan bukan syarat mutlak untuk itu. (Saya dulu berkuliah di kampus yang tidak mewajibkan OSPEK, pun saya tidak ikut OSPEK, tapi kami cukup solid and my university years was cool - socially and academically).

Acara OSPEK memang menjanjikan kekompakan dalam senang apalagi susah. Bagaimana tidak, hampir setiap hari (bahkan selama setahun pertama untuk para calon engineers!), senior mengawasi adik-adik barunya. Yang salah satu orang, yang kena seangkatan. Acara OSPEK juga hampir pasti melahirkan mahasiswa baru yang tangguh. Karena tak cukup hanya bergelut dengan tugas dari dosen (di dunia akademis yang sama sekali baru dan berbeda dari SMA), mahasiswa baru juga harus mampu memenuhi tugas dari para senior. Dan yang paling terasa adalah, OSPEK memunculkan rasa bangga dan rasa cinta terhadap kampus. Tentu saja, selama masa OSPEK hampir setiap saat mahasiswa baru disuguhi success story almamater, para senior, para dosen, dan para alumni. Dan pada beberapa kasus, OSPEK juga berbonus jodoh. Minimal college sweet heart, lah.

Secara pribadi, saya mengamini OSPEK (sekali lagi, yang tanpa siksaan fisik dan mental yang berlebihan) bisa menghasilkan banyak hal positif untuk para mahasiswa baru. Hal-hal positif yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pola pikir dan cara pandang si mahasiswa baru. Bahkan sampai dia sudah bukan mahasiswa baru lagi. Bahkan sampai dia sudah lulus dan terjun ke masyarakat. Otomatis, ini juga akan berpengaruh pada kualitas lulusan yang pastinya mengangkat (atau menjatuhkan) nama almamater. Dan banyak perguruan tinggi (berkualitas) yang sudah membuktikan keampuhan OSPEK ini.

Tapi ada satu hal yang saya rasa, terlupakan oleh panitia dan pembimbing OSPEK. Karena 'hasil' OSPEK ini akan berpengaruh sampai kelak, mestinya yang ditanamkan pada mahasiswa baru bukan cuma 'sebagai mahasiswa kampus anu saya harus tangguh, cerdas, visioner, and the blahblah' atau sekedar kebanggaan pada almamater.

Justru (IMHO!) yang paling penting ditanamkan dalam OSPEK adalah, 'sebagai mahasiswa kampus anu yang tangguh, cerdas, dan sangat bangga pada almamater, saya harus rendah hati'. Karena mau tak mau, kelak para mahasiswa baru ini akan terjun ke masyarakat, akan berbaur, akan bertemu orang lain yang bukan hanya tidak satu almamater dengan mereka, tapi juga bahkan tidak memiliki cara pandang dan pola pikir yang sama. Pada para mahasiswa baru ini harus ditanamkan bahwa, kelak, dunia nyata yang akan mereka hadapi lebih luas dan lebih heterogen daripada kampus mereka. Mahasiswa baru ini harus diingatkan untuk seperti air, bisa menempatkan diri dan mengukur diri sesuai 'wadah' tempat mereka berada. Tidak perlu membeku, menguap, atau menyublim. Cukup tetap menjadi air yang bisa menyesuaikan diri dengan 'wadah'.

Banyak contoh, alumni perguruan tinggi-perguruan tinggi ternama yang dianggap sombong dan 'tinggi' karena merasa 'paling (top)' dibanding lulusan perguruan tinggi yang kurang ternama. Iya, mereka pandai, mereka brilian, tapi kalau tidak bisa diterima di lingkungan sekitar maka kualitas mereka sebagai manusia akan berkurang. Yang paling gawat adalah mereka yang tahu bahwa mereka congkak, tapi merasa berhak untuk congkak karena mereka cerdas. I have the right to become a bitch because I am brilliant. Di lingkungan yang homogen, ungkapan dan perilaku itu mungkin 'lucu'. Tapi di lingkungan yang heterogen, bisa-bisa orang seperti ini tidak mendapat tempat, dan tidak dihormati.

Jadi, ternyata mendidik mahasiswa baru untuk siap mengahadapi hidup ini tidak sederhana. Tidak cukup hanya dengan membangun kecerdasan dan membentuk kepercayaan diri, tapi juga menanamkan kerendahan hati. Dan ini menjadi salah satu PR untuk penyelenggaraan OSPEK yang sukses.

Gravity: For If You Think 'Cast Away' was Devastating

by | | 0 comments
Akhirnya! After almost a year watching it's trailer on Warner TV, we're watching Gravity (in 3D) at Blitzmegaplex. Yus, it was a movie date with husband. Squeezing a 90 minutes between visiting a relative who was hospitalized and taking stuff from a friend's gallery.

And it was the most devastating ninety frikkin' minutes of my life - in a good way. I mean imagine you are cluelessly (if there's such a word) flew around the space on your first mission with no communication and a chance of sudden space debris heading to you, trying to make your way home. Imagine Cast Away, but in outer space where oxygen is limited, and you barely recognize everything around you. How can it's not devastating?

Adegan dibuka dengan tiga astronot yang melayang-layang di luar angkasa. Adalah Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock), seorang ahli bio-medical yang sedang melakukan misi pertamanya ke luar angkasa untuk memasang sistem baru di satelit, Matt Kowalsky (George Clooney) seorang veteran astronot yang memimpin misi, dan Shariff, seorang engineer. This was their last day on space, and everything went smooth. Sampai Houston melaporkan adanya 'serangan' pecahan satelit Rusia yang baru diledakan. Situasi yang tadinya tenang berubah penuh kepanikan. Serpihan-serpihan satelit dngan kecepatan tinggi menabrak semua, termasuk kapal luar angkasa Explorer yang menjadi tumpangan dan rumah mereka di luar angkasa.

Meskipun mood penonton untuk deg-degan sudah dibangun sejak awal, tapi buat saya, film baru benar-benar dimulai setelah hujan space debris ini. Dr. Ryan Stone bergelung di gravitasi nol, dengan kabel menjuntai disekitarnya, persis seperti di dalam rahim. Setelah itu, dimulailah berbagai usaha penyelamatan. Selama film saya banyak menahan napas mengikuti usaha-usaha penyelamatan diri sang astronot untuk kembali ke bumi. Mulai dari kepanikan saat terlempar sendirian, sampai berusaha menguasai alat-alat baru yang selama ini hanya dikenal di simulasi. Mulai dari ketegangan saat komunikasi terputus, sampai saat-saat genting ketika oksigen menipis. Tapi jangan khawatir akan ikut kehabisan oksigen juga karena terlalu lama menahan napas. Beberapa kali ketegangan-ketegangan ini juga dicairkan oleh dialog-dialog kocak Clooney yang berperan sebagai astronot berpengalaman, yang berusaha menenangkan astronot lainnya.

Semakin lama menonton film ini, saya merasa bahwa Gravity bukan semata-mata bercerita tentang misi penyelamatan diri, tapi tentang hidup dan kehidupan. Bahwa manusia ternyata, literally, memang hanyalah sebentuk benda mikroskopis di alam semesta, yang tak berdaya tanpaNya. Dan bahwa kita lahir untuk kemudian selalu berusaha untuk survive. Dalam usaha survive tersebut, ada kalanya kita merasa sudah berhasil, tapi ternyata di depan kita masih ada halangan. Dan ada kalanya kita merasa gagal, tapi ternyata Tuhan masih memberi kita jalan untuk terus, secara misterius.

Terlepas dari jalan ceritanya yang bikin saya penasaran untuk terus menonton, film ini berhasil menggambarkan keindahan luar angkasa, dan bumi dilihat dari luar angkasa. Scoring nya juga sangat mendukung jalan cerita. Ada momen dimana kita diajak menikmati kesenyapan luar angkasa, ada juga momen menegangkan dengan suara yang tidak terlalu menggelegar, tapi membuat kita ikut merasakan ketegangan dan kepanikan para tokoh.

All in all, this is a good movie to watch with your friends, your loved ones, or even on your own (the third option is for weird people like I who enjoy watching movie alone). For some people with very technical way of thinking it might be a bit boring, but for people who love to seek the meaning behind a story line, Gravity is a must watch.


SPOILER ALERT. Tulisan di bawah ini tentang annoying couple sitting next to us dan agak nggak ada hubungannya sama jalan cerita film, but I just have to tell this. And I've tried my best not to spoil the story, but I just can't. Kalau belum nonton dan penasaran, mendingan baca bagian ini tar aja abis nonton, hehe..

So, there will always be those stupid people who's talking during the movie. Commenting on every frikkin scene, asking (or informing!) about something that is very obvious. At first I was worried about the ABGs on back row. But apparently, the real danger was the stupid couple with stupid girlfriend next to me. I shoosh her once for talking too much, but she just ignored that. I mean her comment was really stupid and loud! I think the whole theater could hear her.

When the astronauts trying to reach the International Space Station after the catastrophe:
"Itu di ISS nya ada orang ga sih?"
We don't know yet. Don't we?!

On the 'fetus like' scene.
"Ih kaya bayi!"
Yes, we all can see that. Wa share the same big screen, aren't we?

When Stone trying to cut some rope to escape:
"Cepetan! Jangan liat-liat dulu!"
Thank you for the advice. But that won't help her to go faster. And that surely won't help us - the other audiences you share this theater with - to feel better.

When Stone accidentally bumped her head while trying to put fire off:
"Bego!"
LOE YANG BEGO!!!

When Kowalsky opens the door while Stone is not wearing her helmet:
"Itu kebakar ya mukanya? Kebakar ya?"
Well if so, this movie would end right there, no?!

And when I just thought it was only the girlfriend who's stupid, suddenly the boyfriend (which I almost advice him to find a smarter girlfriend) commenting on even louder voice.
"Hah kodok? Oh ini mah di danau! Danau Zurich udaaahhhh!"
*imagining pouring hot popcorn butter to him*

I start to think they were the same match-made-in-heaven-made-for-each-other-couple who sat next to us when we watched Argo sometimes ago. The girlfriend's comments is as stupid as the one when we see KFC on one of the scene.
"Ihhhh KFC!"
YES WE ALL CAN SEE!

There should be a service in every movie theater that allows us to know which seats are free from potentially annoying audience(s).



Weary

by | | 0 comments
Because you only see what your eyes want to see.


So now I remember how does it feels to be brokenhearted, again.

Tiba-tiba...

by | | 0 comments
Ah, bertemu teman-teman sehobby memang bikin hati senang. More stories to come about this community I recently joined. But for now...

Tiba-tiba pengen benerin mesin jahit yang sudah bertahun-tahun tak terurus. Punya nenekku. And it's a Singer! Heyho lesgo. Mari mulai (belajar) menggenjot!


Sekolah Aisyah :)

by | | 1 comments
Seperti saya sebutkan di postingan sebelumnya, proses mencari dan memilih sekolah buat si cikal Aisyah tidaklah sederhana. Sebenarnya bahkan proses pencarian sekolah ini sudah berlangsung sejak si bocah berusia 2 tahun. Tapi karena satu dan lain hal, maka Aisyah baru saya dan suami masukan sekolah di usia TK.
Dan kami memilih sebuah sekolah montessori Islami, yang sampai saat postingan ini ditulis, sekolah Aisyah ini masih satu-satunya sekolah Islami yang menggunakan sistem montessori.

Sekolah Aisyah yang jaraknya tidak dekat dari rumah (kalau nggak mau dibilang agak jauh) ini, memang mengundang banyak pertanyaan. Terutama dari kakek neneknya dan tante-tante saya dan suami. Kenapa jauh sekali? Aisyah ga kecapean? Kenapa ga cari yang dekat rumah? Pulang perginya gimana? Dan pertanyaan lainnya yang sampai saat ini masih sering muncul. Memang sih untuk seusia TK, perjalanan rumah-sekolah yang memakan waktu 20 menit naik motor kalau lancar atau 30 menit naik angkot tanpa macet dan ngetem, terhitung jauh. Dan kadang melelahkan buat saya, apalagi kalau ditambah Aisyah rewel di jalan karena ngantuk atau kepanasan di angkot. Tapi tentu saya dan suami tidak gegabah dalam memilih sekolah ini sebagai sekolah pertama Aisyah. Ada beberapa alasan kuat yang menjadi dasar mengapa sekolah ini begitu menarik buat kami.

Pertama, dan yang paling penting, Aisyah suka dan betah bersekolah disini. Sebelum sekolah di sini, bocah pernah trial di beberapa sekolah. Tapi cuma disinilah pas trial hari pertama Aisyah langsung mau masuk kelas tanpa drama dan langsung nempel sama gurunya (yang dipanggil Bunda). Pas trial pun saya dan Bundanya tanya, Aisyah jauh ga sekolahnya? Cape nggak? Dia jawab nggak. Dan pas saya tanya mau sekolah di sini apa nggak? Dengan mantap dia menjawab 'Iya'. Sampai hari ini, belum (dan jangan sampai - aamiin) ada drama berarti dalam kehidupan sekolah Aisyah. Paling cuma kalau pagi baru datang biasanya dia agak 'melempem'. Belum panas, mungkin. Tapi pas waktunya masuk kelas dia mau masuk kelas dan selalu pulang dalam keadaan ceria.

Kedua, sistem pendidikan yang ditawarkan. Dari dulu, saya memang tertarik sama sistem pendidikan Montessori. In brief, sistem ini lebih mengajarkan anak life skill untuk survive dan mau belajar terus dibanding skill membaca atau berhitung. Sekolah ini tidak memaksa anak untuk duduk dan memperhatikan guru, tapi membiarkan anak untuk bereksplorasi (dengan diawasi Bundanya tentu). Belajarnya pun dengan cara bermain, mulai dari masak-masakan dampai make up-make up an ada. Dan si Bocah yang cewek banget ini bahagia sekali, tentunya. Hebatnya, biasanya sekolah yang menerapkan sistem Montessori biayanya selangit. Nah di sekolah Aisyah ini biayanya masih reasonable.

Itulah yang jadi alasan ketiga kenapa saya dan bapaknya Aisyah memilih sekolah ini. Dengan sistem dan fasilitas yang ditawarkan (selain alat belajar yang lengkap, bangunan sekolah yang homey dan nyaman, dan acara berenang, sekolah ini juga punya halaman rumput yang luas dan aman karena berpagar tinggi), biaya sekolahnya ga bikin megap-megap. Tidak murah memang, tapi dibanding sekolah sekelas ini, biayanya masih lebih terjangkau.

Alasan keempat, yang ga ada hubungannya sama sistem pendidikan tapi penting juga adalah, hanya sekali naik angkot kalau pulang ke rumah. Penting, karena meskipun tidak dekat, tapi minimal ga naik turun angkot. Jadi sepanjang perjalanan Aisyah bisa tidur dan nggak ribet gonta-ganti angkot. Apalagi Aisyah punya teman-teman pulang bareng yang sama-sama naik angkot yang sama. Jadi di jalan dia nggak bosan.

Sekarang, setelah beberapa bulan menyekolahkan Aisyah di sini, saya makin bersyukur. karena meskipun Aisyah belum bisa baca tulis (saya nggak khawatir karena memang belum waktunya juga), tapi terlihat beberapa perubahan yang positif. Aisyah sekarang lebih berani speak up kalau dia nggak suka sesuatu, berani kenalan duluan - minimal senyum duluan - saat ketemu anak lain yang baru dia kenal, dan lebih bertanggung jawab. Setiap habis main, saya nggak perlu lagi narik otot buat minta dia beresin. Hampir otomatis dia langsung beres-beres, minimal hanya perlu saya ingatkan sekali dua kali. Habis makan pun dia selalu bawa piring kotornya ke wastafel, dan sesekali mencuci sendiri piringnya. Secara personal, Aisyah sekarang lebih terbuka dibanding sebelum bersekolah.

Saya juga senang melihat interaksi Bunda-bunda dengan murid-muridnya. Bunda-bunda selalu tersenyum dan tidak pernah ketus, meskipun kelakuan murid-muridnya kadang ajaib banget. Bunda-bunda juga selalu open untuk konsultansi mengenai perkembangan Aisyah. Acara-acara hari besar nasional pun dirayakan dengan cara yang menyenangkan. Kemarin pas 17an, ada acara aneka perlombaan. Tapi tidak ada hadiah untuk pemenang. Semua murid adalah pemenang karena sudah mau mencoba dan berusaha. Satu lagi asyiknya, sebulan sekali ada parenting class bersama Bunda dan psikolog, gratis. Plus orang tua murid disini akrab satu sama lain. Saya bahkan punya teman-teman sarapan baru :D.

Alhamdulillah cita-cita saya (dan suami) buat menyekolahkan anak di tempat yang bikin anak senang dan emak bapak tenang insyaAllah tercapai. Dan tentunya kami berdoa, Aisyah (dan Rafa kelak) akan selalu menikmati bersekolah dan ingin belajar terus. Semoga sekolah pertama Aisyah ini bisa menjadi pondasi untuk menguatkan niat belajar Aisyah sampai kapanpun. Aamiin.

Analytical Parenting

by | | 0 comments
Disclaimer: don't be fooled by the title. This post is merely curhat as usual.

Orang tua jaman sekarang memang berbeda dengan orang tua jaman dulu, terutama dalam pola didik dan pola asuh. Minimal, saya merasa pola didik dan pola asuh saya berbeda dengan orang tua saya.
Thanks to the internet, orang tua jaman sekarang bisa dengan gampang mengakses teori-teori dan perkembangan terbaru dari dunia pendidikan dan pertumbuhan anak. Ini bikin orang tua sekarang terlihat lebih involve dalam perkembangan dan pendidikan anak.
Bukannya dulu orang tua membiarkan anaknya tumbuh sendiri macem toge sih, tapi kelihatan aja sekarang banyak orang tua baru yang lebih kritis dan lebih terlibat.

Contohnya dalam hal sekolahan. Sadar ga sih kalau orang tua angkatan mama papa kita kalau milih TK buat anaknya biasanya kriteria utamanya adalah deket rumah. Ga terlalu mikirin sistemnya gimana, atau cara interaksi guru dan muridnya gimana. Sementara orang tua jaman sekarang biasanya browsing dulu di internet sampe mabok, terus survey lokasi sampe mabok, lalu trial,sampe,mabok, dan akhirnya daftar setelah menyingkirkan sekolah yg sistemnya (dianggap) kurang oke, interaksi guru-muridnya dianggap kurang cocok, dan biayanya ga bikin mabok. Agak jauh dari rumah nggak apa-apa, asal anak senang, ortu tenang. Contoh orang tua seperti ini adalah saya.

Ga berenti sampai situ, karena terbiasa terpapar dengan banyak informasi soal pendidikan dan perkembangan anak, orang tua jaman sekarang pun terbiasa menganalisa tingkah laku anaknya. Contoh ya, kalau orang tua jaman dulu anak lakinya doyan berantem, ga terlalu khawatir. Karena mereka percaya, ya memang begitulah anak lelaki. Atau anak perempuannya cengeng, ga risau juga. Karena percaya, anak perempuan sensitif itu wajar adanya. Beda sama orang tua jaman sekarang. Setelah satu bulan sekolah anaknya masih susah berteman, khawatir anaknya kuper. Anaknya sering mimpi dan kebangun di malam hari, risau anaknya memendam sesuatu. Dan biasanya langsung car referensi dari internet, atau tanya guru/ahli perkembangan anak. Contoh orang tua jaman sekarang yang seperti ini adalah saya.

Mungkin ya, kekhawatiran dan kerisauan yang muncul ini selain karena berbagai info sana-sini, pun karena ada keinginan sang anak tidak tumbuh kuper seperti emaknya dan tidak inntrovert seperti emaknya. Banyak analisa yang saya lakukan soal perkembangan anak-anak saya dikala saya lagi bengong senggang. Biar keren, saya menyebut ini sebagai analytical parenting. Ya asal jangan kebanyakan analisa tapi ga ada action juga, sik.

Nah anyway, saat ini saya sedang menganalisa kelakuan baru si bocah cewek. Awal-awal sekolah dia mau aja ditinggal dan langsung nempel sama gurunya pas baru dateng. Tapi sekarang kenapa ya kalau saya antar sekolah dia pasti nempel terus sama saya dan ga mau lepas sampai bel masuk plus harus saya antar sampai pintu kelas?

Udah dibilangin, kan, ini cuma curhat.

Waiting for The Sun to Shine

by | | 0 comments
Some decisions are not for us to make. Even if it's affecting our life, our very personal life. Even if our sanity is at stake. Even if it's been going on repeatedly and clearly stated.

The truth is, to someone, we're not that important. No matter how much we try to say and do, we're probably just a bunch of 'can do later, but not now'. Because for someone, a lot of more important things are happening. But not our life. And perhaps, will never be.

What's left to do now is try to stand tall, stand firm on our own feet. Build our own future and not to let our life ruined. Because we're waiting for too long and don't know how much longer we will have to wait, because we don't know how much longer can we stand being like this.

Now, the question is, will you take my hand and throw your hestitation away?