Showing posts with label myhumbleopinion. Show all posts
Showing posts with label myhumbleopinion. Show all posts

Yang Mau-mau Aja

by | | 0 comments

 Mari kita buka tulisan ini dengan kalimat klasik:


It's been years since the last time I write a blog post.

Nggak ada alasan khusus, sih, kenapa saya lama nggak blogging. Mungkin sama seperti sejuta orang lainnya: terlalu sibuk dan teralihkan oleh media sosial (baca: Instagram, X, Thread). Ironisnya (eh, nggak ironis juga, sih), alasan saya kembali menulis hari ini justru karena saya merasa sepertinya saya sudah terlalu terlena (insert song: Terlena - Ike Nurjanah) dengan dunia medsos yang begitu (((memabukkan))).

Beberapa minggu ini saya kepikiran, apa sih sebenarnya yang bikin komentar-komentar di medsos itu begitu liar dan debatnya begitu melelahkan dan tak berujung? Yak, benar. Karena orang nggak dikasih kesempatan buat berbicara (menulis) secara utuh tentang apa yang ada di benaknya. Medsos begitu membatasi (dari segi jumlah karakter dan volume post) penulis buat mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Yang tentu saja, buat orang yang nggak biasa merangkum tulisan bisa menimbulkan penyampaian yang berkesan setengah-setengah. Pun bagi yang kebiasaan tidak mencerna tulisan/video dengan baik, kerap menimbulkan mispersepsi. Dan ini sering menimbulkan kesalah-pahaman yang melahirkan debat kusir, nggak jarang juga berakhir dengan viral tapi salah (yang ditutup dengan permohonan maaf). 

Rendahnya literasi dan kemampuan berpikir kritis generasi masa kini juga saya rasa cukup dipengaruhi oleh media sosial. Anak-anak sekarang (karena aku anak zaman dulu) terbiasa mendapatkan informasi yang singkat dan bertubi-tubi dalam hitungan detik. Jangankan punya waktu buat mencerna dengan baik, ibaratnya, masih kaget udah dapet informasi lain yang sama-sama bikin kaget.

But I'm not gonna talk about social media. Let's talk about how romantic blog is.

Back in the late 90s/early 2000s, blog adalah salah satu cara saya (dan sejuta orang lainnya di masa itu) untuk menulis apapun yang ada di pikiran. Umumnya tulisan di blog terdiri dari beberapa paragraf, sehingga para blogger bisa leluasa mengungkapkan pendapat atau pengalamannya. Hal ini bikin risiko mispersepsi jadi menyempit. Jangan salah, blog pada masa itu nggak melulu isinya serius atau berfaedah untuk kemaslahatan dunia. Nggak. Banyak juga yang isinya pengalaman konyol sehari-hari, pengalaman patah hati, atau sekadar ranting. Tapi, serandomnya isi blog post, umumnya masih sistematis dan "ada ceritanya."

Zaman-zaman blog berjaya juga jaraaaang banget ditemukan debat kusir tak berujung (apalagi yang ditutup dengan kata-kata kasar). Mungkin karena, ya, tulisannya menceritakan sebuah masalah (atau pengalaman) secara utuh. Jadinya pembaca juga memahami konteks dan mampu (berusaha) menempatkan diri di "sepatu" penulis. Diskusi di kolom komentar pun biasanya berjalan santai dan seru. Yah, ini bisa jadi dipengaruhi personality yang berbeda di tiap generasi, sih. Tapi saya rasa privilege untuk bisa bercerita dan menyimak secara utuh juga mempengaruhi.

Jadilah kerinduan saya untuk bisa menulis panjang lebar tentang hal-hal yang seringnya nggak penting, membawa saya kembali ke blog. Seperti awal ngeblog dulu, saya hanya ingin bercerita, menghindari debat nggak perlu, dan bersenang-senang. Dan untuk tulisan pertama setelah sekian lama ini, saya mohon maaf jika bahasanya masih kurang mengalir dan kurang enak dibaca, atau banyak typo (karena akulah Si Ratu Typo). Yah, namanya juga udah lama nggak nulis blog. Belum nemu selahnya, kalau kata orang Sunda mah.

Anyway, meskipun blog (menurut saya) punya segudang manfaat lebih daripada medsos, tapi memang untuk menyimak dan menikmatinya, blog membutuhkan kemampuan fokus lebih. Jadi saya nggak menyalahkan kalau nggak semua orang suka ngeblog atau blog walking (astaga sebuah istilah yang sangat vintage). Seperti judul post saya, blog emmang cuma buat yang mau-mau aja.


*Kalau sekiranya di sini ada adik-adik yang kurang familiar atau masih nggak kebayang blog zaman dulu kaya apa, bisa klik profile di sisi kanan ada blogs saya yang ditulis pada masa-masa kelabilan duniawi.

Menyoal Capres

by | | 0 comments
Belakangan ini media sosial penuh dengan nuansa pemilihan calon presiden Indonesia. Dari mulai yang cuma komentar-komentar iseng, sampai yang terang-terangan kampanye (hitam maupun putih) lengkap tersaji di dinding Facebook maupun linimasa Twitter. Dan sayapun kadang-kadang sering tergoda untuk ikut berkomentar iseng. Lalu kepikiranlah sama saya, daripada saya komentar sekalimat dua kalimat (dan seringkali gantung), mendingan saya tuangkan uneg-uneg saya ke postingan blog. Mudah-mudahan bisa tersalurkan dengan baik dan besok-besok ga posting status bernuansa capres lagi. Jangankan orang yang baca, saya aja bosen nulisnya *lah*.

Di postingan ini, saya nggak akan bahas betapa ngeselinnya mereka yang rajin membagi tautan bernuansa kampanye hitam. Karena semua orang tau (kecuali orang yang menyebarkan tautan itu) betapa ganggu dan ngeselinnya membagi tautan yang berbau fitnah.

Pun saya tidak akan membagi tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing calon presiden. Karena saya bukan juru kampanye, dan soal itu bisa di google. Jangan lupa difilter dulu sebelum ditelan mentah-mentah. Tapi uneg-uneg yang akan saya bagi disini *unegunegkokdibagibagi* adalah apa yang menjadi bahan pertimbangan saya untuk memilih salah satu dari dua capres yang tersedia.

Pertama, saya perlu melihat para capres bukan sebagai pribadi. Bukan hanya melihat sebagai individu perorangan. Maksud saya adalah, ya - kepribadian seorang capres memang penting, tapi bukan itu yang paling penting. dan ya - seorang capres dipilih oleh partai atas dasar capability nya. Tapi tentu saya juga harus mau melakukan riset tentang siapa dan seperti apa partai yang mengajukan mereka. Karena kita nggak bisa menutup mata bahwa dibalik pengajuan capres, selalu ada kepentingan para pendukungnya.

Kedua, pada area yang lebih luas dari "kepentingan para pendukung di belakang capres". Dalam pencalonan presiden, selain partai pengusung, adapula partai-partai dan konstituen lainnya yang terlibat. Sekali lagi saya harus mau melakukan riset tentang siapa saja mereka, apakah mungkin ada motif "berbahaya" dibalik dukungan terhadap salah satu capres.

Ketiga, soal motif "berbahaya" ini jangan cuma kita lihat yang ada di permukaan. Misalnya (catat, misalnya) di capres anu ada beberapa nama yang sak Indonesia Raya tahu bahwa dia "berdosa" atau diduga melakuakn korupsi, sementara di capres itu nggak ada, atau minim. Ya, mereka yang dicurigai korupsi memang berbahaya. Tapi jangan lupakan pula mereka yang namanya dan dosanya tidak (atau belum) diketahui publik. Mereka yang mendanai dan "tak kasat mata", menurut saya, lebih harus diwaspadai. Logikanya, tidak mungkin orang mau menggelontorkan dana sebegitu besar untuk mendukung capres tertentu tanpa ada kepentingan tertentu. Sekali lagi, saya harus riset mengenai nama-nama pendukung dibalik para capres, terutama mereka yang tidak muncul ke permukaan. Mereka yang namanya jarang atau bahkan tidak pernah disebutkan media sebagai pendukung salah satu capres.

Keempat, dosa-dosa masa lalu. Saya sih sebenarnya tipe orang yang ga terlalu susah move on. Dan saya juga tipe orang yang percaya bahwa in time, orang bisa berubah. Tapi tak ada salahnya mempertimbangkan masa lalu para capres. Bukan cuma "dosa" sang calon presiden secara pribadi, tapi termasuk apa yang dilakukan para konstituennya di masa lalu. Kita harus adil dalam menilai hal ini. Jangan sampai kita menggembar-gemborkan kesalahan satu capres di masa lalu, tapi mengabaikan kekurangan capres lainnya.

Kelima, keterlibatan asing. Siapa mau merasakan dijajah lagi oleh bangsa asing? Yang mau, silakan pilih capres yang paling dekat dengan pihak asing. Saya diajarkan bahwa kalimat "dukungan negara asing" adalah bukan melulu kalimat yang indah. Kalimat yang menawarkan mimpi-mimpi, betul. Tapi ketika kita terbangun dari mimpi itu, sering kali kita baru sadar kalau kita ada di atas kapur apek yang bau pesing. Dan siapa yang harus menjemur kasur biar nggak bau pesing lagi? Ya kita lah, masa tetangga sebelah.

Sementara ini, baru ada lima point sih yang jadi perhatian saya. Lalu kesimpulannya, saya pilih siapa? Belum tau, saya masih riset. Saya nggak mau gegabah memilih calon pemimpin yang menentukan nasib bangsa ini. Karena proses memilih calon presiden yang insyaAllah akan membawa kemajuan bangsa tidak mungkin sederhana.

Juara Bandung: Mie Kocok H. Amsar

by | | 0 comments
Ada beberapa jenis makanan (jajanan) khas Bandung yang, menurut lidah saya tentunya, belum menemukan tandingannya. Tentu saja saya berani bilang begitu karena sudah membandingkan rasa masakan sejenis dari berbagai penjual yang berbeda-beda. Nah makanan-makanan yang setelah diperbandingkan baik dari tingkat Kotamadya Bandung sampai skala nasional selalu menjadi makanan paling enak saya beri gelar "Juara Bandung". Bukan "Bandung Juara", da itu mah punya Pak Emil *naon deuih sok disambung-sambungkeun*.

Ehnihwei... Salah satu makanan "Juara Bandung" menurut saya adalah Mie Kocok H. Amsar. Buat yang belum tau mie kocok itu apa, ini adalah makanan sejenis mie kuah yang intinya terdiri dari mie gepeng, toge, dan kikil, yang diberi kuah sop. Kalau ada yang tau mie kocok Kartika Sari atau mie kocok Jalan Banteng, nah mie kocok H. Amsar ini formatnya sama persis dengan mie kocok lainnya, ada mie gepeng, toge, dan kikil, plus kerupuk aci sebagai pelengkap. Terus, apa dong yang bikin mie kocok H. Amsar juara? Mari kita bedah satu-satu...

Pertama, mie nya. Meskipun mie yang dipakai adalah mie gepeng seperti umumnya mie kocok, tapi mie nya tidak bau apu dan kekenyalannya pas. Nggak terlalu keras atau setengah matang, juga nggak terlalu lembek. Toge nya pun begitu, aroma khas toge mentahnya sudah hilang, tapi saat digigit toge masih terasa kres-kresnya. Kemudian kikil alias kaki sapinya dimasak dengan waktu yang cukup lama sehingga empuk dan nggak perlu 'berantem' saat menggigit nya. Dijamin tidak akan ada urat atau sisa-sisa kikil yang nyangkut di gigi (selama giginya rapat dan dan tidak berlubang). Tapi jangan khawatir kikilnya lembek juga, karena meskipun empuk, si kikil ini masih jauh dari lembek.

Selanjutnya, yang menurut saya paling juara dan paling membedakan mie kocok H. Amsar dengan mie kocok lainnya adalah kuahnya!


Lihatlah kuahnya yang kental berwarna kekuningan. Dari foto aja sudah terlihat kalau mie kocok ini kuahnya istimewa. Konon, kuah kental dan gurih ini didapat dari penggodogan kikil yang sampai empuk. Gurihnya juga terasa beda dari gurih penyedap karena dari sari kikilnya sendiri. Hebatnya, kuah kental ini tidak sedikitpun terasa enek, padahal biasanya kuah dari penggodogan kikil berlemak dan enek. Mungkin mereka punya semacam teknik rahasia untuk menghasilkan kuah yang gurih, kental, pas, dan tidak enek. Salah satu syarat makanan juara buat saya adalah tidak perlu menambahkan garam, merica, atau sambal. Nah, mie kocok Amsar ini enak dimakan apa adanya, meskipun untuk mereka yang lebih suka rasa segar pada mie kocok bisa menambahkan jeruk nipis.

Buat yang ingin mencoba kenikmatan mie kocok H. Amsar bisa mampir ke warung mereka di Jl. Sudirman. Warungnya terletak di kanan jalan kalau dari arah pusat kota, sebelum pabrik Marie Tunggal. Buka jam 11 sampai malam, tergantung habisnya jam berapa, tutupnya di hari Jumat.

Sebagai bonus, nih saya ksih foto es campur jeruknya.


Rasa es campur jeruknya sih ga istimewa, tapi cocok untuk menyegarkan tenggorokan setelah melahap semangkuk mie kocok.





Pengajian bersama Abu Marlo, In My Humble Opinion

by | | 6 comments
Gara-gara sarapan di Lawang Wangi tadi pagi, jadi ngobrolin soal pengajian Abu Marlo (magician lulusan The Master nya Dedy Corbuzier) sama teman-teman baru (baca: emak-emak hobi ngunyah dari sekolahan Aisyah). Baru tau ternyata Abu Marlo sekarang punya acara dakwah sendiri di ANTV. Dan baru tau juga ternyata acara ini menuai banyak kecaman. Mulai dari yang mencap Abu Marlo menafsirkan Al Qur'an sembarangan sampai yang menuduh Abu Marlo mengajarkan aliran sesat.

Saya pernah sekali ikut pengajian Abu Marlo. Waktu itu masih berupa pengajian kecil bersama teman-teman sepergaulan Abu Marlo. Saya sendiri hadir bukan karena gaulnya bareng Abu *ah siapalah saya ini*, tapi karena diajak seorang sahabat baik saya yang memang sudah lumayan lama mengikuti pengajian tersebut. Dan bermodalkan sekali datang itulah saya ingin berbagi pendapat saya soal 'cara berdakwah' Abu Marlo. Mudah-mudahan bisa objektif dan tidak memancing debat kusir tak berkesudahan. Dan pandangan saya ini murni pandangan pribadi sebagai orang awam yang pengetahuan agamanya biasa aja, serta tentunya dengan tidak mengurangi rasa sayang dan rasa hormat pada sahabat saya yang sudah berbaik hati mengajak saya untuk hadir.

First of all, saya memuji Abu Marlo yang bisa hapal Al Qur'an dalam waktu singkat. Dan saya memuji juga niatan Abu untuk berbagi ilmu, dimulai dari teman-temannya sendiri. Sahabat saya bercerita, bahwa awalnya Abu Marlo mengikuti pengajian yang dipimpin oleh Kang siapa ya *maaf lupa* di sebuah rumah di kawasan Bandung Utara, dan dari situlah dia berniat untuk bisa menghapal Al Qur'an. Dan dalam waktu singkat ternyata Abu mampu menghapalnya. Sampai situ saya kagum pada kemampuannya.

Sayangnya (atau untungnya?), ketika menghadiri pengajiannya saya merasa kurang sreg. Bukan dengan cara penyampaiannya, tapi dengan metode 'penafsiran' Al Qur'annya. Kenapa penafsirannya saya kasih tanda petik? Karena dari awal, saya sudah bingung. Kok terjemah Al Qur'an ditafsirkan mentah-mentah. Diartikan sebagaimana kalimatnya. Padahal, kita semua tau kalau 'terjemah' dan 'tafsir' itu beda (kalau yang belum tau, sila googling saja ya). Dan, CMIIW, untuk bisa menafsirkan Al Qur'an gak bisa cuma bermodalkan hapal Al Qur'an saja. Tapi juga harus dibarengi ilmu tajwid, ilmu fiqh, ilmu tarikh, dll. Selama pengajian saya jadi banyak bingung karena kok ada ayat-ayat yang penafsirannya melenceng. Tapi waktu itu saya diem aja sih, soalnya takut saya yang salah (karena toh memang pengetahuan agama saya nggak seberapa). Tapi ternyata pas pulangnya, si suami yang ikut juga pengajian waktu itu, sama-sama merasa ada yang salah dari cara penafsiran Abu. Sejujurnya saya juga sempat bertanya-tanya, Abu Marlo ini hapal ayat-ayat Al Qur'an atau hapal terjemahannya saja ya? Kok selama pengajian dia hanya membacakan terjemah, tapi tidak pernah membacakan ayat dalam bahasa Arab. Tapi saya berpikir, oh mungkin karena ingin menyampaikan dalam bahasa yang dipahami kami-kami yang awam ini, maka dia lebih memilih langsung membacakan terjemahan Bahasa Indonesia nya.

Pendek kata pendek cerita, saya dan suami memutuskan untuk tidak lagi menghadiri pengajian tersebut. Bukan karena takut disesatkan (siapalah kami ini ngecap orang 'sesat' sembarangan), tapi semata-mata karena alasan bahwa cara pandang kami terhadap penafsiran Al Qur'an berbeda dan kami nggak mau hadir disitu tapi hati kami meragukan.

Nah, sekarang balik lagi ke urusan pengajian Abu Marlo ini: salahkah? Kalau dilihat dari niatan baiknya untuk berbagi ilmu, tentu tidak salah. Tapi metodenya mungkin harus diperbaiki. Ada baiknya untuk penafsiran ayat-ayat Al Qur'an disampaikan oleh ustadz yang memang latar belakang pendidikian agamanya baik, sementara Abu Marlo bisa berbagi ilmu menyampaikan teknik menghapal Al Qur'an nya. Atau lebih baik lagi bila dilengkapi belajar membaca Al Qur'an, khusus buat yang belum baik bacaan Al Qur'an nya (seperti saya). Supaya anggota pengajian tidak cuma mampu menghapal terjemah Al Qur'an aja, tapi menghapal juga ayat-ayatnya. Lalu pengajian ini sesatkah? Duh, saya nggak berani seenaknya menunjuk orang lalu bilang dia sesat. Tapi kalau bertahan dengan metode penafsiran mentah-mentah seperti ini, khawatir makin banyak penafsiran ayat yang melenceng dan bisa menyesatkan mereka yang kurang jeli.

Tapi ini cuma pendapat saya, ya. Saya yang - sekali lagi - pengetahuan agamanya nggak seberapa ini. Mudah-mudahan (lagi-lagi) sekali lagi, bisa membantu kita berfikir jernih dalam menyikapi isu ini.

Wallahu'alam bissawab :).

Yang hilang dari OSPEK

by | | 0 comments
DISCLAIMER: postingan ini ditulis jam 1 pagi. Mohon maaf kalau ada kalimat atau kata-kata yang agak aneh penempatannya :D.


OSPEK, apa masih perlu? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu tergantung tujuan dari diadakannya OSPEK itu sendiri. Bukan tujuan yang tertulis saja, tapi juga yang tertanam di hati para kakak-kakak senior panitia OSPEK.

Kalau tujuannya untuk gagah-gagahan, ngerjain anak baru, menunjukan senioritas dengan siksaan fisik dan psikis, apalagi untuk melecehkan (juga secara fisik dan psikis) mahasiswa baru, tentu ga perlu lagilah ada OSPEK di muka bumi ini.

Tapi kalau tujuannya untuk menyiapkan mahasiswa baru untuk menghadapi dunia kampus dan dunia kerja kelak, masih bolehlah OSPEK diadakan. Tentunya dengan mengeliminasi siksaan fisik dan psikis berlebihan* di acara OSPEK. (*notice that 'siksaan' dan 'berlebihan' sifatnya relatif)

Saya setuju bahwa OSPEK yang baik dan benar bisa menghasilkan kampus (minimal angkatan) yang solid dan mahasiswa yang tangguh. Meskipun, tentu OSPEK hanya salah satu faktor yang bisa menghasilkan kekompakan dan ketangguhan, dan bukan syarat mutlak untuk itu. (Saya dulu berkuliah di kampus yang tidak mewajibkan OSPEK, pun saya tidak ikut OSPEK, tapi kami cukup solid and my university years was cool - socially and academically).

Acara OSPEK memang menjanjikan kekompakan dalam senang apalagi susah. Bagaimana tidak, hampir setiap hari (bahkan selama setahun pertama untuk para calon engineers!), senior mengawasi adik-adik barunya. Yang salah satu orang, yang kena seangkatan. Acara OSPEK juga hampir pasti melahirkan mahasiswa baru yang tangguh. Karena tak cukup hanya bergelut dengan tugas dari dosen (di dunia akademis yang sama sekali baru dan berbeda dari SMA), mahasiswa baru juga harus mampu memenuhi tugas dari para senior. Dan yang paling terasa adalah, OSPEK memunculkan rasa bangga dan rasa cinta terhadap kampus. Tentu saja, selama masa OSPEK hampir setiap saat mahasiswa baru disuguhi success story almamater, para senior, para dosen, dan para alumni. Dan pada beberapa kasus, OSPEK juga berbonus jodoh. Minimal college sweet heart, lah.

Secara pribadi, saya mengamini OSPEK (sekali lagi, yang tanpa siksaan fisik dan mental yang berlebihan) bisa menghasilkan banyak hal positif untuk para mahasiswa baru. Hal-hal positif yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi pola pikir dan cara pandang si mahasiswa baru. Bahkan sampai dia sudah bukan mahasiswa baru lagi. Bahkan sampai dia sudah lulus dan terjun ke masyarakat. Otomatis, ini juga akan berpengaruh pada kualitas lulusan yang pastinya mengangkat (atau menjatuhkan) nama almamater. Dan banyak perguruan tinggi (berkualitas) yang sudah membuktikan keampuhan OSPEK ini.

Tapi ada satu hal yang saya rasa, terlupakan oleh panitia dan pembimbing OSPEK. Karena 'hasil' OSPEK ini akan berpengaruh sampai kelak, mestinya yang ditanamkan pada mahasiswa baru bukan cuma 'sebagai mahasiswa kampus anu saya harus tangguh, cerdas, visioner, and the blahblah' atau sekedar kebanggaan pada almamater.

Justru (IMHO!) yang paling penting ditanamkan dalam OSPEK adalah, 'sebagai mahasiswa kampus anu yang tangguh, cerdas, dan sangat bangga pada almamater, saya harus rendah hati'. Karena mau tak mau, kelak para mahasiswa baru ini akan terjun ke masyarakat, akan berbaur, akan bertemu orang lain yang bukan hanya tidak satu almamater dengan mereka, tapi juga bahkan tidak memiliki cara pandang dan pola pikir yang sama. Pada para mahasiswa baru ini harus ditanamkan bahwa, kelak, dunia nyata yang akan mereka hadapi lebih luas dan lebih heterogen daripada kampus mereka. Mahasiswa baru ini harus diingatkan untuk seperti air, bisa menempatkan diri dan mengukur diri sesuai 'wadah' tempat mereka berada. Tidak perlu membeku, menguap, atau menyublim. Cukup tetap menjadi air yang bisa menyesuaikan diri dengan 'wadah'.

Banyak contoh, alumni perguruan tinggi-perguruan tinggi ternama yang dianggap sombong dan 'tinggi' karena merasa 'paling (top)' dibanding lulusan perguruan tinggi yang kurang ternama. Iya, mereka pandai, mereka brilian, tapi kalau tidak bisa diterima di lingkungan sekitar maka kualitas mereka sebagai manusia akan berkurang. Yang paling gawat adalah mereka yang tahu bahwa mereka congkak, tapi merasa berhak untuk congkak karena mereka cerdas. I have the right to become a bitch because I am brilliant. Di lingkungan yang homogen, ungkapan dan perilaku itu mungkin 'lucu'. Tapi di lingkungan yang heterogen, bisa-bisa orang seperti ini tidak mendapat tempat, dan tidak dihormati.

Jadi, ternyata mendidik mahasiswa baru untuk siap mengahadapi hidup ini tidak sederhana. Tidak cukup hanya dengan membangun kecerdasan dan membentuk kepercayaan diri, tapi juga menanamkan kerendahan hati. Dan ini menjadi salah satu PR untuk penyelenggaraan OSPEK yang sukses.

Gravity: For If You Think 'Cast Away' was Devastating

by | | 0 comments
Akhirnya! After almost a year watching it's trailer on Warner TV, we're watching Gravity (in 3D) at Blitzmegaplex. Yus, it was a movie date with husband. Squeezing a 90 minutes between visiting a relative who was hospitalized and taking stuff from a friend's gallery.

And it was the most devastating ninety frikkin' minutes of my life - in a good way. I mean imagine you are cluelessly (if there's such a word) flew around the space on your first mission with no communication and a chance of sudden space debris heading to you, trying to make your way home. Imagine Cast Away, but in outer space where oxygen is limited, and you barely recognize everything around you. How can it's not devastating?

Adegan dibuka dengan tiga astronot yang melayang-layang di luar angkasa. Adalah Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock), seorang ahli bio-medical yang sedang melakukan misi pertamanya ke luar angkasa untuk memasang sistem baru di satelit, Matt Kowalsky (George Clooney) seorang veteran astronot yang memimpin misi, dan Shariff, seorang engineer. This was their last day on space, and everything went smooth. Sampai Houston melaporkan adanya 'serangan' pecahan satelit Rusia yang baru diledakan. Situasi yang tadinya tenang berubah penuh kepanikan. Serpihan-serpihan satelit dngan kecepatan tinggi menabrak semua, termasuk kapal luar angkasa Explorer yang menjadi tumpangan dan rumah mereka di luar angkasa.

Meskipun mood penonton untuk deg-degan sudah dibangun sejak awal, tapi buat saya, film baru benar-benar dimulai setelah hujan space debris ini. Dr. Ryan Stone bergelung di gravitasi nol, dengan kabel menjuntai disekitarnya, persis seperti di dalam rahim. Setelah itu, dimulailah berbagai usaha penyelamatan. Selama film saya banyak menahan napas mengikuti usaha-usaha penyelamatan diri sang astronot untuk kembali ke bumi. Mulai dari kepanikan saat terlempar sendirian, sampai berusaha menguasai alat-alat baru yang selama ini hanya dikenal di simulasi. Mulai dari ketegangan saat komunikasi terputus, sampai saat-saat genting ketika oksigen menipis. Tapi jangan khawatir akan ikut kehabisan oksigen juga karena terlalu lama menahan napas. Beberapa kali ketegangan-ketegangan ini juga dicairkan oleh dialog-dialog kocak Clooney yang berperan sebagai astronot berpengalaman, yang berusaha menenangkan astronot lainnya.

Semakin lama menonton film ini, saya merasa bahwa Gravity bukan semata-mata bercerita tentang misi penyelamatan diri, tapi tentang hidup dan kehidupan. Bahwa manusia ternyata, literally, memang hanyalah sebentuk benda mikroskopis di alam semesta, yang tak berdaya tanpaNya. Dan bahwa kita lahir untuk kemudian selalu berusaha untuk survive. Dalam usaha survive tersebut, ada kalanya kita merasa sudah berhasil, tapi ternyata di depan kita masih ada halangan. Dan ada kalanya kita merasa gagal, tapi ternyata Tuhan masih memberi kita jalan untuk terus, secara misterius.

Terlepas dari jalan ceritanya yang bikin saya penasaran untuk terus menonton, film ini berhasil menggambarkan keindahan luar angkasa, dan bumi dilihat dari luar angkasa. Scoring nya juga sangat mendukung jalan cerita. Ada momen dimana kita diajak menikmati kesenyapan luar angkasa, ada juga momen menegangkan dengan suara yang tidak terlalu menggelegar, tapi membuat kita ikut merasakan ketegangan dan kepanikan para tokoh.

All in all, this is a good movie to watch with your friends, your loved ones, or even on your own (the third option is for weird people like I who enjoy watching movie alone). For some people with very technical way of thinking it might be a bit boring, but for people who love to seek the meaning behind a story line, Gravity is a must watch.


SPOILER ALERT. Tulisan di bawah ini tentang annoying couple sitting next to us dan agak nggak ada hubungannya sama jalan cerita film, but I just have to tell this. And I've tried my best not to spoil the story, but I just can't. Kalau belum nonton dan penasaran, mendingan baca bagian ini tar aja abis nonton, hehe..

So, there will always be those stupid people who's talking during the movie. Commenting on every frikkin scene, asking (or informing!) about something that is very obvious. At first I was worried about the ABGs on back row. But apparently, the real danger was the stupid couple with stupid girlfriend next to me. I shoosh her once for talking too much, but she just ignored that. I mean her comment was really stupid and loud! I think the whole theater could hear her.

When the astronauts trying to reach the International Space Station after the catastrophe:
"Itu di ISS nya ada orang ga sih?"
We don't know yet. Don't we?!

On the 'fetus like' scene.
"Ih kaya bayi!"
Yes, we all can see that. Wa share the same big screen, aren't we?

When Stone trying to cut some rope to escape:
"Cepetan! Jangan liat-liat dulu!"
Thank you for the advice. But that won't help her to go faster. And that surely won't help us - the other audiences you share this theater with - to feel better.

When Stone accidentally bumped her head while trying to put fire off:
"Bego!"
LOE YANG BEGO!!!

When Kowalsky opens the door while Stone is not wearing her helmet:
"Itu kebakar ya mukanya? Kebakar ya?"
Well if so, this movie would end right there, no?!

And when I just thought it was only the girlfriend who's stupid, suddenly the boyfriend (which I almost advice him to find a smarter girlfriend) commenting on even louder voice.
"Hah kodok? Oh ini mah di danau! Danau Zurich udaaahhhh!"
*imagining pouring hot popcorn butter to him*

I start to think they were the same match-made-in-heaven-made-for-each-other-couple who sat next to us when we watched Argo sometimes ago. The girlfriend's comments is as stupid as the one when we see KFC on one of the scene.
"Ihhhh KFC!"
YES WE ALL CAN SEE!

There should be a service in every movie theater that allows us to know which seats are free from potentially annoying audience(s).



Mendadak Skin Care

by | | 0 comments
Ahoy. Udah lama ga nongol. Ini gara-gara ga pede sama penampilan wajah belakangan ini *alesan*. Hahaha..

Eh tapi beneran, sih, udah beberapa minggu ini kalo ngaca ga suka banget liat muka. Bukan sama bentuknya, kalau bentuknya mah alhamdulillah gitu-gitu aja dari dulu, ga mengecewakan. Tapi sama tone dan kondisi kulitnya itu loh. Ya kulit muka saya emang ga pernah putih-putih amat(dan ga pengen jadi putih kaya di iklan kosmetik juga, sih), tapi belakangan ini kulit muka bener-bener kusem, gampang berminyak, bruntusan, dan komedo yang mayan ganggua. Iyuh. Kalau difoto setelah beraktifitas pasti hasilnya butut karena muka sangatlah greasy plus warna kulit yang kusem se kusem-kusemnya.

Kekuseman muka ini emang masalah yang come and go. Tapi kayanya ga pernah separah ini. Emang sih semenjak punya anak dua kerasa banget perwatan wajah terlupakan. Kalau dulu masih sempetlah maskeran minmal dua minggu sekali. Sekarang mah boro-boro. Kalau ga kemana-mana pakai pelembab pun tak pernah, apalagi bedakan. Diperparah lagi sama masalah klasik angkoters dan motoris yaitu kena ekspose sinar matahari dan debu yang berpotensi menyumbat pori-pori.

Perawatan muka selama ini memang saya akui minimal banget cuma pake sabun pembersih dan pelembab, plus bedak tabur. Sangat tidak melindungi, memang. Oiya sempet pake masker Saripohatji. Mayan ngefek sih karena sempat pake selama 2-3 kali, dan keliatan kulit muka jadi lebih kenyal dan bruntusan di jidat berkurang. Tapi ya itu tea, kadang suka males sibuk gitu deh, jadi ga sempet buat nyeduh maskernya dan ngolesin ke muka. Jaman-jaman gadis dan awal nikah sempat menjadi pasien setianya dr. Rasmia yang praktek di Cibadak. Tapi berenti. Bukan karena ga cocok (cocok banget malah) atau karena bikin bangkrut (biayanya dibawah rata-rata dokter kulit terkemuka di Bandung), tapi karena kalau mau kontrol daftarnya harus 2 hari sebelumnya dan ngantrinya tetep berjam-jam. Ga ada waktu deh kalau udah punya dua anak begini.

Anyhoo, akhirnya demi kemaslahatan bersama mulailah saya brosang-brosing cari skincare yang sekiranya pas di wajah dan cocok di kantong. Pokoknya keywordnya: buat kulit kombinasi berminyak, ga bikin muka mengkilat, teksturnya ringan, dan kalau bisa dibawah 100rb harganya. Hey jangan kau kira aku tak mau pakai merk lokal (secara merk lokal mah hampir pasti harganya dibawah 100rb),tapi dari mulai Olay (anggap aja merk lokal lah ya), Sariayu, sampai Gizi Super Cream gak ada yang memberikan efek yang signifikan. Cocok sih cocok aja, ga bikin jerawatan dsb, tapi ke muka juga nggak ngefek. Minyak tetep, cakep kagak. Pengen nyoba SK II tapi takut. Takut cocok, terus ga mampu beli, terus ngebatin. Hihihi. Untungnya setelah browsing sana-sini dang ngobrol-ngobrol, nemu Kiehl's. Tekad sudah bulat dan kayaknya hati cocok sama Kiehl's, sayapun mampir ke tokonya. Saya disaranin pake yang Ultra Facial Oil Free yang di jar biru. Harganya yah mayan mahal, sih, 290rb. Tapi mengingat harga segitu bisa dipake buat 4-5 bulan, ya udahlah yah. Sebenernya sih disaranin buat pake complete range nya (face wash dan toner juga). Tapi berhubung ceritanya mau nyobain dulu, jadi ambil moisturiser gelnya dulu. Pulangnya dikasih sample sabun muka dan BB Cream yang ada SPF 50/ PA +++ nya. Ihiy.

Setelah tiga hari nyoba, memuaskan nih hasilnya. Alhamdulillah, yah. Muka jadi ga terlalu berminyak padahal seperti biasa disiksa dengan debu dan panas matahari. Cuma emang sih buat mengenyahkan kekusaman wajah perlu perawatan yang lebih komplet. Jadi, selain sepertinya akan mengaktifkan kembali Saripohatji, pun berencana membeli beberapa produk perawatan lain kayak si Cure Natural Aqua apalah itu yang berfungsi buat exfoliating dan sunscreen tentunya! Cuma sunscreen masih bingung pake apa, pengennya sih make yang SPF 50 sekalian, tapi takut oily jadinya. Tertarik sih sama Skin Aqua dan sunscreennya L'Oreal. Tapi Skin Aqua di botolnya tertulis moisturiser. Masa nanti jadi dobel pake moisturisernya? Sementara si L'Oreal katanya mengandung paraben. Serem ah. Oiya si sampel BB Cream dari Kiehl's itu udah dicoba sih, dan enakeuuuunnnnn.. Tapi harganya 550rb aja. Mikir-mikir dulu, deh. Kemarin aja si suami pas dikasi tau harga moiturisernya meskipun bilang "Nggak apa-apa", tapi mimiknya memunjukan, "Apaaaahhhh?! Moisturser seharga sepatuuuuuu?!". Hahaha. Selain itu juga masih mikir-mikir sih buat pake BB Cream. Meskipun BB Cream Kiehl's yang ada SPF 50 nya ini ringan, tapi tetep aja di bayangan saya BB Cream itu kaya foundation karena tinted. Jadi buat sehari-hari kayaknya terlalu repot berat. Atau kalau pun mau coba mungkin akan mencoba merk Korea atau merk lokal yang lebih murside.

Bulan depan sih kalau punya duit pengen mulai mengkoleksi skincare yang lengkap. Biar makin ketje dan yang pasti kulit sehat. Mungkin bisa dimulai dengan membeli produk sampel yang dijual di online stores. Doakan sakseus yah. Kalau kamu, skin care yang kamu pakai apa aja? Mungkin bisa dibagi pengalamannya :D..

'Standar Ganda' untuk Warga Negara Kelas Dua

by | | 0 comments
Sudah lama sebenarnya menyimpan unek-unek ini, tapi baru kepikiran buat di posting di blog sekarang. Ini pengalaman pribadi yang mungkin bayak dirasakan orang lain. Penderitaannya memang gak seberapa, tapi kalau ditumpuk-tumpuk bikin ngebatin juga.

Sehari-hari saya berkegiatan, selain naik angkot (atau sesekali naik taksi kalau bawa barang banyak dan sama anak-anak), saya juga sering diantar sisuami naik motor. Selama tidak hujan bada(g)i dan matahari tidak terlalu menyengat, motor merupakan moda transportasi favorit saya. Selain bisa lebih cepat sampai tujuan, hemat bahan bakar, pun nggak susah cari parkir.

Eh, ga susah cari parkir? Belum tentu.

Di era dimana sepeda motor merajai jalanan Indonesia ini *tsah* tetep aja sih susah cari parkir, apalagi kalau ke mall di senja yang cerah pada akhir pekan, atau ke pasar baru. Padahal semua motor diparkir dengan standar ganda. Yaitu standar dua pada motor yang menyebabkan motor parkirnya bisa tegak dan tidak miring sehingga tidak memakan tempat banyak (kalau masih nggak mudeng, sila lihat foto di bawah ini).

Contoh Parkir Standar Ganda (bukan motor saya)


Cuma ya saya nggak mau ngomel soal susah cari parkir, itu sih udah resiko pergi ke tempat yang banyak pengunjungnya. Yang mau saya keluhkan adalah kondisi parkiran motor yang di sebagian besar pusat perbelanjaan yang 'kurang manusiawi'.

Tipe parkiran motor kurang manusiawi pertama adalah parkiran di pusat perbelanjaan besar dan letaknya outdoor. Yang menyebabkan kalau matahari panas terik, saat naik bokong serasa disetrika dan saat habis hujan jok menjadi basah kuyup. Belum kalau lupa ninggalin helm dalam keadaan bagian lubang kepala menghadap keatas. Wassalam. Belum cukup sampai disitu, letak dari parkiran motor ke pintu masuk pertokoan amat sangatlah jauhnya. Sehingga saat masuk dan keluar pertokoan, rasanya habis bolak-balik dari Safa ke Marwah.

Tipe parkiran motor kurang manusiawi yang kedua adalah parkiran di basement paling bawah. Itupun kadang lahannya cuma sedikit. Yang paling mengganggu dari parkiran motor di lantai basement paling bawah adalah panas dan pengap. Kondisi ini sangat menyiksa saat antri keluar parkiran. Saat 'peak time' keluar parkiran, antri keluar motor bisa 15 menit sampai setengah jam sendiri. Iya, selama itu. Karena kalau mau keluar parkir motor biasanya ada upacara periksa STNK. Mending kalau parkiran di basement tapi pemeriksaan tiketnya di lantai atas, atau aksesnya dekat jalan menuju ke lantai atas (apa itu jalan nanjak yang meliuk-liuk di parkiran namanya saya nggak tau). Tapi coba bayangkan kalau pemeriksaan tiketnya disitu-situ juga dan tempatnya nun jauh di pojok jauh dari akses jalan keluar. Dalam kondisi minim ventilasi ada dua puluh atau tiga puluh motor yang antri keluar dengan mesin menyala, berapa banyak racun yang terisap paru-paru kita? Dan bayangkan juga petugas tiket parkir yang seharian bekerja disitu, berapa banyak racun yang mereka isap setiap hari?

Kenapa tidak ditukar saja sebagian parkir mobil tidak dipindah outdoor dan parkir motor dipindah kedalam? Tidak terlalu masalah rasanya mobil diparkir di luar. Kenapa parkir motor tidak ditaruh di parkiran basement paling atas? Kalaupun mobil harus mengantri lama saat keluar parkiran, tidak akan terlalu banyak racun yang dihisap karena bisa tutup jendela dan nyalakan AC.

Permasalahan lain adalah tarif parkir motor yang nggak masuk akal. Tarif parkir motor di tempat parkir mall rata-rata Rp. 1.000/jam, sementara tarif parkir mobil Rp. 2.000,-/jam. Ada yang bisa jelaskan kenapa tarif parkir motor (yang satu motor ga makan tempat sampai setengah parkir satu mobil) bisa setengah tarif parkir mobil? Tarif segitu pun tidak menjamin helm kamu tidak hilang kalau tidak dititipkan di penitipan. Menitipkan helm pun harus bayar lagi Rp. 500,- sampai Rp. 1.000,- per helm. Rasanya seperti dipaksa menitipkan ya, karena tentu saja manajemen nggak mau tanggung jawab kalau helm nggak dititipin terus hilang. Kenapa nggak ada yang punya ide menerapkan tarif parkir yang sudah termasuk tarif penitipan? Semua yang naik motor pasti pake helm, dan pasti nggak ada yang mau helmnya hilang saat parkir. Selain itu manajemen juga bisa menghindari guntreng buang-buang energi saat ada yang kehilangan helm di parkiran karena tidak dititipkan. Tapi ya tentu, kalau bisa, tarifnya yang masuk diakal. Kalau bisa.

Hal lain yang suka bikin ngebatin di parkiran motor (terutama di mall)adalah, kalau kamu bukan Eneng-eneng geulis, belum tentu petugas parkir mau membantumu memundurkan motor padahal mereka jelas melihat kamu ugal-ugil mundurin motor dari parkiran yang sempit.
Untuk yang satu ini saya acungin jempol buat penjaga parkiran motor di depan pasar baru yang perkasa mengangkat motor bebek yang terparkir dan terkunci, untuk memberikan jalan keluar untuk motor yang mau keluar parkiran.

Postingan diatas mungkin cuma omelan emak-emak yang sulit dimengerti oleh kamu yang sudah kaya semenjak lahir sehingga belum pernah sekalipun nyobain parkir motor di pusat keramaian. Tapi percayalah, ini adalah - sekali lagi - hal-hal kecil yang kalau lama-lama dikumpulin jadi bikin spaneng dan membuat saya merasa pengguna motor diperlakukan seperti warga negara kelas dua.
Satu hal lagi, di tempat parkir motor sering ada tulisan "Parkir Sepeda Motor Gunakan Standar Ganda". Dan saat melihat motor gede yang terparkir manis di tempat 'istimewa' di dekat kantor security, terlintaslah di benak saya. Standar ganda, indeed.

New Addiction

by | | 0 comments
Disclaimer: berhubung saya bukan buzzer, jadi postingan blog ini bukan iklan. Review pribadi dan objektif.

Jadi ceritanya, saya emang lagi nyari sabun yang wanginya lembut dan ga terlalu artificial. Dan ternyata ga gampang nyari sabun yang wanginya kayak yang saya kepingin. Sempet nyoba sabun Ovale yang wangi teratai. Mayan sih, wanginya nggak terlalu nyengat, tapi masih kurang lembut dan kurang natural.

Sampai akhirnya beberapa minggu lalu pas jalan-jalan ke PVJ, nemu toko yang isinya jualan bath and body products gitu. Namanya Nicole's Natural. Letaknya di glamour level kalau nggak salah. Begitu lewat, langsung pengen masuk. Soalnya desain tokonya yang didominasi warna putih dan kayu 'mengundang' banget buat disambangi. Heheh.

Pertama masuk nanya-nanya dulu sama Mbaknya. Ini yang dijual apaan aja. Ternyata mereka jual dari mulai keperluan mandi (sabun cair dan batangan, bath salt, bath bombs) sampai aromatherapy (pot pourri, essential oils). Nicole's Natural punya lima rangkaian produk. Ada Rose, Mojito, Green Tea, Citrus, Lavender, dan Woods. Masing-masing dengan fungsi aromaterapi yang berbeda-beda.

Hari itu saya beli bath bombs Green Tea (yang katanya detoxifying)cost me 25rb, soap bar Rose dan Mojito (@ 40rb), dan bath salt Wood (30rb). Oiya, saya sengaja milih soap bar daripada sabun cair karena bentuknya lucu. Kayaknya enak buat dimakan :d.



Enggak, ding. Emang saya udah lama nyari soap bar yang natural gini. Dulu sih masih suka nemu Lush, tapi keknya Lush juga nggak natural-natural amat ya, pleus mahils. Nah, pas dikasih cium satu-satu (P.S. Mbak-mbaknya helpful banget deh. Saya nanya macem-macem mereka jelasin dengan ramah dan kasih saya cium satu-satu testernya)si Rose dan Mojito ini yang paling pas di hidung saya.

Soap bar Rose, kata Mbaknya, menjanjikan suasana romantis. Eh nggak gitu ding. Maksudnya menimbulkan ambience romantis gitu deh. Dan meskipun wanginya didominasi wangi mawar (ya iyalah), tapi wanginya ga terlalu sweet. Mungkin karena campuran bahan lainnya ya. Oiya, kalau liat dari webnya Nicole's Natural , bahan-bahan yang dipake semuanya natural. Ga ada tambahan kimia yang nggak penting. Kalau yang Mojito, mereka kayaknya terinspirasi dari minuman Mojito. Soalnya ada wangi mint yang mendominasi. Refreshing.

Kemudian, kemudiaaaannnn.. Yang baru saya coba sih si soap bar Rosenya. Lembuttttt banget di kulit dan mayan foamy. Terus ninggalin wangi yang soft dan teksturnya pas kena air itu juga lembut banget. Saking sukanya sama wangi dan teksturnya, sekarang tiap mandi saya sabunan dua kali. Hahaha.

Sementara si soap bar Mojito masih ngantri. Tapi one thing, pas baru beli, sabun ini kan saya taro di kamar. Eh kamarnya jadi wangi mint, lho. Seger. Mayan jadi ga perlu pake pewangi ruangan. Hehe. Terus meskipun si Mojito ini wanginya lebih kuat dari varian lainnya, tapi nggak bikin pusing. Soalnya wangi yang keluar bangetnya itu wangi mintnya, jadi malah bikin fresh. Oiya, sayangnya, penyimpanan jadi salah satu issue. Entah karena saya salah nyimpennya (sempet saya simpen di dalem paper bag yang agak ketutup), pas di cek sabunnya jadi agak berminyak gitu. Tapi nggak apa-apa, sih, ga jadi lembek atau berubah bentuk. Cuma kemasannya jadi agak greasy aja. Mungkin mestinya disimpen di kulkas apa gimana kali, ya.

Buat bath bombs dan bath salt, belum bisa kasih review karena masih nongkrong di dalam paper bag. Belum dipake, soalnya belum punya kesempatan mandi cantik lama-lama. Tapi wanginya sih sama ciamiknya dengan rose dan mojito. Wangi dominannya keluar, tapi nggak nyengat.

Oiya lupa, saya juga sempet nyicip natural sweet rock yang Citrus (13rb). Jadi itu kaya gula batu gitu terus dikasih perasa citrus. Enak, lho. Funny taste, in a good way. Yang pertama keluar pas dicoba rasa asem, ada sedikit asin dan bitter, dan ditutup manis yang pas.

Hal lain yang saya suka dari si Nicole ini adalah, mereka ramah lingkungan loh. Mereka pake paper bag dan untuk mengemas soap bar dan bath salt, mereka pake kertas singkong. Soap bar setelah diambil dari tray, langsung dibungkus kertas singkong pas dibeli. Bath salt juga disimpen di toples kaca besar, baru ditakar dan dibungkus kertas singkong pas dibeli. Nah untuk produk sabun cair, mereka ada sistem refill. Jadi kalau sabunnya sudah habis, tinggal bawa botolnya ke toko Nicole's, terus diisiin lagi deh. Harga refill tentu lebih murah dan ga nambah-nambahin sampah plastik. Refill stationnya juga lucu banget.



Anywayyy.. Yes, I love this product dan sangat mungkin jadi penggemar setia mereka, terutama untuk soap bar-nya. Overall, they have great scents, great feels on skin, a bit pricey sih, but if you love natural things (that really works out), bolehlah dicoba produk mereka. Tar kalau main-main ke PVJ lagi rencana mau beli natural sweet rock dan scented candle-nya ah.. Oiya selain bisa cek-cek web mereka, bisa juga cek-cek fan page mereka dan follow twitter mereka. Soalnya suka ada info promo-promo menarik. Silakaaaaannnn..


Kenapa Semua yang Enak-enak Itu yang Dilarang?

by | | 2 comments
DISCLAIMER:
Postingan ini akan sangat menyebalkan bagi sebagian orang. Oh ya, dan mengandung unsur SARA juga, lho.

Belakangan ini kehidupan kita diramaikan dengan berbagai fatwa haram, baik yang datang dari MUI maupun yang bukan dari MUI. Dan fatwa-fatwa haram ini menimbulkan reaksi yang cukup beragam. Ada yang langsung protes, ada yang setuju, ada pula yang nggak peduli.

Beberapa diantara fatwa yang cukup bikin heboh adalah fatwa haram foto pre-wedding dan fatwa haram rebonding. Yang lucu, begitu mendengar soal ini, berbondong-bondong lah orang protes. Bahkan gak sedikit yang menghujat MUI. Apalagi di twitter. Padahal, pertama, yang ngeluarin fatwa ini bukan MUI. Tapi sebuah pondok pesantren putri. Setelah saya baca artikel mengenai hal ini, pun yang kena fatwa haram dua hal diatas tadi hanya siswi-siswi ponpes itu. Dan kedua, kalau mau pake logika sedikit dan mengurangi emosi, kita *atau seenggaknya saya* bisa paham kenapa foto pre-wed dan rebonding diharamkan. Soal foto pre-wed, diharamkan karena banyak foto pre-wed yang pake adegan peluk cium. Lah kaga usah pake difoto aja, bersentuhan dengan non muhrim dengan syahwat sudah haram adanya kok. Jadi mungkin - mungkin lho - kalo fotonya nggak pake pegang-pegangan - sekali lagi : mungkin - gak apa-apa kali *tetep gak yakin :D*. Soal rebonding. Berhubung pengetahuan agama saya masih cetek banget, jadi ini pake mungkin juga lho yah. Mungkin yang diharamkan itu, kalau abis rebonding jadi pengen ngeliat-liatin rambut ke semua orang. Seperti kita semua ketahui, setelah rebonding memang rambut jadi terlihat indah tergerai bagai bintang iklan sunsilk, wajar kalau ada keinginan menunjukan rambut indah yang merupakan aurat peremouan itu ke semua orang. Jadi - kali ya - daripada para siswi ponpes setelah dibonding jadi pada buka jilbab pengen pamer rambut baru - ya mendingan diharamkan aja sebagai tindakan pencegahan.

Yang selanjutnya, ini heboh bener nih. Fatwa haram merokok. Yang ini bahkan lebih mengundang emosi lagi. Terutama buat yang ngerokok. Lah perokok dilarang ngerokok aja bisa ngambek, apalagi diharamkan. I know because my hubby and my daddy is perokok berat *hiksh*. Anyways. Kalau buat yang nggak ngerokok kaya saya, fine-fine aja dengan diharamkannya merokok ini. Menjadikan lingkunagn lebih bersih dan sehat toh? Tapi tentu para perokok punya dalih lain: bagaimana dengan nasib petani tembakau? Dengan nasib buruh pabrik rokok? Gimana ya ? Hehe. Kalau saya sih percaya ketika ditutup satu pintu rejeki, Allah membukakan pintu rejeki yang lain. Jadi insyaAllah akan ada rejeki yang lebih barokah buat para petani tembakau dan buruh pabrik rokok. Lagian daripada "diskusi" di smoking room sambil maki-maki fatwa haram merokok ini, gimana kalo mulai belajar berenti merokok dan mendiskusikan jalan biar petani tembakau dan buruh pabrik rokok bisa dapet jalan rejeki lain?

Anyhoo, kenapa sih orang-orang begitu gampang tersulut emosinya mengenai fatwa haram ini? Sebetulnya kalau mau lebih pake otak dan nggak pake urat, semuanya bisa kita bikin lebih enak. Kaya soal rokok ini. Sebetulnya semuanya udah tau kalo rokok nggak ada bagus-bagusnya buat badan. Apalagi buat perokok pasif. Kalau sangat sadar hal ini, sayang diri sendiri dan sayang keluarga, nggak perlu ada fatwa haram. Tinggal berenti. Susah? Saya tau susah, tapi kalau kita terus bilang "susah" ya sampai kapanpun nggak akan ada usaha. Udah usaha tapi tetep nggak bisa? Terus berusaha. Toh awalnya kita juga nggak bisa ngerokok kan? Tapi karena "usaha" jadi bisa. Kenepa kalau untuk berhenti nggak bisa? Nggak setuju sama saya? Tetep emosi karena fatwa haram merokok ini? Ya sudah, nggak usah peduli. Toh yang sudah jelas-jelas diharakan dalam al Quran - seperti minum-minuman keras - juga masih banyak yang melakukannya.

Lebih jauh lagi, sebenarnya yang bikin saya sedih adalah munculnya fatwa haram ini jadi "ladang" buat mocking MUI. Bahkan di twitter becandaan soal MUI ini pernah jadi trending topics. MUI isinya bukan orang sembarangan. Mereka adalah para ulama, yang notabene pengetahuan agamanya jauh diatas kita (saya). Ketika mereka mengeluarkan fatwa, pasti sudah melalui pemikiran panjang. Bukan hanya masalah like / dislike. Rasanya menyedihkan kalau kita - orang Islam - mocking para pemuka agama yang insyaAllah berusaha membantu kita untuk tidak melenceng dari aturan agama. Apalagi kalau kemudian para ulama ini juga jadi bahan ledekan agama lain.

Jadi nanti lagi, kalau ada fatwa haram yang memancing emosi, janganlah langsung berkoar-koar. Baiknya baca dulu baik-baik, kemudian kalau ada waktu cari refrensi mengenai hal itu, baru diskusi. Jangan lantas marah-marah. Belajar jadi orag cerdas lah kita. Saya juga masih perlu belajar banyak.