Showing posts with label skool. Show all posts
Showing posts with label skool. Show all posts

(Lagi-lagi) Soal Sekolah

by | | 0 comments
Tadinya, berencana masukin si Cikal tahun ini ke SD. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya diputuskanlah buat si Bocah di SD-in tahun depan. Hal yang jadi pertimbangan utama sih sebenernya adalah karena tahun ini pas tahun ajaran baru mulai, pas si bocah masih berusia 6 tahun. Awalnya sih ngerasa nggak apa-apa masuk SD umur segitu. Tapi setelah ikut psikotes dan menimbang ini itu, kayanya mendingan nunggu dia umur 7 tahun, deh. Biar bener-bener matang dan siap masuk SD yang tantangan hidupnya lebih meriah daripada di TK. Apalagi doi anak yang mayan sensitif, takutnya kalau belum siap lalu dipaksain masuk SD malah mogok dan nggak mau sekolah terus maunya main sinetron aja. Kan gawat.

Tapi jangan sedih. Meskipun jadinya masuk SD tahun depan, namun Emak tetap galau semenjak dini. Sempat bulat dengan memasukan si Cikal ke sebuah SD Negeri yang letaknya di Jalan Sabang (yaitu tentunya SDPN Sabang yah, namanya. Karena kalau SDN Merdeka itu letaknya di Jalan Merdeka), tapi kemudian goyah lagi. Alasannya: masukan dari kanan kiri yang bilang "jauh dari rumah". Padahal, salah satu yang menguatkan alasan kenapa si bocah mau di SD-in tahun depan adalah karena mau dimasukin SD Negeri aja. Dimatangkan betul anaknya, biar siap dengan segala plus minus SD Negeri yang katanya begini begitu itu. Tapi ya sudahlah, mari kita tidak terlalu membulatkan tekad lagi untuk mendaftarkan si Cikal kesana.

Alternatif pilihanpun jatuh ke salah satu SD swasta yang jaraknya cuma selemparan kolor (Hulk) dari rumah. Katanya sih kualitasnya lumayan oke dan bayarannya pun tidak terlalu bikin megap-megap. Tapi entah kenapa kok saya kurang sreg. Sempat survey kesana dan ketemu guru Tata Usaha. Penerimaan mereka sih sangat ramah, dan sekolahnya juga bersih. Sempat mampir toilet buat inspeksi, dan toiletnya bersih. Tapi dari hasil ngobrol-ngobrol waktu itu ada beberapa hal yang bikin saya mikir, "Terus apa bedanya sekolah swasta ini dengan sekolah Negeri?". Sebagai emak-emak mreki yang pandai mengatur keuangan keluarga, buat saya kalau kita membayar lebih untuk sesuatu itu ya nilai lebih dari apa yang kita bayarkan harus keliatan.

Sebenernya ada satu lagi sih sekolah inceran saya. Sekolah Islam yang cukup punya nama dan reviewnya bagus. Letaknya tidak di Bandung Timur seperti sekolah-sekolah idola lainnya, tapi di Bandung Utara. But we'll see, lah. Karena sekolah ini juga kayanya masih tergolong "jauh" dari rumah.

Ini rahasia, ya. Sejujurnya, yang paling bikin saya galau dalam urusan milih sekolah ini adalah menghindari orang berkomentar "jauh amat sekolahnya dari rumah". Karena udah cukup bosen denger komentar itu selama beberapa tahun si bocah TK, maka saya nggak mau mengalami hal yang sama di masa anak SD nanti. Tapi masalahnya ya itu, di deket rumah (atau yang jaraknya dianggap dekat dari rumah) itu kok ya nggak ada sekolah yang menarik hati. Sekolah-sekolah yang secara akademis diakui di sekitar lingkungan rumah adalah sekolah-sekolah Kristen. Sementara saya ga berani ngelepas anak masuk ke sekolah Kristen. Karena bagaimanapun, pendidikan agama Islam yang memadai jadi salah satu syarat yang nggak bisa ditawar.Meskipun kalau ngomongin "jarak sekolah-rumah" kadang mikir juga, sih, dalam kondisi yang masih numpang mertua ini, suatu saat kami insyaAllah akan pindah rumah (yaiyalah masa mau nebeng terus). Manatau 2-3 tahun kami pindah rumah (aamiin) ke tempat yang menjadikan jarak rumah-sekolah jadi nggak dekat lagi? Jadi sih, sebagai pembelaan mengenai plihan saya di awal, menyekolahkan anak di sekolah yang letaknya "di tengah-tengah" adalah pilihan aman.

Anyhoo.
Saya sih sebenernya, sama kaya kebanyakan orang tua lain, pengen nyekolahin anak di sekolah yang kurikulumnya bagus, guru-gurunya berkualitas, fasilitasnya lengkap, ada pendidikan agama Islam yang memadai, dekat dari rumah, dan bayarannya nggak mahal-mahal amat. Tapi kan nggak ada sekolah yang sempurna. Kemauan kita harus dikompromikan dengan kemampuan anak dan - ehm - isi rekening.
Jadi ya mungkin Allah juga memberikan waktu tambahan berfikir selama setahun kedepan supaya bisa lebih mematangkan pilihan sekaligus menambah pundi-pundi tabungan. Siapa tau tetep bisa masukin anak ke sekolah incaran sekaligus punya rumah yang deket sekolah incaran?

Aamiin.

Sekolah Aisyah :)

by | | 1 comments
Seperti saya sebutkan di postingan sebelumnya, proses mencari dan memilih sekolah buat si cikal Aisyah tidaklah sederhana. Sebenarnya bahkan proses pencarian sekolah ini sudah berlangsung sejak si bocah berusia 2 tahun. Tapi karena satu dan lain hal, maka Aisyah baru saya dan suami masukan sekolah di usia TK.
Dan kami memilih sebuah sekolah montessori Islami, yang sampai saat postingan ini ditulis, sekolah Aisyah ini masih satu-satunya sekolah Islami yang menggunakan sistem montessori.

Sekolah Aisyah yang jaraknya tidak dekat dari rumah (kalau nggak mau dibilang agak jauh) ini, memang mengundang banyak pertanyaan. Terutama dari kakek neneknya dan tante-tante saya dan suami. Kenapa jauh sekali? Aisyah ga kecapean? Kenapa ga cari yang dekat rumah? Pulang perginya gimana? Dan pertanyaan lainnya yang sampai saat ini masih sering muncul. Memang sih untuk seusia TK, perjalanan rumah-sekolah yang memakan waktu 20 menit naik motor kalau lancar atau 30 menit naik angkot tanpa macet dan ngetem, terhitung jauh. Dan kadang melelahkan buat saya, apalagi kalau ditambah Aisyah rewel di jalan karena ngantuk atau kepanasan di angkot. Tapi tentu saya dan suami tidak gegabah dalam memilih sekolah ini sebagai sekolah pertama Aisyah. Ada beberapa alasan kuat yang menjadi dasar mengapa sekolah ini begitu menarik buat kami.

Pertama, dan yang paling penting, Aisyah suka dan betah bersekolah disini. Sebelum sekolah di sini, bocah pernah trial di beberapa sekolah. Tapi cuma disinilah pas trial hari pertama Aisyah langsung mau masuk kelas tanpa drama dan langsung nempel sama gurunya (yang dipanggil Bunda). Pas trial pun saya dan Bundanya tanya, Aisyah jauh ga sekolahnya? Cape nggak? Dia jawab nggak. Dan pas saya tanya mau sekolah di sini apa nggak? Dengan mantap dia menjawab 'Iya'. Sampai hari ini, belum (dan jangan sampai - aamiin) ada drama berarti dalam kehidupan sekolah Aisyah. Paling cuma kalau pagi baru datang biasanya dia agak 'melempem'. Belum panas, mungkin. Tapi pas waktunya masuk kelas dia mau masuk kelas dan selalu pulang dalam keadaan ceria.

Kedua, sistem pendidikan yang ditawarkan. Dari dulu, saya memang tertarik sama sistem pendidikan Montessori. In brief, sistem ini lebih mengajarkan anak life skill untuk survive dan mau belajar terus dibanding skill membaca atau berhitung. Sekolah ini tidak memaksa anak untuk duduk dan memperhatikan guru, tapi membiarkan anak untuk bereksplorasi (dengan diawasi Bundanya tentu). Belajarnya pun dengan cara bermain, mulai dari masak-masakan dampai make up-make up an ada. Dan si Bocah yang cewek banget ini bahagia sekali, tentunya. Hebatnya, biasanya sekolah yang menerapkan sistem Montessori biayanya selangit. Nah di sekolah Aisyah ini biayanya masih reasonable.

Itulah yang jadi alasan ketiga kenapa saya dan bapaknya Aisyah memilih sekolah ini. Dengan sistem dan fasilitas yang ditawarkan (selain alat belajar yang lengkap, bangunan sekolah yang homey dan nyaman, dan acara berenang, sekolah ini juga punya halaman rumput yang luas dan aman karena berpagar tinggi), biaya sekolahnya ga bikin megap-megap. Tidak murah memang, tapi dibanding sekolah sekelas ini, biayanya masih lebih terjangkau.

Alasan keempat, yang ga ada hubungannya sama sistem pendidikan tapi penting juga adalah, hanya sekali naik angkot kalau pulang ke rumah. Penting, karena meskipun tidak dekat, tapi minimal ga naik turun angkot. Jadi sepanjang perjalanan Aisyah bisa tidur dan nggak ribet gonta-ganti angkot. Apalagi Aisyah punya teman-teman pulang bareng yang sama-sama naik angkot yang sama. Jadi di jalan dia nggak bosan.

Sekarang, setelah beberapa bulan menyekolahkan Aisyah di sini, saya makin bersyukur. karena meskipun Aisyah belum bisa baca tulis (saya nggak khawatir karena memang belum waktunya juga), tapi terlihat beberapa perubahan yang positif. Aisyah sekarang lebih berani speak up kalau dia nggak suka sesuatu, berani kenalan duluan - minimal senyum duluan - saat ketemu anak lain yang baru dia kenal, dan lebih bertanggung jawab. Setiap habis main, saya nggak perlu lagi narik otot buat minta dia beresin. Hampir otomatis dia langsung beres-beres, minimal hanya perlu saya ingatkan sekali dua kali. Habis makan pun dia selalu bawa piring kotornya ke wastafel, dan sesekali mencuci sendiri piringnya. Secara personal, Aisyah sekarang lebih terbuka dibanding sebelum bersekolah.

Saya juga senang melihat interaksi Bunda-bunda dengan murid-muridnya. Bunda-bunda selalu tersenyum dan tidak pernah ketus, meskipun kelakuan murid-muridnya kadang ajaib banget. Bunda-bunda juga selalu open untuk konsultansi mengenai perkembangan Aisyah. Acara-acara hari besar nasional pun dirayakan dengan cara yang menyenangkan. Kemarin pas 17an, ada acara aneka perlombaan. Tapi tidak ada hadiah untuk pemenang. Semua murid adalah pemenang karena sudah mau mencoba dan berusaha. Satu lagi asyiknya, sebulan sekali ada parenting class bersama Bunda dan psikolog, gratis. Plus orang tua murid disini akrab satu sama lain. Saya bahkan punya teman-teman sarapan baru :D.

Alhamdulillah cita-cita saya (dan suami) buat menyekolahkan anak di tempat yang bikin anak senang dan emak bapak tenang insyaAllah tercapai. Dan tentunya kami berdoa, Aisyah (dan Rafa kelak) akan selalu menikmati bersekolah dan ingin belajar terus. Semoga sekolah pertama Aisyah ini bisa menjadi pondasi untuk menguatkan niat belajar Aisyah sampai kapanpun. Aamiin.

Analytical Parenting

by | | 0 comments
Disclaimer: don't be fooled by the title. This post is merely curhat as usual.

Orang tua jaman sekarang memang berbeda dengan orang tua jaman dulu, terutama dalam pola didik dan pola asuh. Minimal, saya merasa pola didik dan pola asuh saya berbeda dengan orang tua saya.
Thanks to the internet, orang tua jaman sekarang bisa dengan gampang mengakses teori-teori dan perkembangan terbaru dari dunia pendidikan dan pertumbuhan anak. Ini bikin orang tua sekarang terlihat lebih involve dalam perkembangan dan pendidikan anak.
Bukannya dulu orang tua membiarkan anaknya tumbuh sendiri macem toge sih, tapi kelihatan aja sekarang banyak orang tua baru yang lebih kritis dan lebih terlibat.

Contohnya dalam hal sekolahan. Sadar ga sih kalau orang tua angkatan mama papa kita kalau milih TK buat anaknya biasanya kriteria utamanya adalah deket rumah. Ga terlalu mikirin sistemnya gimana, atau cara interaksi guru dan muridnya gimana. Sementara orang tua jaman sekarang biasanya browsing dulu di internet sampe mabok, terus survey lokasi sampe mabok, lalu trial,sampe,mabok, dan akhirnya daftar setelah menyingkirkan sekolah yg sistemnya (dianggap) kurang oke, interaksi guru-muridnya dianggap kurang cocok, dan biayanya ga bikin mabok. Agak jauh dari rumah nggak apa-apa, asal anak senang, ortu tenang. Contoh orang tua seperti ini adalah saya.

Ga berenti sampai situ, karena terbiasa terpapar dengan banyak informasi soal pendidikan dan perkembangan anak, orang tua jaman sekarang pun terbiasa menganalisa tingkah laku anaknya. Contoh ya, kalau orang tua jaman dulu anak lakinya doyan berantem, ga terlalu khawatir. Karena mereka percaya, ya memang begitulah anak lelaki. Atau anak perempuannya cengeng, ga risau juga. Karena percaya, anak perempuan sensitif itu wajar adanya. Beda sama orang tua jaman sekarang. Setelah satu bulan sekolah anaknya masih susah berteman, khawatir anaknya kuper. Anaknya sering mimpi dan kebangun di malam hari, risau anaknya memendam sesuatu. Dan biasanya langsung car referensi dari internet, atau tanya guru/ahli perkembangan anak. Contoh orang tua jaman sekarang yang seperti ini adalah saya.

Mungkin ya, kekhawatiran dan kerisauan yang muncul ini selain karena berbagai info sana-sini, pun karena ada keinginan sang anak tidak tumbuh kuper seperti emaknya dan tidak inntrovert seperti emaknya. Banyak analisa yang saya lakukan soal perkembangan anak-anak saya dikala saya lagi bengong senggang. Biar keren, saya menyebut ini sebagai analytical parenting. Ya asal jangan kebanyakan analisa tapi ga ada action juga, sik.

Nah anyway, saat ini saya sedang menganalisa kelakuan baru si bocah cewek. Awal-awal sekolah dia mau aja ditinggal dan langsung nempel sama gurunya pas baru dateng. Tapi sekarang kenapa ya kalau saya antar sekolah dia pasti nempel terus sama saya dan ga mau lepas sampai bel masuk plus harus saya antar sampai pintu kelas?

Udah dibilangin, kan, ini cuma curhat.