Happy Birthday!

by | | 0 comments
Nggak kok, postingan ini ditulis bukan karena pengen diselametin. Meskipun kalau ada yang nyelametin ultah, ngedoain, dan ngasih kado pasti diterima dengan senang hati plus didoakan mendapat balasan yang lebih dari Allah SWT :D.

So yeah, hari ini adalah hari ulang tahun saya yang ke-28. No, I'm not gonna write thank you note, resolusi, whatsoever. I'm just gonna blah on this birthday post. Hari ini sih saya memang sudah berikrar ga akan mengharapkan atau menyiapkan sesuatu yang istimewa. It's just a birthday. One should actually have a serenity moment, look back in times, and think about what to do next on their birthday, and not to have party. Semacam introspeksi diri, dan berbuat lebih baik muali hari ini dan seterusnya. Dan tapinya saya juga ga bakal nulisin hasil introspeksi atau rencana kedepan. Sudahlah, cukup saya saja yang tau. Takutnya udah ditulis-tulis angger-angger wae ga berubah kan malu akunya nanti.

Anyhoo, meskipun nggak merencanakan hal istimewa, tapinya susah juga ya kalo punya suami semanis (manja) Si Aa dan anak se-adorable Aisyah. Harus ada yang istimewa. Hari ini sih tadinya saya berniat di rumah aja. Tapinya, berkat user ID e-banking saya yang terblokir tadi pagi, maka nebenglah saya (dan Aisyah) sama si Papski ke bank. Tadinya mau di drop aja, tapi dasar suami shaleh, si papski nungguin di bank dan pulang dari bank kita mampir bentar ke kantor Papski. Katanya teman-teman Papski nyiapin birthday bash buat saya. YA ENGGAK LAH.

Abis dari kantor, tak disangka tak dinyana si Papski ngajak ke Ciwalk. Smbil nunggu beliau Jumatan, say makan froyo di J.Co. Aisyah dengan shalehahnya tidur nyenyak di sofa. Abis dari situ, kita makan siang di Platinum. Sumpah deh tadi siang ga kepikiran pengen makan apaan. Karena semalem mimpi makan ayam saus mentega di Gelap Nyawang, makanya milih makan di Platinum karena taunya yang ada ayam saus mentega di ciwalk ya di Platinum. Meskipun rasanya ya gitu deh :D.

Abis makan, iseng ke XXI, cek-cek ombak. Taunya Babies udah main. Dan kami bertiga memutuskan untuk nonton. Meskipun agak deg-degan juga. Ini kan pengalaman nonton pertama Aisyah. Jangan-jangan kita sia-sia ngeluarin duit 50rb karena Aisyah ogah masuk teater, misalnya. Tapi alhamdulillah, untuk ukuran anak seaktif Aisyah, acara nonton bisa dibilang sukses. Selama 3/4 film Aisyah anteng nonton sambil makan nori. Dan sekali waktu si Ratu sejuta gaya megang tempat popcorn dan asyik makan caramel popcorn *dikemplang ibu-ibu milis bayi sehat*. Pas udah mulai bosen, dia minta jalan-jalan. Untungnya bioskopnya kosong. Row A malah sama sekali kosong (kami duduk di row B). Jadi Aisyah bisa leluasa modar-mandir dan naik turun dari row B ke row A. Aisyah juga keliatan cukup menikmati filmnya. Sesekali dia jerit kegirangan kalau liat binatang, ikut ketawa kalo orang-orang ikut ketawa, nunjuk-nunjuk bayi-bayi di film dengan hebohnya, dan niruin suara bayi-bayi itu. Alhamdulillah juga ini anak ga menimbulkan keributan yang berarti yang bikin emak-bapaknya kemaluan. Eh, kena malu, maksudnya.

Habis nonton, karena sudah sore dan takut kehujanan dijalan, kamipun pulang dengan bahagia. Tapi seakan saya masih kurang bahagia, kencan ulang tahun disempurnakan dengan makan Mijak depan kampus. Kali ini berdua saja dengan Si Papski. Dan kami beli DVD banyak sekali. Meskipun kemudian kami mengetahui bahwa dvd player di laptop kami ga bisa nyala. Ngok ah.

Baiklah. Begitulah cerita ulang tahun saya hari ini. Sangat menyenangkan. Terima kasih suami, terima kasih Aisyah, terima kasih semua yang sudah membuat hari ini begitu menyenangkan. Terima kasih Ya Allah, mohon anugerahkanlah sisa usia yang barakah bagi hamba. Amin

To Pre-school or not To Pre-school

by | | 1 comments
Prolog: tadinya bingung mau ngepost soal pre-school atau stroller. Tapi kayanya stroller mah bisa dibahas di twitter. Jadi setelah tadi ngetwit soal stroller, sekarang giliran nge-blog soal pre-school. Who said twitter kills blog? Kalo doyan nyampah mah tetep asikan di blog *hehe*.

Oke, setelah prolog yang ga ada hubungannya sama inti postingan, marilah kita mulai membahas masalah sesungguhnya: pre-school. Jadi sebenernya karena saya sudah berikrar untuk insyaAllah jadi ibu rumah tangga saja alias nggak pergi ngantor, sejak awal saya sudah memutuskan untuk tidak akan memasukan Aisyah ke pre-school. Mulai sekolahnya nanti aja kalo TK. Tapi obrolan dengan beberapa orang teman yang anaknya seumuran Aisyah jadi bikin mikir-mikir juga. Ada juga yang nanya kapan Aisyah mulai sekolah. Sejujurnya, buat saya pertanyaan itu agak lucu sih. Soalnya Aisyah minggu depan aja baru mau 1,5 tahun. Kayanya masih 2-3 tahunan lagi mulai mikirin sekolah. Tapi rupanya, di luar sana pertanyaan itu lazim dilontarkan pada ibu-ibu yang anaknya hampir berusia 2 tahun, karena rata-rata anak mulai 2 tahun sudah mulai dimasuka pre-school.

Memang sih, kebanyakan teman-teman saya yang menyekolahkan anaknya di usia batita adalah ibu bekerja yang sehari-hari 'menitipkan' anaknya pada nanny. Dan alasan mereka menyekolahkan anak dari 2 tahun pun logis, daripada mempercayakan 'pendidikan dini' sama si Mbak tentu lebih baik dititipkan di 'sekolah'. Kalau saya sebagai irt, alhamdulillah masih bisa mengawasi Aisyah hampir 24 jam, jadi pendidikan dini Aisyah pun masih bisa saya handle sendiri. Meskipun metodenya nggak secanggih dan sesistematis di sekolah, tapi akan sangat sesuai dengan nilai-nilai keluarga. Dari segi agamapun, kalau pengetahuan agama saya masih cetek, insyaAllah bapaknya bisa banyak membantu.

Tapi satu hal yang bikin saya nggak pede, jangan-jangan nanti Aisyah nggak semandiri teman-temannya yang pernah mengecap pendidikan prasekolah. Misalnya, gimana nanti kalau pas TK temen-temennya yang pernah pre-school lebih sigap makan sendiri, nyiapin apa-apa sendiri. Apalagi Aisyah punya sejarah keturunan balita anti-sosial (baca: ogah main sama anak-anak lain yang baru kenal) dan sangat lengket sama ibu *ya, saya oknumnya*. Saya takut aja Aisyah nanti susah berteman dan jadi kuper. Meskipun emaknya yang dulu anti sosial ini turns out okay dan beredar juga sih gedenya *pleh! cuih!*.

Sebenernya sih ada jalan buat masalah ini. Ya tinggal latih Aisyah lebih mandiri aja di rumah. Meskipun tetep, dilatih mandiri sama orang lain kayanya lebih cepet nempel dibanding dilatih sama emaknya. Apalagi emaknya suka nggak sabaran, ujung-ujungnya dikerjain emaknya juga :p. Dan saya sih pinginnya pas Aisyah udah 2 atau 3 tahun nanti di les in aja. Les nyetir atau bahasa Jerman. YA NGGAK LAH. Les ballet, tari Sunda, atau nyanyi. Soalnya keliatan dari sekarang Aisyah tertarik banget sama musik dan mulai bisa sing-a-long sama Elmo meskipun nadanya masih lempeng :D.

Jadi sih sebenernya, saya memang masih berat ke nggak usah pre-school. Apalgi pre-school mahal ya? Konon bayarannya ga jauh beda sama bayaran SMA *apa si Aisyah langsung masukin SMA aja ya?*. Tapi barangkali ada masukan dan pertimbangan lain dari ibu-ibu, terutama ibu rumah tangga, yang berniat memprasekolahkan anaknya?

Bukan Karena Aku Tak Mencintaimu

by | | 2 comments
Yes, I'm a mom with one fabulous 15 mo baby girl. But yet, not like any other mommies I don't write often about my princess on my blog. Jarang banget malah.

Bukan gak tertarik, atau nggak pengen 'mamerin' si Bepski di dunia maya. Tapi apa ya. Tiap mau nulis soal Aisyah, rasanya banyak banget yang kepengen ditulis dan di bagi. Akibatnya malah suka bingung sendiri mau mulai dari mana. Nggak kaya dua teman saya, Windy dan Citra, yang dikit-dikit rajin banget cerita soal Kheif dan Shahlaa. Tiap abis baca blog mereka, semangat langsung pengen nulis dan cerita soal Aisyah. Tapi ya itu, tiap mau nulis soal Aisyah, malah yang ada bengong, terus ga jadi nulis deh.

Anyhoo, Aisyah, Mamski jarang banget nyeritain kebanggan Mamski sama Aisyah bukan karena Mamski malas, atau ga pengen mamerin kepandaian dan kelucuan Aisyah. Tapi Mamski rupanya tidak pandai berkata-kata. Cuz when it comes to you, ga cukup kata buat ngungkapin rasa sayang dan rasa bangga Mamski.

I love you my dearest Queen Abepbep *kecup* !

We Don't Love the (Un)comfort Zone

by | | 1 comments
Saya selalu percaya, bahwa hidup terdiri dari pilihan-pilihan. Setiap pilihan punya tantangan masing-masing, punya resiko sendiri, punya efek samping, tapi juga tentunya punya kelebihan masing-masing. Saya dan suami adalah dua orang yang memilih untuk menjalani hidup sebagai sebuah petualangan yang menyenangkan. Meskipun kadang, pilihan-pilihan kami menimbulkan protes dari orang-orang yang peduli pada kami. Atau setidaknya membuat mereka mengernyitkan alis.

Seperti contohnya, saat suami saya memutuskan untuk berhenti dari sebuah perusahaan besar (waktu itu suami ditempatkan di Kalimantan) dan pindah ke kantor kecil di Bandung. Banyak orang menyayangkan keputusan ini. Faktanya memang menjadi pegawai di perusahaan ini adalah dambaan banyak orang. Gaji (katanya) besar, tunjangan ina-inu, jenjang karir, dan fasilitas kantor lainnya yang menyilaukan mata *halah*. Tapi kami berdua merasa bukan semata kemapanan yang kami cari. Bukan congkak bukan pula sombong, tapi semua janji kemapanan itu jadi nggak berarti ketika kami ingat bahwa kami harus seperti keluarga tentara. Siap dipindah kemana saja kapan saja. Saya sih nggak bisa membayangkan harus berkali-kali boyongan kesana kemari, apalagi kalau anak sudah sekolah. Itu, dan banyak faktor lainnya yang akhirnya membuat suami memtuskan untuk meninggalkan pekerjaan itu.

Hal lain yang sempat bikin kami nyengir kuda saat baru pindah dari perusahaan itu adalah soal 'kebiasaan' si suami yang kalau tinggal di luar kota biasanya nggak lama. Pernah ada dua kali kejadian. Sekali, saat dia masih SMP dan memilih pesantren di Garut tapi hanya satu semester dan memutuskan untuk bersekolah di Bandung. Kedua kali, saat kuliah di Depok dan setahun kemudian memilih kembali pulang ke Bandung dan kuliah di Jalan Ganesha *jadi kusir delman*. Ditambah kejadian berhenti bekerja di Kalimantan dan pulang ke Bandung jadi tiga. Otomatis selama beberapa bulan pertama kepindahan kami, sering sekali mendengar cerita soal si suami yang selalu 'pulang' ke Bandung ini. Kami sih nggak pernah tanggapi terlalu serius. Pertama, karena kami tau ada alasan kuat dibalik kepulangan-kepulanagn itu. Dan kedua - yang paling penting - meskipun kembali ke Bandung, setidaknya kami pernah berani mencoba pergi dari Bandung dan mencoba hal baru. Setidaknya kami dapat pengalaman yang tentu memperkaya hidup kami. Mencoba dan kembali, menurut kami, lebih baik daripada tidak pernah mencoba sama sekali.

Saat ini pun kami baru saja memilih untuk meninggalkan apa yang banyak orang bilang comfort zone : gaji bulanan. Sempat menunda lama, karena jujur setelah menjadi seorang ibu, saya lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan. Biaya kesehatan dan pendidikan anak kelak yang paling menjadi pertimbangan saya. Tapi akhirnya saya sadar bahwa 'gaji bulanan' yang sering kali dianggap 'aman' ternyata tidak seaman itu. Kalau perusahaan yang katanya menjamin hidup kita tiap bulan tiba-tiba gulung tikar, atau suami tiba-tiba diberhentikan, lalu mau apa? Toh kami juga punya usaha-usaha yang sedang berjalan dan insyaAllah akan semakin berkembang (amin), dan suami juga alhamdulillah kemampuannya masih dibutuhkan beberapa kolega. Jadi tentu saja kami nggak modal nekat. Maka dengan diawali bismillah, kami pun tidak malu tidak jadi keluarga karyawan lagi.

Dalam waktu dekat inginnya kami juga memulai petualangan baru yang menyenangkan di rumh kami sendiri. Kalau ada rejeki, ingin beli rumah sendiri. Tapi kalau belum cukup, mengontrak bisa jadi opsi. Bukan kami sudah tak betah tinggal bersama orang tua. Semua orang juga tau betapa nikmatnya nebeng orang tua: kebutuhan bulanan bisa dihemat karena namanya juga masih nebeng. Apalagi keempat orang tua kami bukan tipe orang tua yang suka mendikte. Tapi semua orang juga pasti setuju kalau setelah berkeluarga kita butuh ruang untuk tumbuh. Untuk bisa membangun keluarga sendiri. Untuk bisa lebih mematangkan karakter. Dan terlebih lagi, untuk bisa lebih mengoptimalkan pertumbuhan anak. Apalagi di awal pernikahan kami, kami tinggal berdua jauh dari keluarga, serta saya dan suami sebelum menikah pernah tinggal jauh dari orang tua. Jadi kerinduan untuk hidup mandiri pasti selalu ada. Jadi doakan kami ya..

Anyhoo, kembali ke soal pilihan hidup. Ya, kadang buat sebagian orang pilihan hidup kami mungkin agak nyeleneh. But we're simply two people who don't feel too comfortable about the so-called comfort zone. Kadang-kadang soalnya si zona nyaman ini suka mengecoh. Gaji oke, hidup sejahtera, tapi kalau masih suka mengeluh soal jam kerja yang panjang atau bos yang menindas, sebelah mana nyamannya? Buat kami, comfort zone itu bukan sekedar kepastian pemasukan dan tanggal punya duit tiap bulan. Karena kalau masih ngeluh soal kantor dan misuh-misuh soal kerjaan, itu namanya cuma pura-pura comfortable. After all, we don't want to just sit around waiting what life offers. We prefer chase the dreams, and seize our days.


Bismillahirrahmanirrahiim :)..

Silica Gel

by | | 1 comments
Tau kan silica gel? Itu loh. Yang suka ada di bungkus makanan atau pakaian, yang bentuknya bulet-bulet kecil bening. Biasanya dibungkus kertas. Fungsinya buat ngejaga biar makanan/pakaian/sepatu apapun itu ga lembab. Anyhoo, my 13 mo baby girl just swallowed some.

Reaksi pertama? Kaget. Dan panik. Saking paniknya saya sama suami sempet beberapa detik bengong-bengongan. Baru setelah itu berusaha mengeluarkan si silica gel dari mulut Aisyah. Si bayi dipegang dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki, dan saya sibuk ngorek-ngorek mulutnya. Sebisa mungkin ngeluarin silica gel yang udah masuk. Bayi yang tadinya anteng jadilah nangis kejer. Saya sempet nyuruh suami buat browsing pertolongan pertama kalo anak nelen beginian. Karena yang terbaca adalah 'bawa ke rumah sakit', pontang-panting lah kami menuju rumah sakit. Lengkap bersama Aki dan Eni yang tak kalah panik tentunya.

Sebetulnya rumah sakit yang paling deket dari rumah RS Rotinsulu. Tapi itu rumah sakit khusus paru. Ogah ah. Mau ke RS Salamun yang masih deket juga ogah. Selanjutanya ada Advent dan RSHS. Tapi kebayang bawa bayi ke UGD di dua rumah sakit itu. Kecampur sama yang sakit macem-macem, bahkan yang kecelakaan. Duh, enggak deh. Tadinya mau dibawa ke Hermina. Tapi mengingat arus balik kayanya masih seru dan lokasi Hermina yang deket pitu tol pasteur, kayanya kurang bijaksana kalau kesana. Akhirnya Aisyah dibawa ke Melinda.SOalnya dia RS Ibu dan Anak, UGD nya juga UGD anak, jadi ga bakal kecampur sama yang sakit macem-macem.

Anyhoo. Sepanjang jalan si Aki nyetirnya buru-buru gitu, kaya mau nganterin orang ngelahirin *padahal seingat saya pas nganterin saya melahirkan nyetirnya lebih santai*. Si Eni sibuk telpon kakak-adiknya yang dokter. Si Papski sibuk nyiumin Aisyah. Saya sibuk - eng - bengong. Saya mah emang suka bengong kao diantara orang-orang panik. Suka senewen bingung harus ngapain soalnya. Dan si bayi, si bayi diam-diam nundutan sampai akhirnya tertidur pulas.

Sampai rumah sakit pelayanan alhamdulillah cepat, meskipun sempet bingung kenapa UGD ditaro di lantai 2 dan susternya ngga ngeh sampai saya gedor pintu kaca. Si Aisyah sih pas ditidurin di kasur periksa, samapai dokter meriksa-meriksa pake stetoskop masih tidur teler-teler gitu. Baru ngeh pas dokter meriksa tenggorokannya pake spatula *eh bener bukan namanya spatula?*. Dia kebangun dan menangis panik, karena dia memang takut dokter. Hihi. Alhamdulillah Aisyah baik-baik aja. Pesan dokter cuma kasih banyak minum dan ASI. Dan kamipun pulang dengan lega.

Sekarang sih kalo dipikir-pikir sebenernya ga perlu sepanik itu. Kayanya silica gel yang tertelan pun nggak banyak, bahkan mungkin nggak ada yang tertelan. Tapi ya namanya orang tua ya. Apalagi saya dari kecil di doktrin kalau silica gel itu beracun. Sekarang sih saya lagi siap-siap aja, soalnya besok pagi bisa jadi kena omelan panjang lebar.

Well, yang penting Aisyah insyaAllah baik-baik saja :).

Hey, Polyvore! I'm back!

by | | 0 comments


Mint Condition.
Sept 2nd, 2010 / 1.36 am / no-sleep session.

Random.

by | | 0 comments
Malam ini saya nggak bisa tidur. Nggak tau kenapa, padahal gak ada yang penting-penting amat yang dipikirin. Mungkin karena nggak ada yang dipikirin, malah jadi ga kepengen tidur. Mejelang subuh, mendadak kangen teman lama dari jaman kuliah. Sahabat, boleh dibilang begitu.

Waktu kuliah, saya baru akrab sama si teman ini pada tahun kedua, nyaris masuk tahun ketiga. Awalnya karena satu tongkrongan, ngerasa klop, dan akhirnya jadi akrab. Yang bikin saya bisa deket sama dia adalah obrolan kami yang nyambung banget. Si teman ini, orangnya cerdas sekali. Secara akademis sih ga beda jauh sama saya, tapi dalam kesehariannya obrolannya selalu berbobot. Ngebahas apapun, selalu dalem, filosofis, dan penuh makna. Nggak cuma omong kosong. But somehow, ga jadi berat juga. Malah cenderung mengalir dan selalu diselingi ketawa-ketawa. I think that is why he's special. Dia bisa bikin obrolan yang kayanya berat, jadi ringan dan mneyenangkan, tapi nggak kosong.

Saya masih ingat cara bicaranya. Suaranya berat, cenderung 'patah-patah' dan penuh penekanan, khas batak. Dan selalu dibarengi cengiran. Perawakannya tinggi, nggak terlalu kurus, dan hampir selalu botak. Meskipun tampilannya keras, tapi orangnya nggak kasar, dan sama perempuan sangat sopan dan amalahan cenderung manis. Bukan karena ingin dapat perhatian lebih dari perempuan, tapi karena dia memang menghormati perempuan. Ya, saya ingat dia begitu menghormati perempuan. Dan saya ingat dia naksir berat sama teman dekat saya, yang sekarang jadi juragan batik.

Si teman ini, selain cerdas dan filosofis,pun jago main musik. Alat musik yang paling dikuasainya adalah gitar dan piano. Dan suaranya, suaranya kalau bernyanyi, sangat mirip suara Chris Martin. Iya, Chris Martin yang Coldplay itu. Kalau kapan-kapan saya ketemu dia lagi akan saya suruh dia nyanyi lagu 'Trouble'. Kami malah pernah bercita-cita punya album duo. He's a good music arranger too. lagu-lagu yang saya ciptakan dengan nada asal, bisa dia permak jadi enak didengar. Seenggaknya buat penyuka frente atau The Cardigans, bisa lah diterima. Tapi sayang, belum rampung kami menggubah lagu, impian itu harus bubar. Alasan klasik: skripsi. Begitulah nasib karir bermusik kami yang layu sebelum berkembang.

Agama saya, dan agama dia berbeda. Tapi bukan berarti kami tidak pernah bicara soal agama. Beberapa kali kami berdiskusi, mampir ke ranah yang namanya kepercayaan itu. Dan dalam setiap diskusi, ada gesekan disana-sini. Iyalah, namanya agamanya beda, pasti ada perbedaan pendapat. Tapi perbedaan itu nggak pernah bikin kami gontok-gontokan, apalagi sampai berniat saling membakar rumah ibadah satu sama lain. Buat kami, agama adalah daerah personal. Saya pecaya agama saya yang terbaik buat saya, dan dia percaya agama dia yang terbaik buat dia. Dan kami menghargai itu. Maka ketika sampai pada dialog yang mentok, kami sudahi percakapan dan ganti topik. Kitab suci kami beda, jelas referensinya pasti beda, jadi tak ada gunanya debat kusir.

Tidak pernah ada jalinan asmara diantara kami. Bahkan tidak pernah terpikir sedikitpun di benak saya untuk naksir sama dia. Mungkin karena dia kurang ganteng. Eh enggak, ding. Ya, mungkin karena memang saya nggak naksir aja. Terlepas dari betapa kagumnya saya sama dia dan pemikiran serta kemampuan bermusiknya, saya tidak pernah dkasih Tuhan buat punya perasaan jatuh cinta sama dia.

Terakhir ketemu si teman, saya lupa. Apa tiga tahun lalu sebelum saya menikah, atau dua tahun lalu sebelum saya hamil Aisyah. Yang pasti tempatnya di Selasar Dago. Obrolan masih seru, penuh filosofi, meskipun harus diawali dengan catching up karena saat itu sudah beberapa lama kami nggak ketemu. Saat itu kami membahas hidup yang semakin nyata, dan buku. Ya, dulu saya begitu menggilai buku. Sekarang sudah tidak gila lagi. Dulu waktu saya masih gila, si teman inilah salah satu referensi terpercaya saya.

Sayangnya, semenjak terakhir ketemu itu saya kehilangan kontak. Saya belum repot-repot mencarinya di jejaring sosial manapun. Saya punya feeling dia nggak aktif di jejaring sosial. Meskipun saya bisa membayangkan, di suatu tempat di dunia maya, dia punya blog keren yang penuh tulisan berbobot.

Anyhoo, sebetulnya mungkin kekangenan saya sama dia ga harus sedramatis ini. Sebetulnya mungkin saya tinggal tanya sama teman yang lain dan langsung bisa kontak-kontakan dan seru-seruan lagi seperti dulu. Tapi untuk sementara, biarlah jadi drama dulu. Seenggaknya sampai nanti pagi. Karena sekarang saya harus makan sahur dulu.

Anniversary Story

by | | 0 comments
So yesterday was our 2nd anniversary. Tadinya ga kepikiran mau dirayain atau tukeran kado atau apalah. Bukan karena it's just another ordinary day, tapi karena we celebrate our love everyday *tsah*. Tapi dipikir-pikir - meskipun we celebrate our love everyday - rasanya kurang gimana gitu kalo saya ga bikin sesuatu buat si suami. Akhirnya, karena waktu mepet *yah ketauan deh ga pake persiapan :P*, saya memutuskan untuk mengirimkan surprise lunch buat si suami. Seloyang kecil lasagna super lezat dari Spatula. Ada beberapa alasan sih, pertama karena setiap saya pesen lasagna Si Papski selalu ga kebagian *karena saya habiskan dalam sekejab - obviously*, kedua karena si Papski sering banget skip lunch di kantor, dan ketiga karena juragan Spatula yang baik hati mau menerima orderan mendadak. Hehe.

Malemnya pulang kerja Papski ngajakin kencan. Taelah. Ga mau bilang-bilang kemana. Saya sempet curiga mau diajak makan Indomie telor di Moko, hehe. Tapi kemudian si Papski mengarahkan motor ke salah satu pojokan Dago yang ada tulisan Blackberry nya. Katanya, "Pick your own present". Woohoo! Lasagna berhadiah handphone, hehe. Boleh pilih apa aja asal jangan Xperia, katanya. Berhubung udah ada kecengan, jadi milih-milihnya ga butuh waktu lama. Si Papaki sih sempet berkali-kali nanya apa saya ga mau BB aja. Tapi entah kenapa saya ga pernah ketularan euphoria BB. Saya ngerasa BB berlebihan buat saya. saya cuma ibu rumah tangga yang ga harus terkoneksi ke internet 24/7, pun ga se-mobile itu. Punya toko online, tapi rasanya so far masih bisa ke handle dengan nangkring didepan laptop sambil main sama Asiyah. Singkat kata sungkat cerita, pilihan jatuh ke Nokia E63. Agak jadul sih buat handphone 3G, tapi buat saya fungsinya udah cukup. Ini aja masih ngulik-ngulik agak bingung, hehe. Harganya juga ga terlalu mahal. Jadinya entar-entaran kalau pengen beli ini itu *baju baru, misalnya* gak terlalu malu hati mintanya. Trik emak-emak, hehe.

Kencan kami malam itu ditutup dengan dinner di Gianni's Resto. Kalo lagi punya duit, tempatnya recommended. Dari appetizer sampe dessert semuanya enak. Tempatnya juga cozy, strategis - di Cihampelas, tapi belum masuk kawasan macet.

Overall it was an awesome date, meskipun sempet ditelpon karena Aisyah agak ngadat. Tapi yang paling penting bukan anniversary day atau anniversary date nya. Yang terpenting adalah how we spend our life together. It's a wonderful first two years, and insyaAllah we will have more wonderful years ahead. Amin. I love you, Papski. Thank you for the journey, thank you for being the man of my life *kecups*.

Home.

by | | 0 comments
I miss cooking.
I'm sick of comments.
I miss being myself.
I miss doing things I love.
I miss having my (our) own life.
I want to raise and educate my child the way I (we) want her to be.
I miss my sanity.
I miss living my life to the fullest.

Oh but those are just little things I miss..

Kenapa Semua yang Enak-enak Itu yang Dilarang?

by | | 2 comments
DISCLAIMER:
Postingan ini akan sangat menyebalkan bagi sebagian orang. Oh ya, dan mengandung unsur SARA juga, lho.

Belakangan ini kehidupan kita diramaikan dengan berbagai fatwa haram, baik yang datang dari MUI maupun yang bukan dari MUI. Dan fatwa-fatwa haram ini menimbulkan reaksi yang cukup beragam. Ada yang langsung protes, ada yang setuju, ada pula yang nggak peduli.

Beberapa diantara fatwa yang cukup bikin heboh adalah fatwa haram foto pre-wedding dan fatwa haram rebonding. Yang lucu, begitu mendengar soal ini, berbondong-bondong lah orang protes. Bahkan gak sedikit yang menghujat MUI. Apalagi di twitter. Padahal, pertama, yang ngeluarin fatwa ini bukan MUI. Tapi sebuah pondok pesantren putri. Setelah saya baca artikel mengenai hal ini, pun yang kena fatwa haram dua hal diatas tadi hanya siswi-siswi ponpes itu. Dan kedua, kalau mau pake logika sedikit dan mengurangi emosi, kita *atau seenggaknya saya* bisa paham kenapa foto pre-wed dan rebonding diharamkan. Soal foto pre-wed, diharamkan karena banyak foto pre-wed yang pake adegan peluk cium. Lah kaga usah pake difoto aja, bersentuhan dengan non muhrim dengan syahwat sudah haram adanya kok. Jadi mungkin - mungkin lho - kalo fotonya nggak pake pegang-pegangan - sekali lagi : mungkin - gak apa-apa kali *tetep gak yakin :D*. Soal rebonding. Berhubung pengetahuan agama saya masih cetek banget, jadi ini pake mungkin juga lho yah. Mungkin yang diharamkan itu, kalau abis rebonding jadi pengen ngeliat-liatin rambut ke semua orang. Seperti kita semua ketahui, setelah rebonding memang rambut jadi terlihat indah tergerai bagai bintang iklan sunsilk, wajar kalau ada keinginan menunjukan rambut indah yang merupakan aurat peremouan itu ke semua orang. Jadi - kali ya - daripada para siswi ponpes setelah dibonding jadi pada buka jilbab pengen pamer rambut baru - ya mendingan diharamkan aja sebagai tindakan pencegahan.

Yang selanjutnya, ini heboh bener nih. Fatwa haram merokok. Yang ini bahkan lebih mengundang emosi lagi. Terutama buat yang ngerokok. Lah perokok dilarang ngerokok aja bisa ngambek, apalagi diharamkan. I know because my hubby and my daddy is perokok berat *hiksh*. Anyways. Kalau buat yang nggak ngerokok kaya saya, fine-fine aja dengan diharamkannya merokok ini. Menjadikan lingkunagn lebih bersih dan sehat toh? Tapi tentu para perokok punya dalih lain: bagaimana dengan nasib petani tembakau? Dengan nasib buruh pabrik rokok? Gimana ya ? Hehe. Kalau saya sih percaya ketika ditutup satu pintu rejeki, Allah membukakan pintu rejeki yang lain. Jadi insyaAllah akan ada rejeki yang lebih barokah buat para petani tembakau dan buruh pabrik rokok. Lagian daripada "diskusi" di smoking room sambil maki-maki fatwa haram merokok ini, gimana kalo mulai belajar berenti merokok dan mendiskusikan jalan biar petani tembakau dan buruh pabrik rokok bisa dapet jalan rejeki lain?

Anyhoo, kenapa sih orang-orang begitu gampang tersulut emosinya mengenai fatwa haram ini? Sebetulnya kalau mau lebih pake otak dan nggak pake urat, semuanya bisa kita bikin lebih enak. Kaya soal rokok ini. Sebetulnya semuanya udah tau kalo rokok nggak ada bagus-bagusnya buat badan. Apalagi buat perokok pasif. Kalau sangat sadar hal ini, sayang diri sendiri dan sayang keluarga, nggak perlu ada fatwa haram. Tinggal berenti. Susah? Saya tau susah, tapi kalau kita terus bilang "susah" ya sampai kapanpun nggak akan ada usaha. Udah usaha tapi tetep nggak bisa? Terus berusaha. Toh awalnya kita juga nggak bisa ngerokok kan? Tapi karena "usaha" jadi bisa. Kenepa kalau untuk berhenti nggak bisa? Nggak setuju sama saya? Tetep emosi karena fatwa haram merokok ini? Ya sudah, nggak usah peduli. Toh yang sudah jelas-jelas diharakan dalam al Quran - seperti minum-minuman keras - juga masih banyak yang melakukannya.

Lebih jauh lagi, sebenarnya yang bikin saya sedih adalah munculnya fatwa haram ini jadi "ladang" buat mocking MUI. Bahkan di twitter becandaan soal MUI ini pernah jadi trending topics. MUI isinya bukan orang sembarangan. Mereka adalah para ulama, yang notabene pengetahuan agamanya jauh diatas kita (saya). Ketika mereka mengeluarkan fatwa, pasti sudah melalui pemikiran panjang. Bukan hanya masalah like / dislike. Rasanya menyedihkan kalau kita - orang Islam - mocking para pemuka agama yang insyaAllah berusaha membantu kita untuk tidak melenceng dari aturan agama. Apalagi kalau kemudian para ulama ini juga jadi bahan ledekan agama lain.

Jadi nanti lagi, kalau ada fatwa haram yang memancing emosi, janganlah langsung berkoar-koar. Baiknya baca dulu baik-baik, kemudian kalau ada waktu cari refrensi mengenai hal itu, baru diskusi. Jangan lantas marah-marah. Belajar jadi orag cerdas lah kita. Saya juga masih perlu belajar banyak.