Showing posts with label lurve. Show all posts
Showing posts with label lurve. Show all posts

Typical Saturday Night

by | | 0 comments
Sebagai emak bapak dengan dua anak balita, jarang sekali malam minggu kami pergi berkencan atau jalan-jalan keluar. Biasanya kami menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang isu-isu internasional. Seperti malam ini.

Saya: Pap, ntar nonton Running Man yang episode Kim Jong Il ya?
Suami: Hah? Ada?
Saya: Eh Park Ji Sung maksudnya. Hahaha. Tapi kebayang ya kalau ada episode itu..
Suami: Ya ga mungkin juga, udah meninggal Kim Jong Il nya..
Saya: Kalau anaknya Kim Jong Il siapa namanya?
Suami: Heum? *pasang tampang I-know-where-this-is-going*
Saya: Kim Jong San, hahahah..
Suami: *palmface*
Saya: Kim Jong Il punya kembaran, tauk.. Namanya siapa ayoooooo..
Suami: *pura-pura ga denger*
Saya: Kim Jong Sik, hahahahaha..
Suami: ....

Krik krik krik.

Pisah Ranjang

by | | 0 comments
Jam segini (saat ini jam di pojok kanan bawah netbook menunjukan pukul 22:24), memang jamnya rawan kangen. Saya juga lagi kangen sisuami, dan si cikalAisyah. kemanakah gerangan mereka?

Mereka masih berada di satu rumah sama saya, kok. Tapi mereka berdua tidur di kamar orang tua saya di lantai bawah. Dan saya tidur di kamar saya di lantai atas bersama si bungsu, Rafa. Lagi berantem? Masalah rumah tangga?

Ya kagaklah.

Jadi, alhamdulillah kedua orang tua saya diberikan kesempatan berangkat ke tanah suci tahun ini. Saya sih sebenarnya sekarang tinggal di rumah mertua, tapi berhubung adik saya satu-satunya sendirian di rumah selama orang tua saya berhaji, jadilah saya bertugas jadi satpam. Kasian dia kalau pulang kerja malam-malam ke rumah yang sepi dan gelap. Bisi cirambay.

Nah, kamar saya di rumah orangtua saya ini termasuk kamar yang mungil. Soalnya kamar ini memang saya gunakan sejak jaman sebelum menikah dulu. Ga muatlah kalau buat dipake tidur berempat. Dan mungkin karena kamarnya lebih kecil, maka anak-anak saya kalau tidur sekamar suka nggak nyenyak.
Si adik sering susah tidur karena terganggu suara kakaknya yang kaya Jeng Kelin, dan si kakak suka rewel kalau kebangun malam oleh tangisan adiknya yang mirip suara Shinchan.

Jadilah, demi kelegaan dan kenyamanan tidur kami berempat, saya dan suami sepakat 'pisah ranjang' sementara. Saya dengan si bungsu, karena dia masih ASI, dan sisuami dengan si cikal. Ada hari dimana kedua anak kami alhamdulillah bisa tidur dengan tenang, sehingga kami bisa tidur sekamar dan seranjang. Sempit, sih. Tapi mayanlah bisa curi-curi peluk *eh*.

Anyway, ya itulah. Akhirnya malam-malam begini saya sering kangen sama suami dan si sulung. Kadang kalau sudah begini, nunggu si bungsu kebangun, lalu memboyongnya pindah kamar. Atau sebaliknya, sisuami dan si cikal yang nyamperin saya dan si bungsu.

Tapi ada hikmahnya juga, sih, kayak begini. Misalnya lagi ga bisa tidur gini saya jadi bisa ngeblog. Dan semenjak 'pisah ranjang' ini, saya dan suami jadi punya kebiasaan baru. SMSan yang isinya kangen-kangenan. Hihihi.

Beyond Ayah ASI

by | | 0 comments
Suami saya bukan cuma mensupport saya untuk memberikan ASI sampai anak-anak berusia 2 tahun, suami saya bukan cuma menemani saya begadang saat saya menyusui di malam hari, suami saya bukan cuma membantu menggantikan popok, suami saya bukan cuma betah main berlama-lama dengan anak-anak. He's way beyond that.


Ah belum-belum sudah terharu :').

Semenjak hamil anak pertama, Aisyah, sisuami memang sudah sangat perhatian. Dulu itu pas hamil si Aisyah, saya maboknya cukup parah. Tiga bulan pertama cuma bisa tiduran dan bangkit duduk sesekali. Kalau jalan-jalan sedikit (bahkan cuma ke kamar mandi) bisa langsung muntah. Ditambah lagi, saat itu saya cuma tinggal berdua suami di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, karena sisuami lagi bertugas disana. Tapi dengan jam kerjanya yang kadang nggak kira-kira, dia masih sempat mengurus saya. Pagi sebelum berangkat kerja, saat saya belum bisa bangkit dari kasur, semangkuk sereal dan segelas susu sudah tersedia untuk saya. Karena saya nggak mungkin masak, setiap jam makan siang dia menyempatkan diri pulang dan mambawakan nasi dan lauk pauk untuk makan siang kami berdua. Dan saat waktunya kontrol ke obgyn, dia tidak pernah tidak mengantar saya. Dan kadang lebih cerewet bertanya ini itu pada sang dokter.

Saat saya sudah tidak muntah-muntah, dan kami pulang ke Bandung, perhatiannya tidak berkurang. Apa yang saya perlukan (dan inginkan), mulai dari yang penting dan nggak penting hampir semua dipenuhinya. Kunjungan ke obgyn tetap menjadi saat-saat favorit kami bersama. Dan diamasih lebih cerewet tanya ini itu sama dokternya.

Waktu melahirkan, suami saya santai sekali. Dia menggenggam tangan saya dari mulai saya masih bisa ketawa-ketawa sampai AIsyah lahir dengan selamat. Habis lahiran saya baru sadar kalau bekas kuku saya saat menggenggam tangannya waktu menahan mulas terlihat jelas ditangannya. Tapi dia tidak mengeluh. Dia malah menyemangati saya, mengingatkan saya untuk tidak menutup mata saat mengejan, dan wanti-wanti untuk IMD.

Saat si bayi sudah di rumah, dia tidak sungkan membantu mengganti popok. Hampir selalu menemani saya saat menyusui di malam hari, membetulkan letak bantal, atau sekedar mengusap-usap punggung saya. Yes, he's that sweet.

Seiring bertumbuhnya Aisyah, mendiskusikan apa yang baik dan tidak buat Aisyah menjadi obrolan favorit kami. Dari mulai makanan sampai cara mendidik Aisyah, tidak pernah tidak kami diskusikan. Si suami juga sering mengajak Aisyah shalat berjamaah. Meskipun Aisyah pada awalnya belum bisa mengikuti gerakan shalat, tapi diamemperhatikan. Buktinya, usia 2 tahun lebih alhamdulillah AIsyah sudah hapal Al Fatihah.

Saat hamil anak ke-2, Rafa, adalah masa-masa dimana saya sangat menyadari bahwa sisuami adalah orang yang luar biasa. Seperti saat hamil pertama, tiga bulan pertama saya muntah-muntah. Meskipun tidak separah saat AIsyah. Alhamdulillah masih bisa bekerja sedikit dan jalan-jalan. Tapi tetap energi saya tak cukup buat seharian mengurus Aisyah. Untunglah jadwal kerja suami saya tidak terikat, jadi tugas mengurus mandi pagi, mandi sore, dan sarapan pagi aisyah diambil alih olehnya. Bahkan pernah sekali waktu Aisyah sakit dan bangun semalaman. Suami saya membiarkan saya tidur dan dialah yang begadang menemani Aisyah.

Waktu melahirkan Rafa, sama seperti saat melahirkan Aisyah, suami saya ada di samping saya. Dan tetap cerewet minta ASI Exclusive serta IMD. Setelah Rafa di rumah, sisuami masih konsisten dengan tugas memandikan dan menyuapi Aisyah. Bahkan sesekali mengurus Aisyah saat ingin pipis atau pup. Nilai tambahan, sisuami ikut menggunduli Rafa (bukan cuma putong sedikit, tapi menggunduli) saat akikah. Malam-malam, kami berbagi tugas, kalau Rafa yang bangun saya yang menidurkannya lagi. Kalau Aisyah yang bangun, suami yang menidurkanya lagi.

Benar kata orang bahwa menikah membuat kita melihat semua sifat pasangan kita yang kita tidak tahu saat sebelum menikah. Semenjak kami dekat, sebelum menikah dulu, saya sudah merasa bahwa suami saya adalah orang yang sangat manis dengan perhatian yang luar biasa. Tapi setelah menikah, dan terlebih lagi setelah punya dua anak, tedrnyata perhatiannya dulu itu cuma semacam teaser. Aslinya, perhatian dan rasa sayangnya lebih melimpah buat kami bertiga.

You are indeed not a perfect husband, but you are beyond wonderful. And I always pray I can be your beyond wonderful wife, too. I love you, Papski. We love you :*.

Anniversary Story

by | | 0 comments
So yesterday was our 2nd anniversary. Tadinya ga kepikiran mau dirayain atau tukeran kado atau apalah. Bukan karena it's just another ordinary day, tapi karena we celebrate our love everyday *tsah*. Tapi dipikir-pikir - meskipun we celebrate our love everyday - rasanya kurang gimana gitu kalo saya ga bikin sesuatu buat si suami. Akhirnya, karena waktu mepet *yah ketauan deh ga pake persiapan :P*, saya memutuskan untuk mengirimkan surprise lunch buat si suami. Seloyang kecil lasagna super lezat dari Spatula. Ada beberapa alasan sih, pertama karena setiap saya pesen lasagna Si Papski selalu ga kebagian *karena saya habiskan dalam sekejab - obviously*, kedua karena si Papski sering banget skip lunch di kantor, dan ketiga karena juragan Spatula yang baik hati mau menerima orderan mendadak. Hehe.

Malemnya pulang kerja Papski ngajakin kencan. Taelah. Ga mau bilang-bilang kemana. Saya sempet curiga mau diajak makan Indomie telor di Moko, hehe. Tapi kemudian si Papski mengarahkan motor ke salah satu pojokan Dago yang ada tulisan Blackberry nya. Katanya, "Pick your own present". Woohoo! Lasagna berhadiah handphone, hehe. Boleh pilih apa aja asal jangan Xperia, katanya. Berhubung udah ada kecengan, jadi milih-milihnya ga butuh waktu lama. Si Papaki sih sempet berkali-kali nanya apa saya ga mau BB aja. Tapi entah kenapa saya ga pernah ketularan euphoria BB. Saya ngerasa BB berlebihan buat saya. saya cuma ibu rumah tangga yang ga harus terkoneksi ke internet 24/7, pun ga se-mobile itu. Punya toko online, tapi rasanya so far masih bisa ke handle dengan nangkring didepan laptop sambil main sama Asiyah. Singkat kata sungkat cerita, pilihan jatuh ke Nokia E63. Agak jadul sih buat handphone 3G, tapi buat saya fungsinya udah cukup. Ini aja masih ngulik-ngulik agak bingung, hehe. Harganya juga ga terlalu mahal. Jadinya entar-entaran kalau pengen beli ini itu *baju baru, misalnya* gak terlalu malu hati mintanya. Trik emak-emak, hehe.

Kencan kami malam itu ditutup dengan dinner di Gianni's Resto. Kalo lagi punya duit, tempatnya recommended. Dari appetizer sampe dessert semuanya enak. Tempatnya juga cozy, strategis - di Cihampelas, tapi belum masuk kawasan macet.

Overall it was an awesome date, meskipun sempet ditelpon karena Aisyah agak ngadat. Tapi yang paling penting bukan anniversary day atau anniversary date nya. Yang terpenting adalah how we spend our life together. It's a wonderful first two years, and insyaAllah we will have more wonderful years ahead. Amin. I love you, Papski. Thank you for the journey, thank you for being the man of my life *kecups*.