Things That Get to My Nerve

by | | 0 comments
I can be annoyed by some kinds of people. But among all, here are the top list of people who annoys me the most.

Careless people. Especially those who doesn't bother to put things back on it's place, or let everything lying around without any clue when they will tidying up. People who doesn't bother to take good care of their own stuff and other people stuff (MY stuff especially).

People who easily share cups, spoon, and even toothbrush (eeeww - I KNOW!). I grew up taught NOT to share cups or spoon (sikat gigi mah sudah barang pasti yah) for hygienic reason. Even if it's with my own parents or sibling. So at home, if I found my used cup/ glass/ mug on suspicious condition (eg. moving place), I'd rather put ini in the sink and take a new one.

Those are two types of people that often gives me headache. Just two, but may cost me serious mental disturbance :p.

Anyway, if you get really annoys with people who's grammatically ill, you might don't want to read this post at the first place.

Mimpi-mimpi Luar Negeri

by | | 0 comments
I used to believe that I have wings to fly around the world.

Acara beberes dalam rangka pindahan beberapa minggu kemarin menguak banyak hal dari taun-taun saya kebelakang. Salah satunya adalah tumpukan prospektus program master beberapa perguruan tinggi di luar negeri. Ternyata mimpi saya buat ambil master di luar negeri pernah sebesar itu. Sekolah dan tinggal di luar negeri adalah satu dari banyak mimpi yang saya hampir lupa.

Pikiran saya lalu terseret lebih jauh lagi ke masa kecil. Ternyata dari kecil saya memang sudah ingin ke luar negeri. Kalau waktu kecil, tentu cita-citanya adalah untuk berlibur. Saya kemudian teringat, kalau saya pernah berikrar akan ke Maroko sebelum saya menikah. Tapi belum kesampaian. Dan mimpi berlibur ke luar negeri - yang buat sebagian orang mungkin kegiatan sehari-hari - sudah perlahan saya lupakan.

Apa yang membuat saya (tak sengaja) melupakan mimpi-mimpi luar negeri saya? Saya rasa turning point yang paling mempengaruhi adalah menikah dan punya anak. Sejak berumah tangga, pikiran dan tubuh saya lebih domesticated. Jangankan memikirkan sekolah lagi, kerja kantoran saja sudah tidak mau. Saya berfikir, sayang, waktu yang sekian banyak saya habiskan di luar lebih baik untuk mengurus dan menyaksikan anak-anak bertumbuh.

Liburan ke luar negeri tentu masih bisa dilakukan. Hanya pastinya effort untuk menabung harus 4x lipat, karena keluarga kecil kami sekarang berjumlah empat orang. Liburan berdua saja atau pergi sendiri bersama teman-teman? Belum tega meninggalkan bocah-bocah yang masih balita. Tidak tega merepotkan orang rumah dengan menitipkan mereka berhari-hari. Saya ingat, waktu kuliah, saya bersama beberapa teman dekat berikrar akan liburan bersama ke Hong Kong tahun 2010. Tapi itupun belum terwujud. Mungkin karena saat itu rata-rata kami baru menikah dan baru punya bayi. Jadi belum tega untuk pergi bersenang-senang dan berlibur tanpa keluarga.

Bukan, saya bukan menyalahkan pernikahan untuk mimpi-mimpi saya yang terlupakan. Karena saya tidak merasa terpenjara atau terkekang, apalagi merasa terpaksa harus membunuh mimpi-mimpi luar negeri saya. Tapi memang manusia punya satu turning point dalam setiap hidupnya. From an old someone, to a new someone. Perubahan yang bisa menjadi lebih baik, atau menjadi lebih buruk.

Dan mimpi-mimpi luar negeri saya sekarang sudah di pak rapi di dalam kardus coklat. Menunggu untuk diwujudkan, atau sama sekali dilupakan.

Typical Saturday Night

by | | 0 comments
Sebagai emak bapak dengan dua anak balita, jarang sekali malam minggu kami pergi berkencan atau jalan-jalan keluar. Biasanya kami menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang isu-isu internasional. Seperti malam ini.

Saya: Pap, ntar nonton Running Man yang episode Kim Jong Il ya?
Suami: Hah? Ada?
Saya: Eh Park Ji Sung maksudnya. Hahaha. Tapi kebayang ya kalau ada episode itu..
Suami: Ya ga mungkin juga, udah meninggal Kim Jong Il nya..
Saya: Kalau anaknya Kim Jong Il siapa namanya?
Suami: Heum? *pasang tampang I-know-where-this-is-going*
Saya: Kim Jong San, hahahah..
Suami: *palmface*
Saya: Kim Jong Il punya kembaran, tauk.. Namanya siapa ayoooooo..
Suami: *pura-pura ga denger*
Saya: Kim Jong Sik, hahahahaha..
Suami: ....

Krik krik krik.

Cheerleader

by | | 0 comments
I am a natural born cynical person, never fails to find negative comments on everything, hard to please, and you'll rarely find me cheer people up with words I don't really mean to say (a.k.a ugly in basa-basi thingy).

But as a wife and a mother of two, I should practicing more on being a positively happy supportive cheerful person.

I might considering making cheerleaders as my role model. Therefore, I can be a new me: cheerful and supportive while I still can keep my old annoying bitchy me.

Oh I'm so full of sh*t. LOLs.

'Photos from your phone' is a part of Google+ for Android and iPhone. Download now.

by | | 0 comments
Yet I'm stuck with Windows Phone.Ohkay.

Nevermind

by | | 0 comments
Some people tends to insist on living in their own world inside their heads. With constantly inconsistence consistency, and doesn't give a f*$k about anything else. About anything that doesn't suit them, anything that doesn't mean that much to them. Sad, because they never try to see it on anither perspective. And don't expect them to try to put their feet on someone else's shoes.

This world, my friend, is full with ignorant, careless people.

But nevermind. Let it be my problem and not yours.

Mendadak Skin Care

by | | 0 comments
Ahoy. Udah lama ga nongol. Ini gara-gara ga pede sama penampilan wajah belakangan ini *alesan*. Hahaha..

Eh tapi beneran, sih, udah beberapa minggu ini kalo ngaca ga suka banget liat muka. Bukan sama bentuknya, kalau bentuknya mah alhamdulillah gitu-gitu aja dari dulu, ga mengecewakan. Tapi sama tone dan kondisi kulitnya itu loh. Ya kulit muka saya emang ga pernah putih-putih amat(dan ga pengen jadi putih kaya di iklan kosmetik juga, sih), tapi belakangan ini kulit muka bener-bener kusem, gampang berminyak, bruntusan, dan komedo yang mayan ganggua. Iyuh. Kalau difoto setelah beraktifitas pasti hasilnya butut karena muka sangatlah greasy plus warna kulit yang kusem se kusem-kusemnya.

Kekuseman muka ini emang masalah yang come and go. Tapi kayanya ga pernah separah ini. Emang sih semenjak punya anak dua kerasa banget perwatan wajah terlupakan. Kalau dulu masih sempetlah maskeran minmal dua minggu sekali. Sekarang mah boro-boro. Kalau ga kemana-mana pakai pelembab pun tak pernah, apalagi bedakan. Diperparah lagi sama masalah klasik angkoters dan motoris yaitu kena ekspose sinar matahari dan debu yang berpotensi menyumbat pori-pori.

Perawatan muka selama ini memang saya akui minimal banget cuma pake sabun pembersih dan pelembab, plus bedak tabur. Sangat tidak melindungi, memang. Oiya sempet pake masker Saripohatji. Mayan ngefek sih karena sempat pake selama 2-3 kali, dan keliatan kulit muka jadi lebih kenyal dan bruntusan di jidat berkurang. Tapi ya itu tea, kadang suka males sibuk gitu deh, jadi ga sempet buat nyeduh maskernya dan ngolesin ke muka. Jaman-jaman gadis dan awal nikah sempat menjadi pasien setianya dr. Rasmia yang praktek di Cibadak. Tapi berenti. Bukan karena ga cocok (cocok banget malah) atau karena bikin bangkrut (biayanya dibawah rata-rata dokter kulit terkemuka di Bandung), tapi karena kalau mau kontrol daftarnya harus 2 hari sebelumnya dan ngantrinya tetep berjam-jam. Ga ada waktu deh kalau udah punya dua anak begini.

Anyhoo, akhirnya demi kemaslahatan bersama mulailah saya brosang-brosing cari skincare yang sekiranya pas di wajah dan cocok di kantong. Pokoknya keywordnya: buat kulit kombinasi berminyak, ga bikin muka mengkilat, teksturnya ringan, dan kalau bisa dibawah 100rb harganya. Hey jangan kau kira aku tak mau pakai merk lokal (secara merk lokal mah hampir pasti harganya dibawah 100rb),tapi dari mulai Olay (anggap aja merk lokal lah ya), Sariayu, sampai Gizi Super Cream gak ada yang memberikan efek yang signifikan. Cocok sih cocok aja, ga bikin jerawatan dsb, tapi ke muka juga nggak ngefek. Minyak tetep, cakep kagak. Pengen nyoba SK II tapi takut. Takut cocok, terus ga mampu beli, terus ngebatin. Hihihi. Untungnya setelah browsing sana-sini dang ngobrol-ngobrol, nemu Kiehl's. Tekad sudah bulat dan kayaknya hati cocok sama Kiehl's, sayapun mampir ke tokonya. Saya disaranin pake yang Ultra Facial Oil Free yang di jar biru. Harganya yah mayan mahal, sih, 290rb. Tapi mengingat harga segitu bisa dipake buat 4-5 bulan, ya udahlah yah. Sebenernya sih disaranin buat pake complete range nya (face wash dan toner juga). Tapi berhubung ceritanya mau nyobain dulu, jadi ambil moisturiser gelnya dulu. Pulangnya dikasih sample sabun muka dan BB Cream yang ada SPF 50/ PA +++ nya. Ihiy.

Setelah tiga hari nyoba, memuaskan nih hasilnya. Alhamdulillah, yah. Muka jadi ga terlalu berminyak padahal seperti biasa disiksa dengan debu dan panas matahari. Cuma emang sih buat mengenyahkan kekusaman wajah perlu perawatan yang lebih komplet. Jadi, selain sepertinya akan mengaktifkan kembali Saripohatji, pun berencana membeli beberapa produk perawatan lain kayak si Cure Natural Aqua apalah itu yang berfungsi buat exfoliating dan sunscreen tentunya! Cuma sunscreen masih bingung pake apa, pengennya sih make yang SPF 50 sekalian, tapi takut oily jadinya. Tertarik sih sama Skin Aqua dan sunscreennya L'Oreal. Tapi Skin Aqua di botolnya tertulis moisturiser. Masa nanti jadi dobel pake moisturisernya? Sementara si L'Oreal katanya mengandung paraben. Serem ah. Oiya si sampel BB Cream dari Kiehl's itu udah dicoba sih, dan enakeuuuunnnnn.. Tapi harganya 550rb aja. Mikir-mikir dulu, deh. Kemarin aja si suami pas dikasi tau harga moiturisernya meskipun bilang "Nggak apa-apa", tapi mimiknya memunjukan, "Apaaaahhhh?! Moisturser seharga sepatuuuuuu?!". Hahaha. Selain itu juga masih mikir-mikir sih buat pake BB Cream. Meskipun BB Cream Kiehl's yang ada SPF 50 nya ini ringan, tapi tetep aja di bayangan saya BB Cream itu kaya foundation karena tinted. Jadi buat sehari-hari kayaknya terlalu repot berat. Atau kalau pun mau coba mungkin akan mencoba merk Korea atau merk lokal yang lebih murside.

Bulan depan sih kalau punya duit pengen mulai mengkoleksi skincare yang lengkap. Biar makin ketje dan yang pasti kulit sehat. Mungkin bisa dimulai dengan membeli produk sampel yang dijual di online stores. Doakan sakseus yah. Kalau kamu, skin care yang kamu pakai apa aja? Mungkin bisa dibagi pengalamannya :D..

'Standar Ganda' untuk Warga Negara Kelas Dua

by | | 0 comments
Sudah lama sebenarnya menyimpan unek-unek ini, tapi baru kepikiran buat di posting di blog sekarang. Ini pengalaman pribadi yang mungkin bayak dirasakan orang lain. Penderitaannya memang gak seberapa, tapi kalau ditumpuk-tumpuk bikin ngebatin juga.

Sehari-hari saya berkegiatan, selain naik angkot (atau sesekali naik taksi kalau bawa barang banyak dan sama anak-anak), saya juga sering diantar sisuami naik motor. Selama tidak hujan bada(g)i dan matahari tidak terlalu menyengat, motor merupakan moda transportasi favorit saya. Selain bisa lebih cepat sampai tujuan, hemat bahan bakar, pun nggak susah cari parkir.

Eh, ga susah cari parkir? Belum tentu.

Di era dimana sepeda motor merajai jalanan Indonesia ini *tsah* tetep aja sih susah cari parkir, apalagi kalau ke mall di senja yang cerah pada akhir pekan, atau ke pasar baru. Padahal semua motor diparkir dengan standar ganda. Yaitu standar dua pada motor yang menyebabkan motor parkirnya bisa tegak dan tidak miring sehingga tidak memakan tempat banyak (kalau masih nggak mudeng, sila lihat foto di bawah ini).

Contoh Parkir Standar Ganda (bukan motor saya)


Cuma ya saya nggak mau ngomel soal susah cari parkir, itu sih udah resiko pergi ke tempat yang banyak pengunjungnya. Yang mau saya keluhkan adalah kondisi parkiran motor yang di sebagian besar pusat perbelanjaan yang 'kurang manusiawi'.

Tipe parkiran motor kurang manusiawi pertama adalah parkiran di pusat perbelanjaan besar dan letaknya outdoor. Yang menyebabkan kalau matahari panas terik, saat naik bokong serasa disetrika dan saat habis hujan jok menjadi basah kuyup. Belum kalau lupa ninggalin helm dalam keadaan bagian lubang kepala menghadap keatas. Wassalam. Belum cukup sampai disitu, letak dari parkiran motor ke pintu masuk pertokoan amat sangatlah jauhnya. Sehingga saat masuk dan keluar pertokoan, rasanya habis bolak-balik dari Safa ke Marwah.

Tipe parkiran motor kurang manusiawi yang kedua adalah parkiran di basement paling bawah. Itupun kadang lahannya cuma sedikit. Yang paling mengganggu dari parkiran motor di lantai basement paling bawah adalah panas dan pengap. Kondisi ini sangat menyiksa saat antri keluar parkiran. Saat 'peak time' keluar parkiran, antri keluar motor bisa 15 menit sampai setengah jam sendiri. Iya, selama itu. Karena kalau mau keluar parkir motor biasanya ada upacara periksa STNK. Mending kalau parkiran di basement tapi pemeriksaan tiketnya di lantai atas, atau aksesnya dekat jalan menuju ke lantai atas (apa itu jalan nanjak yang meliuk-liuk di parkiran namanya saya nggak tau). Tapi coba bayangkan kalau pemeriksaan tiketnya disitu-situ juga dan tempatnya nun jauh di pojok jauh dari akses jalan keluar. Dalam kondisi minim ventilasi ada dua puluh atau tiga puluh motor yang antri keluar dengan mesin menyala, berapa banyak racun yang terisap paru-paru kita? Dan bayangkan juga petugas tiket parkir yang seharian bekerja disitu, berapa banyak racun yang mereka isap setiap hari?

Kenapa tidak ditukar saja sebagian parkir mobil tidak dipindah outdoor dan parkir motor dipindah kedalam? Tidak terlalu masalah rasanya mobil diparkir di luar. Kenapa parkir motor tidak ditaruh di parkiran basement paling atas? Kalaupun mobil harus mengantri lama saat keluar parkiran, tidak akan terlalu banyak racun yang dihisap karena bisa tutup jendela dan nyalakan AC.

Permasalahan lain adalah tarif parkir motor yang nggak masuk akal. Tarif parkir motor di tempat parkir mall rata-rata Rp. 1.000/jam, sementara tarif parkir mobil Rp. 2.000,-/jam. Ada yang bisa jelaskan kenapa tarif parkir motor (yang satu motor ga makan tempat sampai setengah parkir satu mobil) bisa setengah tarif parkir mobil? Tarif segitu pun tidak menjamin helm kamu tidak hilang kalau tidak dititipkan di penitipan. Menitipkan helm pun harus bayar lagi Rp. 500,- sampai Rp. 1.000,- per helm. Rasanya seperti dipaksa menitipkan ya, karena tentu saja manajemen nggak mau tanggung jawab kalau helm nggak dititipin terus hilang. Kenapa nggak ada yang punya ide menerapkan tarif parkir yang sudah termasuk tarif penitipan? Semua yang naik motor pasti pake helm, dan pasti nggak ada yang mau helmnya hilang saat parkir. Selain itu manajemen juga bisa menghindari guntreng buang-buang energi saat ada yang kehilangan helm di parkiran karena tidak dititipkan. Tapi ya tentu, kalau bisa, tarifnya yang masuk diakal. Kalau bisa.

Hal lain yang suka bikin ngebatin di parkiran motor (terutama di mall)adalah, kalau kamu bukan Eneng-eneng geulis, belum tentu petugas parkir mau membantumu memundurkan motor padahal mereka jelas melihat kamu ugal-ugil mundurin motor dari parkiran yang sempit.
Untuk yang satu ini saya acungin jempol buat penjaga parkiran motor di depan pasar baru yang perkasa mengangkat motor bebek yang terparkir dan terkunci, untuk memberikan jalan keluar untuk motor yang mau keluar parkiran.

Postingan diatas mungkin cuma omelan emak-emak yang sulit dimengerti oleh kamu yang sudah kaya semenjak lahir sehingga belum pernah sekalipun nyobain parkir motor di pusat keramaian. Tapi percayalah, ini adalah - sekali lagi - hal-hal kecil yang kalau lama-lama dikumpulin jadi bikin spaneng dan membuat saya merasa pengguna motor diperlakukan seperti warga negara kelas dua.
Satu hal lagi, di tempat parkir motor sering ada tulisan "Parkir Sepeda Motor Gunakan Standar Ganda". Dan saat melihat motor gede yang terparkir manis di tempat 'istimewa' di dekat kantor security, terlintaslah di benak saya. Standar ganda, indeed.

Kakaren Craftydays 7

by | | 0 comments
I was always an (amateur) crafter inside. Jadi ketika Tobucil mengadakan Craftydays yang ke-7 bulan ini, sudah barang tentu itu menjadi event yang paling saya tunggu-tunggu.

Jadilah kemarin saya berangkat ke Gedung Indonesia Menggugat dengan dibonceng sang suami naik Supra X kesayangan. Super excited karena selain mau lihat-lihat belanja karya crafter yang kece-kece, juga mau ikutan kelas membuat aksesoris dari kain perca yang dipandu oleh Dwaya Manikam.

Pertama dateng langsung masuk ke ruang workshop karena sudah telat 20 menitan. Di workshop bikin aksesoris ini diajarin bikin kalung dari perca batik dan manik-manik. I love doing this because it involves many kecosans and - in a weird but good way - ngecos makes me feel serene and calm. Ibaratnya satu kecosan membuang satu masalah dalam hidup. I could call it 'kecos therapy' *halah*.



Anyway, cerita sedikit soal Dwaya Manikam yang ngadain workshop ini, adalah sebuah organisasi yang memberdayakan ibu-ibu di daerah Cicadas untuk membuat aneka aksesoris dari perca. Dan hebatnya, aksesoris bikinan ibu-ibu ini sudah tersebar hampir ke seluruh penjuru Indonesia. Keren, ya. Gerakan yang sangat inspirasional dan patut ditiru.

Saya menikmati sekali sesi workshop ini. Waktu yang dikasih sebenernya cukup lama, 2 jam, tapi rasanya bentar banget. Dan inilah kalung hasil karya saya, belum terlalu rapi, sih. Tapi mayan lah buat pemula yang baru pertama kali bikin kalung dari kain perca.



Lanjut. Selesai workshop tentunya saya langsung ke main attraction dari acara Craftydays ini. Apalagi kalau bukan bazaar barang-barang kerajinan angan. Woohoo! Muter-muter dan sungguh barieukeun sekali. Apa itu barieukeun? Silakan lihat di kamus Basa Sunda :p. Anyhoo, muter-muter memang ga afdol tanpa belanja. Dan inilah hasil belanjaan saya kemarin:



Ada empat gulung benang rajut yang masing-masing harganya Rp. 6000,- (aslinya 10rb, tapi didiskon 40%), sabun susu kambing dan patchouli pack dari Moloka (16rb, 18rb, dan 12rb), boneka kaos kaki yang adagantungan kuncinya dari Nay Gadabra seharga Rp. 15.000,-, dan boneka gajah perca batik (yang sayangnya saya lupa bnama penjualnya) yang harganya Rp. 10.000,-. Total jenderal belanjaan saya kemarin Rp. 95.000,-. Lumayan yah. Tadinya pengen dompet buat tempat nyimpen peralatan perang dari Cemprut. Tapi sayang ga bawa duit lebih, hahaha.

Anyway, hasil belanjaan favorit saya adalah si boneka gajah ini:



Boneka rapi dan lucu begini (yang sayangnya saya lupa merknya apa) harganya hanya Rp. 10.000,- saja! Kalau sendiri bikin juga effortnya lebih dari itu kali. Dan si gajah ini dengan segera juga menjadi favorit Rafa yang memainkannya dengan gembira begitu saya sampai rumah.

Selesai muter-muter, mampir di kantinnya buat menikmati ayam asap Bin Ukon. Saya pesen ayam asap dengan side dish kentang yang dikasih bumbu herbs, kimchi, dan dikasih saus putih plus semacam sambal bangkok. Menu seharga 20rb ini disajikan sebagai cold dish and surprisingly very very delicious. Surprisingly karena saya kebayangnya ayam asap itu enaknya dimakan anget-anget. Ternyata dimakan dingin juga yummeh.



Oiya sambil menikmati si ayam asap, saya juga dihibur oleh penampilan dari musisi yang tampil d musik sore *TETOT. Mengulang kata: tampil*. Dilanjut menyimak craftpreuneur forum yang dipandu oleh Kak Tarlen (berbaju fuschia-hitam) yang lumayan meringankan beban saya karena ternyata cuma bisa berkarya maksimal saat lagi mood itu NORMAL. Lega. Hahaha.



Karena sudah sore, selesai acara forum saya memutuskan buat pulang. Sebenernya si suami sudah otw menjemput, tapi karena merasa sayang untuk menyia-nyiakan cuaca Bandung yang endes bendes sore itu, saya pun memutuskan menunggu suami sambil berjalan menyusuri Jalan Wastu Kantjana. Jalan kaki di tengah kota Bandung yang sudah lama sekali tidak saya lakukan itupun berujung di tukang baso ceker yang mangkal di bawah jembartan penebrangan di depan Masjid Al Ukhuwah, sekaligus menjadi meeting point dengan sisuami.

Well, that was an awesome day. Thank you Tobucil for having such a kewl event. Langsung memutuskan, tahun depan harus bisa gabung jadi peserta di Craftydays 8 :).




Repot Sekali

by | | 2 comments
Nyahahaha. Itu judul posting menyebarkan negative aura yah? Tapi ya emang itu sih yang saya rasakan selama beberapa hari ini saat booking tiket kereta api.

Jadi insyaAllah bulan depan merencanakan jalan-jalan naik kereta api untuk mengunjungi om di Solo. Sekalian ke Borobudur lah. Soalnya di usia saya yang ke 19 jalan (jalannya mayan jauh, sih, kayak dari Dago ke Maribaya) ini, saya belum pernah ke Borobudur. Anyway, ya udah, karena tau bisa pesen tiket lewat website PT. KAI, maka saya memutuskan pesen tiket lewat internet aja. Praktis, ga usah pake ngantri, ga makan waktu lama. Kirain begitu. Taunyaaaaa, pas pertama kali nyoba pesen tiket via web,ribet juga. Di tanggal yang dipilih katanya sudah tidak tersedia tiket, begitu pula sehari sebelumnya. Sempet gak curiga, sih, karena tanggal yang dipilih ini long weekend. Akhirnya milih sehari setelahnya. Pesan tiket berhasil sampai tahap oke dengan data dan pilih seat lalu... error. Nyoba sampai tiga kali. Tetep gagal. Mayan nyebelin sih. Karena harus ngulang milih tanggal, tujuan, ngisi data dan no KTP.. Sempet nyoba via tiketdotkom juga, tapi sama error jugak. Akhirnya menyerah.

Besoknya sisuami pun memutuskan untuk pergi ke statsiun, ke pusat reservasi. Waktu itu dia sore sekitar jam 4an kesana. Pas ambil nomer antrian... Jengjreng... Ngantrinya masih 160 orang lagi. Nyahahahaha. Sanes antosaneun. Sempet kepikiran beli di kantor pos atau Indomaret, sih. Tapi kalau di web resmi PT. KAI nya error mulu, apalagi via agen.

Malamnya saya coba telp ke 121. Karena menurut website PT. KAi bisa juga pesan tiket via call center. Tapi ndak bisa nyambung. Disuruh nunggu terus. Kata Mbaknya, "Mohon maaf telah membuat Anda menunggu. Telepon Anda penting bagi kami. Saat ini operator kami sedang berbicara dengan pelanggan lain". Ya ampun, Mbak, kalau saya penting harusnya diangkat atuh, Mbak. Katanya saya penting, tapi malah ngobrol sama pelanggan lain. Itu tuh ibarat seorang pacar yang bilang, "Kamu tuh pacar aku yang sangat penting buatku, tapi sebentar ya, aku lagi nelpon pacarku yang lain".

ANYWAYYYYY..

Ya udah karena gagal lewat telpon, hari ini saya mencoba datang ke pusat reservasi lagi. Siapa tau lebih beruntung. Lebih beruntung dari suami saya, sih. Karena di antrian saya cuma nunggu 50 orang ajah. Nah, sambil nunggu, saya iseng nyoba beli tiket via web PT. KAI lagi. Eh ternyata bisa, loh. Dan ternyata tiket di hari yang dipilih masih ada, nggak abis kaya pas saya nyoba sehari sebelumnya. Tiket secured, tinggal transfer. Mungkin pas kemaren itu lupa bilang bismillah. Hahaha.

Etapi ternyata permasalah masih ada. Pas mau transfer, muter-muter stasiun taunya gak ada ATM bank saya. Sementara kalau dari ATM Bersama nggak bisa transfer/ bayar. Akhirnya nemu ATM bank saya daaaannnnn... Ga ada loh menu 'bayar tiket kereta api'. Saya nyoba brosing di web PT. KAI, siapa tau ada petunjuk cara membayar, atau kode perusahaan buat transfer dari bank. Kagak ada. Akhirnya nemu cara transfer dan kode PT. KAI dari blog seseorang. Alhamdulillah bisa. Ya Mbok PT. KAI itu menyertakan cara pembayaran tiket yang lengkap gituloh di webnya.

Nah tiket sudah dipesan dan dibayar. Tinggal tunggu hari H. This is gonna be first long trip on train with a baby and a toddler. Cihuy!