Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Pengajian bersama Abu Marlo, In My Humble Opinion

by | | 6 comments
Gara-gara sarapan di Lawang Wangi tadi pagi, jadi ngobrolin soal pengajian Abu Marlo (magician lulusan The Master nya Dedy Corbuzier) sama teman-teman baru (baca: emak-emak hobi ngunyah dari sekolahan Aisyah). Baru tau ternyata Abu Marlo sekarang punya acara dakwah sendiri di ANTV. Dan baru tau juga ternyata acara ini menuai banyak kecaman. Mulai dari yang mencap Abu Marlo menafsirkan Al Qur'an sembarangan sampai yang menuduh Abu Marlo mengajarkan aliran sesat.

Saya pernah sekali ikut pengajian Abu Marlo. Waktu itu masih berupa pengajian kecil bersama teman-teman sepergaulan Abu Marlo. Saya sendiri hadir bukan karena gaulnya bareng Abu *ah siapalah saya ini*, tapi karena diajak seorang sahabat baik saya yang memang sudah lumayan lama mengikuti pengajian tersebut. Dan bermodalkan sekali datang itulah saya ingin berbagi pendapat saya soal 'cara berdakwah' Abu Marlo. Mudah-mudahan bisa objektif dan tidak memancing debat kusir tak berkesudahan. Dan pandangan saya ini murni pandangan pribadi sebagai orang awam yang pengetahuan agamanya biasa aja, serta tentunya dengan tidak mengurangi rasa sayang dan rasa hormat pada sahabat saya yang sudah berbaik hati mengajak saya untuk hadir.

First of all, saya memuji Abu Marlo yang bisa hapal Al Qur'an dalam waktu singkat. Dan saya memuji juga niatan Abu untuk berbagi ilmu, dimulai dari teman-temannya sendiri. Sahabat saya bercerita, bahwa awalnya Abu Marlo mengikuti pengajian yang dipimpin oleh Kang siapa ya *maaf lupa* di sebuah rumah di kawasan Bandung Utara, dan dari situlah dia berniat untuk bisa menghapal Al Qur'an. Dan dalam waktu singkat ternyata Abu mampu menghapalnya. Sampai situ saya kagum pada kemampuannya.

Sayangnya (atau untungnya?), ketika menghadiri pengajiannya saya merasa kurang sreg. Bukan dengan cara penyampaiannya, tapi dengan metode 'penafsiran' Al Qur'annya. Kenapa penafsirannya saya kasih tanda petik? Karena dari awal, saya sudah bingung. Kok terjemah Al Qur'an ditafsirkan mentah-mentah. Diartikan sebagaimana kalimatnya. Padahal, kita semua tau kalau 'terjemah' dan 'tafsir' itu beda (kalau yang belum tau, sila googling saja ya). Dan, CMIIW, untuk bisa menafsirkan Al Qur'an gak bisa cuma bermodalkan hapal Al Qur'an saja. Tapi juga harus dibarengi ilmu tajwid, ilmu fiqh, ilmu tarikh, dll. Selama pengajian saya jadi banyak bingung karena kok ada ayat-ayat yang penafsirannya melenceng. Tapi waktu itu saya diem aja sih, soalnya takut saya yang salah (karena toh memang pengetahuan agama saya nggak seberapa). Tapi ternyata pas pulangnya, si suami yang ikut juga pengajian waktu itu, sama-sama merasa ada yang salah dari cara penafsiran Abu. Sejujurnya saya juga sempat bertanya-tanya, Abu Marlo ini hapal ayat-ayat Al Qur'an atau hapal terjemahannya saja ya? Kok selama pengajian dia hanya membacakan terjemah, tapi tidak pernah membacakan ayat dalam bahasa Arab. Tapi saya berpikir, oh mungkin karena ingin menyampaikan dalam bahasa yang dipahami kami-kami yang awam ini, maka dia lebih memilih langsung membacakan terjemahan Bahasa Indonesia nya.

Pendek kata pendek cerita, saya dan suami memutuskan untuk tidak lagi menghadiri pengajian tersebut. Bukan karena takut disesatkan (siapalah kami ini ngecap orang 'sesat' sembarangan), tapi semata-mata karena alasan bahwa cara pandang kami terhadap penafsiran Al Qur'an berbeda dan kami nggak mau hadir disitu tapi hati kami meragukan.

Nah, sekarang balik lagi ke urusan pengajian Abu Marlo ini: salahkah? Kalau dilihat dari niatan baiknya untuk berbagi ilmu, tentu tidak salah. Tapi metodenya mungkin harus diperbaiki. Ada baiknya untuk penafsiran ayat-ayat Al Qur'an disampaikan oleh ustadz yang memang latar belakang pendidikian agamanya baik, sementara Abu Marlo bisa berbagi ilmu menyampaikan teknik menghapal Al Qur'an nya. Atau lebih baik lagi bila dilengkapi belajar membaca Al Qur'an, khusus buat yang belum baik bacaan Al Qur'an nya (seperti saya). Supaya anggota pengajian tidak cuma mampu menghapal terjemah Al Qur'an aja, tapi menghapal juga ayat-ayatnya. Lalu pengajian ini sesatkah? Duh, saya nggak berani seenaknya menunjuk orang lalu bilang dia sesat. Tapi kalau bertahan dengan metode penafsiran mentah-mentah seperti ini, khawatir makin banyak penafsiran ayat yang melenceng dan bisa menyesatkan mereka yang kurang jeli.

Tapi ini cuma pendapat saya, ya. Saya yang - sekali lagi - pengetahuan agamanya nggak seberapa ini. Mudah-mudahan (lagi-lagi) sekali lagi, bisa membantu kita berfikir jernih dalam menyikapi isu ini.

Wallahu'alam bissawab :).

Kenapa Semua yang Enak-enak Itu yang Dilarang?

by | | 2 comments
DISCLAIMER:
Postingan ini akan sangat menyebalkan bagi sebagian orang. Oh ya, dan mengandung unsur SARA juga, lho.

Belakangan ini kehidupan kita diramaikan dengan berbagai fatwa haram, baik yang datang dari MUI maupun yang bukan dari MUI. Dan fatwa-fatwa haram ini menimbulkan reaksi yang cukup beragam. Ada yang langsung protes, ada yang setuju, ada pula yang nggak peduli.

Beberapa diantara fatwa yang cukup bikin heboh adalah fatwa haram foto pre-wedding dan fatwa haram rebonding. Yang lucu, begitu mendengar soal ini, berbondong-bondong lah orang protes. Bahkan gak sedikit yang menghujat MUI. Apalagi di twitter. Padahal, pertama, yang ngeluarin fatwa ini bukan MUI. Tapi sebuah pondok pesantren putri. Setelah saya baca artikel mengenai hal ini, pun yang kena fatwa haram dua hal diatas tadi hanya siswi-siswi ponpes itu. Dan kedua, kalau mau pake logika sedikit dan mengurangi emosi, kita *atau seenggaknya saya* bisa paham kenapa foto pre-wed dan rebonding diharamkan. Soal foto pre-wed, diharamkan karena banyak foto pre-wed yang pake adegan peluk cium. Lah kaga usah pake difoto aja, bersentuhan dengan non muhrim dengan syahwat sudah haram adanya kok. Jadi mungkin - mungkin lho - kalo fotonya nggak pake pegang-pegangan - sekali lagi : mungkin - gak apa-apa kali *tetep gak yakin :D*. Soal rebonding. Berhubung pengetahuan agama saya masih cetek banget, jadi ini pake mungkin juga lho yah. Mungkin yang diharamkan itu, kalau abis rebonding jadi pengen ngeliat-liatin rambut ke semua orang. Seperti kita semua ketahui, setelah rebonding memang rambut jadi terlihat indah tergerai bagai bintang iklan sunsilk, wajar kalau ada keinginan menunjukan rambut indah yang merupakan aurat peremouan itu ke semua orang. Jadi - kali ya - daripada para siswi ponpes setelah dibonding jadi pada buka jilbab pengen pamer rambut baru - ya mendingan diharamkan aja sebagai tindakan pencegahan.

Yang selanjutnya, ini heboh bener nih. Fatwa haram merokok. Yang ini bahkan lebih mengundang emosi lagi. Terutama buat yang ngerokok. Lah perokok dilarang ngerokok aja bisa ngambek, apalagi diharamkan. I know because my hubby and my daddy is perokok berat *hiksh*. Anyways. Kalau buat yang nggak ngerokok kaya saya, fine-fine aja dengan diharamkannya merokok ini. Menjadikan lingkunagn lebih bersih dan sehat toh? Tapi tentu para perokok punya dalih lain: bagaimana dengan nasib petani tembakau? Dengan nasib buruh pabrik rokok? Gimana ya ? Hehe. Kalau saya sih percaya ketika ditutup satu pintu rejeki, Allah membukakan pintu rejeki yang lain. Jadi insyaAllah akan ada rejeki yang lebih barokah buat para petani tembakau dan buruh pabrik rokok. Lagian daripada "diskusi" di smoking room sambil maki-maki fatwa haram merokok ini, gimana kalo mulai belajar berenti merokok dan mendiskusikan jalan biar petani tembakau dan buruh pabrik rokok bisa dapet jalan rejeki lain?

Anyhoo, kenapa sih orang-orang begitu gampang tersulut emosinya mengenai fatwa haram ini? Sebetulnya kalau mau lebih pake otak dan nggak pake urat, semuanya bisa kita bikin lebih enak. Kaya soal rokok ini. Sebetulnya semuanya udah tau kalo rokok nggak ada bagus-bagusnya buat badan. Apalagi buat perokok pasif. Kalau sangat sadar hal ini, sayang diri sendiri dan sayang keluarga, nggak perlu ada fatwa haram. Tinggal berenti. Susah? Saya tau susah, tapi kalau kita terus bilang "susah" ya sampai kapanpun nggak akan ada usaha. Udah usaha tapi tetep nggak bisa? Terus berusaha. Toh awalnya kita juga nggak bisa ngerokok kan? Tapi karena "usaha" jadi bisa. Kenepa kalau untuk berhenti nggak bisa? Nggak setuju sama saya? Tetep emosi karena fatwa haram merokok ini? Ya sudah, nggak usah peduli. Toh yang sudah jelas-jelas diharakan dalam al Quran - seperti minum-minuman keras - juga masih banyak yang melakukannya.

Lebih jauh lagi, sebenarnya yang bikin saya sedih adalah munculnya fatwa haram ini jadi "ladang" buat mocking MUI. Bahkan di twitter becandaan soal MUI ini pernah jadi trending topics. MUI isinya bukan orang sembarangan. Mereka adalah para ulama, yang notabene pengetahuan agamanya jauh diatas kita (saya). Ketika mereka mengeluarkan fatwa, pasti sudah melalui pemikiran panjang. Bukan hanya masalah like / dislike. Rasanya menyedihkan kalau kita - orang Islam - mocking para pemuka agama yang insyaAllah berusaha membantu kita untuk tidak melenceng dari aturan agama. Apalagi kalau kemudian para ulama ini juga jadi bahan ledekan agama lain.

Jadi nanti lagi, kalau ada fatwa haram yang memancing emosi, janganlah langsung berkoar-koar. Baiknya baca dulu baik-baik, kemudian kalau ada waktu cari refrensi mengenai hal itu, baru diskusi. Jangan lantas marah-marah. Belajar jadi orag cerdas lah kita. Saya juga masih perlu belajar banyak.